Gereja Katolik di Timor Timur tengah membantu pemerintah mendorong ribuan orang yang meninggalkan rumah mereka karena rasa takut akan kekerasan untuk pulang ke rumah sekarang.
Pada Misa 15 Mei untuk 2.000 pengungsi yang tengah mempersiapkan kepulangan mereka dalam beberapa hari mendatang, Uskup Dili Mgr Alberto Ricardo da Silva mengatakan, “Gereja selalu siap bekerja sama dengan pemerintah untuk mengatasi masalah IDP (internally displaced people).”
Ketua Parlemen Fernando de Araujo, anggota parlemen lainnya, dan pejabat pemerintah menghadiri Misa di Taman Bunda Maria dari Fatima, sebuah taman umum dekat pelabuhan Dili, itu.
Para pengungsi telah menjadi pusat perhatian karena 100.000 orang mencari keselamatan akibat adanya kekerasan kelompok yang terjadi 2006 dan yang menewaskan sedikitnya 20 orang. Kekerasan ini muncul setelah terjadi perselisihan di dalam angkatan bersenjata. Sekitar 60.000 orang masih tinggal di kamp-kamp pengungsian, banyak di antaranya di lahan milik Gereja, di seluruh wilayah ibukota itu.
Menurut data terakhir dari Departemen Solidaritas Sosial, sekitar 10.000 pengungsi telah menerima kompensasi dari pemerintah dan pulang ke rumah sejak Januari.
Timor Timur yang miskin telah berjuang melawan kekacauan politik dan kekerasan sejak merdeka tahun 2002, setelah lebih dari tiga dekade berada di bawah pemerintahan Indonesia dan lebih dari tiga abad sebelumnya menjadi koloni Portugis. Sekarang pemerintah berusaha membersihkan kamp-kamp pengungsian.
Saat Misa, Uskup da Silva mengatakan kepada para pengungsi bahwa masalah mereka bukan hanya menjadi perhatian pemerintah tetapi juga keprihatinan Gereja, “karena kalian bukan hanya warga negara tetapi juga anak-anak Allah.”
Pemimpin Gereja itu mengatakan, ia meminta semua pengungsi di kamp-kamp pengungsian untuk memutuskan pulang dan melanjutkan kehidupan mereka. “Sudah dua tahun kalian tinggal di tenda, dan sekarang saatnya pulang dan melanjutkan kehidupan normal kalian sebagai manusia, warga negara, dan anak-anak Allah,” katanya.
Uskup da Silva juga mendesak para pengungsi untuk menolak kekerasan dan kebencian, dan memulihkan perdamaian.
Seusai Misa, de Araujo mengatakan kepada para pengungsi bahwa pemerintah akan menjamin keamanan mereka. “Tidak akan ada kelompok-kelompok atau individu-individu yang tidak bertanggung jawab yang akan mengintimidasi kalian, dan pemerintah akan melindungi kalian,” tegas ketua parlemen itu.
Ia juga berterima kasih kepada Gereja atas dukungan dan upayanya untuk membantu membangun negeri itu. Jika kamp-kamp pengungsian sudah kosong, lanjutnya, pemerintah bisa lebih memfokuskan pembangunan nasional.
Leopoldino Pinto mengatakan kepada UCA News pada acara itu bahwa ia senang bisa pulang ke rumah dan membangun kembali kehidupannya dengan kompensasi yang diterimanya dari pemerintah, sekitar US$4,000. Menurut ayah dari empat anak itu, pemerintah memberi US$4,000 untuk keluarga-keluarga yang rumahnya habis terbakar seperti rumah miliknya, dan US$1,500 untuk rumah-rumah yang mengalami kerusakan.
“Saya ingin berterima kasih kepada Gereja dan pemerintah yang telah mencarikan cara sehingga kami bisa pulang ke rumah,” katanya.
Maria dos Santos, 37, merasa gembira akhirnya mendapat kesempatan untuk pulang ke rumah. “Saya dan keluarga saya telah memimpikan hidup damai di rumah kami,” katanya. “Mimpi ini akan segera terwujud.”
END