Paus Benediktus XVI mendoakan mereka yang meninggal setelah sebuah feri yang mengangkut lebih dari 700 penumpang tenggelam di Filipina Tengah ketika Topan Fengshen melanda wilayah itu.
“Dengan perasaan mendalam, saya tahu pagi ini tentang kecelakaan kapal di kepulauan Filipina itu,” kata paus kepada ribuan peziarah di Lapangan St. Petrus pada Minggu 22 Juni, setelah mendaraskan Angelus siang hari bersama mereka ketika suhu lokal naik mencapai 30-an derajat Celsius.
“Sementara saya memastikan kedekatan spiritual saya dengan penduduk kepulauan yang dilanda topan itu, saya memanjatkan doa khusus kepada Tuhan bagi para korban tragedi laut yang baru ini. Dalam tragedi itu terlihat ada banyak anak-anak,” kata paus berusia 81 tahun itu.
Menurut laporan media, topan melanda Filipina tengah sekitar empat jam pada 21 Juni, yang mengakibatkan banjir dan tanah longsor, menenggelamkan banyak masyarakat, mematikan arus listrik, dan menyapu bersih atap rumah dan bangunan lainnya.
Beberapa berita mengutip Senator Richard Gordon, pemimpin Palang Merah Filipina, yang mengatakan bahwa bencana itu menewaskan sedikitnya 155 orang.
Bagaimanapun, angka-angka itu tidak termasuk 740 penumpang dan anak buah Feri MV Princess of Stars, yang menjadi intensi doa paus itu. Feri itu awalnya terlempar beberapa kilometer ke lepas pantai dari Pulau Sibuyan, Propinsi Romblon, dan kemudian tenggelam. Kurang dari 40 orang yang selamat, menurut laporan, telah ditolong sejak 23 Juni sore.
Feri merupakan bentuk transportasi utama antarpulau di Filipina. Bencana kapal terparah di dunia, menurut catatan, terjadi tahun 1987, ketika sebuah feri menabrak sebuah kapal tangki minyak di Pulau Mindoro di Filipina tengah dan tenggelam. Bencana itu menelan lebih dari 4.000 jiwa.
END