Lahan-lahan pertanian yang terletak di lereng perbukitan di Nepal sering tidak ditanami setelah para petani memanen hanya satu jenis tanaman dalam setahun. Ini mengakibatkan siklus kemiskinan.
Petani asal Nepal, Gabriel Guru Hansda, satu dari 40 pakar pertanian yang masih muda di Asia yang menghadiri pertemuan 3-8 Mei di Tewatte, 15 kilometer utara Colombo, yakin bahwa hal ini harus berubah. Ia mengatakan kepada para tokoh kaum muda di desa-desa tentang cara mengakhiri siklus yang menjadi dasar ketahanan pangan itu melalui rotasi tanaman dan pertanian organik.
Ketahanan pangan telah menjadi topik hangat di kalangan para petani di dunia, karena kekurangan pangan dan kenaikan harga menimbulkan pertanyan tentang apakah negara-negara bisa memproduksi cukup pangan dan apakah para petani bertani secara efektif.
Hansda, 22, berbicara pada Pertemuan Gerakan Internasional untuk Pertanian dan Kaum Muda Pedesaan Katolik di Asia (MIJARC, akronim bahasa Prancis) yang diadakan satu kali dalam empat tahun. Peserta berasal dari Bangladesh, Filipina, India, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka.
Mereka sepakat mengupayakan penanaman dan penjualan lebih banyak bahan pangan di pasar-pasar lokal selama empat tahun melalui kelompok-kelompok kecil kaum muda desa. Salah satu tujuannya adalah memberdayakan para petani lokal. Mereka juga mengatakan bahwa mereka akan berusaha mengajak Gereja dan pemerintah untuk berperanserta dalam upaya-upaya ini.
“Di Nepal, lahan pertanian tidak ditanami selama beberapa bulan dalam setahun karena tidak adanya pemahaman atau pengetahuan tentang praktek pertanian yang produktif,” kata Hansda. Akibat dari siklus pertanian yang hanya menanam satu jenis tanaman selama setahun menghasilkan sedikit uang atau ketahanan, lanjutnya, seraya menegaskan bahwa Nepal mengimpor banyak bahan pangan karena pengolahan lahan yang tidak efisien.
Peserta mengupayakan masa depan yang lebih bertahan lama, menguntungkan, dan ramah lingkungan untuk para petani Asia. Beberapa petani tidak mengolah lahan mereka secara efektif, jelas mereka, sementara lainnya terjebak dalam “Revolusi Hijau.”
Negara-negara maju mempopulerkan gerakan pertanian ini, yang dimulai tahun 1940-an, sebagai cara untuk mempertahankan produksi pangan seiring dengan pertumbuhan penduduk. Tetapi gerakan ini dikritik oleh beberapa kelompok petani karena menggantungkan pada penggunaan bahan-bahan mahal seperti pupuk dan pestisida, yang menurut mereka merusak lingkungan dan manusia, dan menjauhkan kendali pertanian dari para petani.
Hansda mengatakan kepada UCA News, “Kami berencana untuk melatih kaum muda desa tentang teknik-teknik pertanian yang lebih produktif dan bertahan lama seperti pertanian organik dan rotasi tanaman, sehingga mereka bisa memanen dua atau tiga kali dalam setahun dari lahan yang sama dan tidak akan ada lagi kekurangan pangan.”
Petani asal Nepal itu mengatakan, ia akan bercocok tanam di beberapa lahan percontohan di desanya supaya warga desa lainnya bisa mengikuti dia.
Peserta lain juga menekankan pentingnya pengembangan yang bertahan lama.
“Kami tidak menentang ekspor,” jelas George Dixon Fernandez dari India, presiden MIJARC, saat berbicara kepada UCA News. “Tetapi ekspor yang membuang surplus di negara-negara lain merupakan masalah terbesar yang kita dihadapi saat ini di banyak negara.”
Berbagai kritik globalisasi mengklaim pengingkaran hambatan perdagangan membuka pasar kepada impor murah yang menghancurkan pendapatan para petani lokal, katanya.
“Dukung para petani lokal dan produksi lokal melalui perlindungan pasar lokal,” kata Fernandez. “Pertama, konsumsi apa yang kita produksi (secara lokal), baru kemudian melihat hal-hal lainnya.”
Bagaimana bahan pangan didistribusikan juga penting, demikian Dinesh Tharanga, 28. Tokoh kaum muda Sri Lanka yang mengkoordinasi pertemuan itu mengatakan bahwa hasil panen sering terbuang percuma di desa-desa karena miskinnya fasilitas transportasi, pengemasan, dan penyimpanan.
“Berbagai produk dan para konsumen sudah ada di sana,” katanya, seraya mengidentifikasi perlunya menghubungkan keduanya. Kelompok-kelompok kaum muda desa bisa mengumpulkan berbagai produk dari komunitas-komunitas pertanian dan bekerja sama dengan kelompok-kelompok di kota-kota untuk menjual berbagai produk ini, sarannya.
Inisiatif yang membantu lainnya adalah pembentukan toko-toko kecil untuk menjual berbagai produk “di setiap gereja, yang memberi lapangan kerja kepada kaum muda,” kata Tharanga kepada UCA News. Mereka juga bisa melatih warga desa yang berminat tentang pengawetan bahan pangan dan metode pengemasan, lanjutnya.
Seorang peserta dari Negara Bagian Karnataka, India bagian selatan, mengatakan bahwa kelompok-kelompok kaum muda di sana telah mengembangkan sebuah jaringan yang baik. “Kami telah melatih mereka tentang produksi dan pemasaran pakaian, penanaman bunga, budidaya air, dan masih banyak lagi, dan simpan pinjam di mana mereka bisa meminjam modal awal yang dibutuhkan,” kata Sunil John, 28, kepada UCA News. “Ini bisa diperluas untuk memasukkan produk-produk pertanian.”
MIJARC didirikan di Prancis tahun 1974, tetapi saat ini berbasis di Belgia. MIJARC memperoleh pengakuan Vatikan tahun 1954.
END