Sebuah komunitas di Filipina bagian selatan merasakan manfaat dari banyak program pembangunan sejak penduduk beragama Katolik dan Islam mulai bersama-sama mengupayakan perdamaian dan persatuan, kata seorang tokoh awam.
Julieta Sarcol mengatakan, rekan-rekannya yang beragama Katolik berhubungan baik dengan tetangga mereka yang beragama Islam di Darong, bekas komunitas mereka yang rawan kekerasan di Santa Cruz, sebuah kota di Propinsi Davao Del Sur, 990 kilometer tenggara Manila.
Berbicara dengan UCA News 19 Mei, pemimpin Komunitas Basis Gerejani itu melaporkan bahwa 657 keluarga Katolik dan Muslim yang tinggal di Darong telah belajar hidup bersama dan menerima perbedaan budaya mereka.
Tahun 1980-an, konflik bersenjata antara pemerintah Filipina dan kelompok Front Pembebasan Nasional Moro (MNFL, Moro National Liberation Front) menimbulkan “rasa takut dan tidak nyaman” di kalangan penduduk Darong, kata Sarcol.
Sulaika Balalay, seorang warga Muslim di Darong, mengatakan bahwa komunitas itu dulu “hancur total,” seperti ketika ia melihat “perusakan” rumah-rumah dan penduduk “mengungsi untuk menyelamatkan diri.”
Oleh karena kelompok-kelompok pemberontak itu, “saya dulu berpikir bahwa warga Muslim adalah pengkhianat dan orang-orang yang menjijikkan,” kata Sarcol mengakui.
Mantan komandan MNLF, Salic Ibrahim, mengatakan hal senada kepada UCA News. Dikatakan, ia punya “prasangka dan rasa benci” terhadap umat Katolik, yang digambarkannya sebagai orang-orang “yang tidak bersimpatik” terhadap umat Islam.
MNLF adalah sebuah organisasi Islam, tetapi Moro merujuk secara lebih umum pada penduduk asli Filipina di wilayah selatan yang belum pernah dijajah, banyak di antaranya Muslim.
Konflik di Darong berakhir September 1996 dengan penandatanganan sebuah kesepakatan damai antara MNFL dan pemerintah Filipina. Akhirnya, Darong ditetapkan sebagai Komunitas Pengembangan dan Perdamaian. Hal ini membuka jalan bagi program-program yang memungkinkan penduduk untuk memelihara persatuan di antara mereka.
Dengan bantuan Dewan Pengembangan Ekonomi Mindanao, sebuah lembaga yang mengkoordinasi implementasi proyek-proyek pemerintah di Mindanao, sebuah botika sa barangay (komunitas farmasi) dibentuk di Darong.
Sarcol menyebut pembentukan komunitas farmasi, tempat ia dan Balalay bekerja, sebagai ”satu dari banyak hal terbaik yang pernah kami alami.” Selain menjual obat-obatan yang lebih “murah” dibanding harga di toko-toko obat, Sarcol mengatakan bahwa botika sa barangay menyediakan sebuah tempat bagi warga setempat “untuk bergaul.”
Bagi Balalay, bekerja bersama umat Katolik di komunitas farmasi itu membuat dia menyadari bagaimana masyarakat dari agama dan budaya yang berbeda bisa “terikat erat.” Ia melaporkan bahwa komunitas farmasi itu juga menjadi sebuah tempat bagi sejumlah kegiatan yang diadakan berbagai komunitas.
Di antaranya pernikahan dan pesta, kata Sarcol. Ia juga menceritakan bahwa komunitas itu merayakan “Pekan Perdamaian” pada Desember 2007. Pada perayaan ini, “kami semua berdoa dan makan bersama.”
Dalam upaya untuk meningkatkan perdamaian dan persatuan dalam komunitas itu, sekitar 50 penduduk berpartisipasi dalam pelatihan “Budaya Perdamaian” yang diadakan setiap bulan dan difasilitasi oleh Catholic Relief Services, lembaga bantuan internasional milik Gereja Katolik Amerika Serikat. Pelatihan itu mencakup seminar tentang hak asasi manusia, dan diskusi-diskusi tentang pengembangan komunitas dan sejarah Filipina Selatan.
“Melalui pelatihan ini, saya sadar bahwa kami bisa hidup rukun bersama umat Katolik,” kata Ibrahim.
Darong adalah wilayah Keuskupan Digos, di mana 80 persen dari 802.460 penduduknya adalah Katolik. Sisanya kebanyakan Muslim atau anggota dari berbagai denominasi Kristen. Keuskupan yang mencakup Propinsi Davao Del Sur itu berbasis di Digos City, 985 kilometer barat daya Manila.
Tanggal 21 Mei adalah Hari se-Dunia untuk Keanekaragaman Budaya untuk Dialog dan Pengembangan. Sebuah resolusi Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 20 Desember 2002 menetapkan peringatan tahunan tersebut untuk “memberikan sebuah kesempatan untuk memahami lebih dalam nilai–nilai keanekaragaman budaya dan untuk belajar ‘hidup bersama.’”
END