“Allah yang terkasih. Apakah anak laki-laki lebih baik dari anak perempuan? Aku tahu Engkau adalah laki-laki, tapi cobalah bersikap adil.”
Permohonan dari seorang anak perempuan bernama Sylvia, yang tercantum dalam buku Children’s Letters to God (Surat Anak-anak untuk Allah), ini mengungkapkan apa yang diidentifikasi oleh Suster Antoinette Gutzler MM sebagai “inti” dari pertemuan para uskup Asia tentang perempuan yang diadakan baru-baru ini di Thailand.
“Kalimat tajam dari Sylvia — ‘tapi cobalah bersikap adil’ — menunjuk pada kesulitan pemberian kesempatan kepada perempuan untuk mengambil tempat yang tepat dalam Gereja, sebuah kesulitan dan tidak adanya pengakuan dalam banyak dokumen dari Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC, Federasi Konferensi-konferensi Waligereja Asia),” kata teolog perempuan itu dalam presentasinya.
Suster Gutzler, seorang misionaris yang berkarya di Taiwan, berbicara tentang Gender in the Context of Church Documents (gender dalam konteks dokumen-dokumen Gereja) ketika menyampaikan sambutan pada pertemuan itu, 15 Mei.
Sebanyak 13 perempuan, 10 uskup, dan dua imam dari Filipina, Hong Kong, India, Indonesia, Taiwan, dan Thailand menghadiri pertemuan 12-16 Mei itu di Redemptorist Centre di Pattaya, 100 kilometer tenggara Bangkok. Tema pertemuan, “Uskup: Pesan Pengharapan” Para Uskup, Kaum Perempuan, Injil, dan Persekutuan, itu diilhami oleh Pastores Gregis (gembala para kawanan), seruan apostolik 2003 dari Paus Yohanes Paulus II yang menyampaikan hasil sidang Sinode Para Uskup tentang pelayanan uskup.
Seksi Perempuan dari Kantor Kerasulan Awam dan Keluarga (KKAK) FABC mengorganisasi pertemuan itu bersama Kantor Urusan Teologi FABC.
Menurut Uskup Agung Trivandrum Mgr Maria Calist Soosa Pakiam, ketua KKAK, pertemuan itu memiliki dua sasaran utama selain mengulas kembali status gerakan-gerakan perempuan dalam Gereja di Asia. Pertemuan itu juga bertujuan untuk membantu para uskup lebih menghargai kontribusi perempuan dan kontribusi para teolog perempuan dalam kehidupan dan misi Gereja, dan membantu Gereja di Asia menegakkan martabat perempuan dengan mendorong peran mereka dalam kehidupan Gereja, termasuk kehidupan intelektual, kata prelatus asal India itu kepada UCA News.
Suster Anicia Co RVM asal Filipina, yang berbicara tentang Discerning the Voices from Women’s Experiences (mengenal suara-suara dari pengalaman-pengalaman perempuan) pada 14 Mei, mengatakan kepada UCA News bahwa sensitivitas dokumen-dokumen Gereja terhadap isu-isu dan keprihatinan perempuan memberi harapan. Biarawati itu menyebut Ecclesia in Asia (Gereja di Asia), seruan apostolik 1999 dari Paus Yohanes Paulus yang berdasarkan pada Sinode untuk Asia tahun 1998. Seruan apostolik ini “disampaikan kepada komunitas Kristen agar menjadi persekutuan kaum perempuan dalam perjuangan mereka melawan segala bentuk ketidakadilan dan penindasan,” kata pemimpin St. Mary’s College di Quezon City, dekat Manila, itu.
Namun Suster Gutzler kurang senang dengan dokumen-dokumen yang dikeluarkan para uskup Asia. Biarawati yang menyandang gelar doktor bidang teologi dan berkarya sebagai dosen di Fu Jen Catholic University di luar Taipei, itu mengatakan bahwa dokumen FABC, The Spirit at Work in Asia Today (1997), menganggap pria memiliki privilese dalam Kitab Suci.
“Tidak disebutkan bahwa perempuan menjadi penguasa, hakim, nabi, murid, rasul, dan pemimpin rumah ibadat, meskipun perempuan ada tertulis di sana,” ia menegaskan dalam presentasinya.
Virginia Saldanha, ketua Seksi Perempuan KKAK, mengatakan hal senada kepada UCA News, “Perempuan memberi kontribusi kepada Gereja, tetapi kita tidak melihat mereka.”
Seraya menyebut bahwa hanya 10 uskup dari tiga negara yang menghadiri pertemuan itu, ia mengatakan bahwa “karakter feminis” dari pertemuan itu bisa menolak peserta yang berpotensi. Uskup Imus (Filipina) Mgr Luis Tagle mengatakan kepada UCA News bahwa ia men-sharing-kan hal tersebut.
Saldanha mengakui bahwa sejumlah teolog perempuan pada pertemuan itu melihat kesulitan dalam istilah “teologi feminis,” yang digunakan banyak rekan-rekannya. Konsep yang berasal dari Barat ini menimbulkan “konotasi buruk sejak 1970-an,” katanya mengamati.
Suster Co mengatakan, “Di Asia, kita masih perlu mencari satu istilah umum yang bisa menyebut secara tepat upaya-upaya dan kegiatan-kegiatan kita untuk mewujudkan visi kita akan kepenuhan hidup perempuan.”
Selain terminologi, Suster Gutzler menekankan dalam presentasinya bahwa perempuan mengharapkan tanggung jawab yang signifikan dalam pelayanan dan proses pembuatan keputusan dalam Gereja.
Selama diskusi, peserta juga merekomendasikan bacaan Kitab Suci “dengan pandangan baru.”
END