“Apa yang harus dilakukan pendidikan dengan Ekaristi?” tanya seorang uskup Sri Lanka dalam sebuah konsultasi tentang Ekaristi dan Pendidikan di Asia.
Uskup Badulla Mgr Winston Fernando mengutarakan persoalan ini pada 26 Mei kepada lebih dari 30 orang Katolik yang terdiri dari para uskup, klerus, religius, dan awam yang terlibat dalam pendidikan Katolik. Di antara mereka terdapat juga para guru dan pelajar.
Dalam presentasinya, prelatus itu mencatat bahwa di tengah konflik etnis, agama, dan politik di Asia dewasa ini, masyarakat belum dididik dalam toleransi, non-violence, dan hormat terhadap yang lain, seperti yang terdapat dalam ajaran berbagai agama di Asia. Sebaliknya masyarakat dididik dalam perasaan sakit hati, kekerasan, dan balas dendam.
Padahal, Ekaristi mendidik orang mengenai belas kasihan, kerahiman, keadilan, pengorbanan, pengampunan, persatuan, dan perdamaian, kata Uskup Fernando dalam pertemuan 25-30 Mei itu.
Peristiwa di kampus Suvarnabhumi dari Assumption University milik Katolik itu diselenggarakan oleh Kantor Pendidikan dan Pembinaan Iman dari Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC, Federation of Asian Bishops’ Conferences). Kampus itu berada di bagian tenggara Bangkok.
Pertemuan itu dihadiri oleh ketua berbagai komisi untuk pendidikan dan katekese dari berbagai konferensi waligereja di Asia serta wakil-wakil dari berbagai organisasi pendidikan untuk berefleksi tentang implikasi dokumen Sacramentum Caritatis (sakramen cinta kasih) bagi pendidikan.
Himbauan apostolik Paus Benediktus XVI tahun 2007 itu memaparkan Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan dan misi Gereja.
Perrtemuan itu juga di maksud untuk mempersiapkan sidang pleno FABC ke-9 pada tahun 2009 dengan tema Kehidupan Ekaristi di Asia.
”Bagaimana Kristus, yang sungguh hadir dalam Ekaristi, benar-benar hadir di dunia?” tanya Uskup Hazaribag, India, Mgr Charles Soreng SJ.
Uskup Chillan, Chili, Mgr Carlos Pellegrin Barrera men-sharing-kan pandangannya, “Setiap kali kita merayakan Misa Kudus dengan para pelajar atau anggota komunitas sekolah, kita diajak untuk mengakui kehadiran Kristus dalam setiap manusia.”
Dalam pemrasarannya, Sacramentum Caritatis: Dampak Pastoral Dan Tantangan-Tantangannya Bagi Pendidikan Katolik, uskup itu mengatakan bahwa perayaan-perayaan Ekaristi yang diselenggarakan sekolah turut mengajar manusia tentang pentingnya membela kehidupan dan bekerja untuk mendukung keluarga.
Prelatus itu adalah ketua Organisasi Internasional Pendidikan Katolik (International Organization of Catholic Education), yang berpusat di Brusel, Belgia.
Pastor Vicente Cajilig OP dari Filipina mengatakan kepada UCA News pada 28 Mei bahwa penghayatan Ekaristi di Asia bisa menjadi tantangan kendati faktanya “sebuah sekolah Katolik merupakan pilihan orangtua bahkan di negara-negara yang tidak berpenduduk mayoritas Katolik.” Persoalan besar dalam situasi seperti ini adalah bagaimana Ekaristi dapat diselanggarakan di kampus, kata sekretaris eksekutif organisasi internasional itu.
Bagi Pastor Roderick Salazar, rektor San Carlos University di Cebu City, Filipina, ucapan, “Apakah sudah makan?” yang biasa digunakan oleh sementara orang Asia, dan kata-kata Yesus kepada para murid-Nya, “marilah dan kunjungilah,” itu berguna untuk menolong orang muda untuk lebih menghargai Ekaristi.
Profesor Glen Chatelier dari Assumption University mengatakan, dia lebih ingin melihat universitas-universitas sebagai komunitas yang peduli dan mengasihi serta tempat untuk memperoleh pengetahuan.
Satu tantangan yang disampaikan oleh Adrian Pereira, seorang wakil dari Gerakan Mahasiswa Katolik Internasional, adalah “kurang sekali adanya pelayan spiritual full-time bagi mahasiswa, baik awam maupun religius, dalam pelayanan kampus di seluruh Asia.”
Para peserta dari 10 negara Asia, satu negara Eropa, dan dua negara Amerika Latin mengatakan dalam pernyataan akhir mereka bahwa Ekaristi memberi kesempatan untuk adanya kebersamaan, bahkan ketahanan, dalam kasus-kasus di mana komunitas Katolik merupakan minoritas. Ini, katanya, “merupakan situasi di hampir semua negara Asia.”
Mereka menekankan agar di mana saja Ekaristi dirayakan, perlu ada persiapan yang lebih baik dan sikap yang penuh pengabdian untuk mengaitkan Ekaristi dengan dunia kaum muda.
”Kekayaan Ekaristi perlu dipelajari untuk dihormati, dipelajari untuk diintegrasikan dalam seluruh proses pendidikan,” kata mereka.
Konsultasi itu disponsori bersama oleh organisasi internasional itu dan Komisi Pendidikan Nasional Sri Lanka.
END