Keterampilan jurnalisme dan pesan Paus Benediktus XVI untuk Hari Komunikasi se-Dunia menjadi fokus dalam sebuah pelatihan orang muda Katolik calon wartawan di Bangladesh.
Kebenaran dan akurasi itu penting, kata para pembicara kepada sekitar 40 pemuda dan pemudi yang berkumpul di sekretariat Konferensi Waligereja Bangladesh di Shaka pada lokakarya 19 Mei.
Peristiwa itu diselenggarakan bersama oleh Asosiasi Pers Katolik Bangladesh (BCPA, Bangladesh Catholic Press Association) dan Komisi Komunikasi dari konferensi waligereja. Dalam acara itu, setiap peserta mendapat satu kopian pesan Paus Benediktus untuk Hari Komunikasi se-Dunia ke-42.
Dalam hari khusus yang dirayakan Gereja universal setiap tahun pada hari Minggu sebelum Pentekosta itu, di gereja-gereja lokal disampaikan kotbah-kotbah khusus. Tahun ini, hari komunikasi itu jatuh pada 4 Mei, tetapi pelatihan jurnalisme itu diselenggarakan di hari yang tepat dua minggu kemudian.
Dalam pesannya, paus menekankan perlunya etika, sambil mendorong media “untuk tidak menjadi pembicara materialisme ekonomi dan relativisme etik.” Media “bisa dan harus memberi kontribusi untuk memperkenalkan kebenaran tentang kemanusiaan, dan membelanya ketika menghadapi mereka yang cenderung mengingkari dan menghancurkannya,” tegas paus.
Uskup Rajshahi Mgr Gervas Rozario, ketua Komisi Komunikasi Sosial dari konferensi waligereja, berbicara tentang pesan paus itu untuk para komunikator muda. Dengan menegaskan bahwa Gereja katolik memberi prioritas, prelatus itu menghimbau mereka untuk mengembangkan dan memperbaiki diri mereka sendiri.
Satu situasi yang diutarakan berkaitan dengan eksposur media adalah bahwa orang muda sekarang mengajukan berbagai pertanyaan yang sulit mereka temukan jawabnya. “Itulah sebabnya mengapa apapun yang kita ketahui itu perlu kita selidiki lebih mendalam sehingga memungkinkan orang lain tahu tentang kebenaran,” kata uskup itu.
“Kita harus menemukan kebenaran, karena Allah sendiri adalah kebenaran dan dewasa ini manusia haus akan kebenaran,” lanjut Uskup Rozario.
Gereja Katolik “tidak menyukai ‘yellow journalism,’” tegasnya, dengan menggunakan ungkapan lama untuk sensasionalisme media yang melakukan praktek-praktek yang tidak etis dan tidak profesional.
Uskup Rozario junga memperingatkan para peserta untuk berpedoman pada sikap Gereja tentang perlindungan terhadap kehidupan dan martabat manusia menyangkut isu-isu seputar bioetika dan nilai-nilai kemasyarakatan.
Ranjita Biswas, seorang penulis muda untuk penerbit-penerbit Kristen termasuk Pratibeshi, satu-satunya mingguan Katolik di Bangladesh, ikut lokakarya itu. Dia berasal dari Savar, 35 kilometer barat Dhaka. “Program ini sangat membantu saya, karena sebagai orang media, saya tahu betapa pentingnya mengatakan kebenaran,” kata perempuan itu kepada UCA News.
Biswas mengatakan, dia “senang menulis” dan pertemuan khususnya yang disampaikan oleh wartawan terkenal Manjurul Ahsan Bulbul, editor harian “Sangbad” berbahasa Bangla, itu sangat bermanfaat.
Bulbul mengatakan kepada para peserta muda itu bahwa semua berita itu adalah informasi, tetapi tidak semua informasi itu berita. “Bila informasi itu memiliki tiga komponen – baru, menarik, dan berwajah kemanusiaan – maka itu berita,” katanya.
Selain perlunya profesionalisme di kalangan orang-orang media, dia juga menekankan pentingnya menulis dengan rasa kemanusiaan.
Bagaimanapun, dia mendorong para wartawan muda untuk menulis berita secara akurat untuk memaparkan kebenaran.
Suman Palma, 25, seorang mahasiswa ekonomi, mengatakan kepada UCA News bahwa dia tahu tentang acara itu dari sebuah iklan di Pratibeshi.
“Program ini membesarkan hati kami untuk menjadi orang-orang profesional di bidang media,” kata Palma. “Saya tahu bahwa sebagai seorang Katolik, saya harus bertanggungjawab dan jujur dalam penulisan saya.”
Palma menambahkan bahwa selain menulis untuk Pratibeshi dari Savar, lokakarya itu juga mendorongnya untuk menulis bagi koran-koran nasional.
Pastor Kamal Corraya, direktur Pusat Komunikasi Kristen dari konferensi waligereja dan editor Pratibeshi, mengatakan kepada UCA News pada 25 Mei bahwa pusat itu menyelenggarakan acara pelatihan media setiap tahun di enam keuskupan di negeri itu bagi para kontributor Pratibeshi. Mingguan berbahasa Bangla kini berusia 68 tahun.
“Kami juga menyelenggarakan sebuah program pelatihan ‘bertemu dengan pers’ bagi para pastor dan suster kita sehingga mereka bisa tahu cara berbicara dengan para wartawan dari media yang berbeda-beda,” kata imam.
END