Tanggal 28 Juni merupakan awal Tahun Paulus, yaitu perayaan ulang tahun millenium kedua lahirnya Santo Paulus. Tentu, kita tidak tahu pasti kapan Paulus dilahirkan. Tetapi, ada anggapan bahwa ulang tahun itu terjadi sekitar tahun 2008-2009 dan mungkin saja tahun tersebut benar ulang tahun kelahirannya ke-2000. Meskipun ia seorang ahli berdalih yang ulung, Paulus tidak mungkin akan protes.
Kegiatan utama Tahun Paulus itu mungkin akan menjadi sebuah pertunjukan ulang permainan hoopla seperti yang terjadi sekitar Tahun Yubileum Agung 2000. Masih ingat? Bahkan tiga tahun sebelum Tahun Yubileum itu, setiap tulisan atau ceramah yang dibuat oleh seorang pejabat Gereja berakhir dengan kata penutup yang menghubungkan apa saja yang dia katakan sebelumnya dengan Yubileum itu. Sering kali, hubungan-hubungan itu agak sulit diterima.
Meskipun demikian, kebanyakan orang terlalu kuatir dengan urusan sehari-hari atau ketakutan akan Y2K yang akan menghapus program-program dan data dalam komputer mereka. Tahun 2000 datang dan pergi tanpa ada kelahiran semangat baru dalam Gereja maupun rusaknya program-program komputer di dunia ini.
Jadi, haruskah kita serahkan saja Tahun Paulus ini kepada para uskup yang ingin membuktikan diri sebagai “pimpinan kantor” bahwa mereka “melaksanakan perintah” dengan cara mengutip paragraf pujian kepada Paulus yang bersifat wajib dalam tulisan dan pidato mereka?
Bisa saja, tetapi kita juga dapat menggunakan Tahun Paulus sebagai kesempatan untuk melihat lebih dekat seorang manusia yang cenderung dilupakan oleh umat Katolik kecuali ketika kita sedang mencari teks-teks bukti. Dalam banyak hal, kita telah membiarkan Paulus menjadi santo orang-orang Protestan. Akhirnya, reformasi Gereja dimulai, ketika Martin Luther mencoba mendekati teologi Paulus tanpa pengandaian-pengandaian skolastik.
Santo Paulus, sebenarnya, memiliki sesuatu untuk zaman kita, sesuatu yang mungkin tidak dimilikinya 100 tahun lalu. Paulus dapat menjadi Rasul Dunia Globalisasi.
Barangkali, selama ini ada tiga periode dalam sejarah ketika Gereja dipanggil untuk mewartakan Injil di dunia globalisasi ini.
Yang pertama adalah zaman Santo Paulus hidup. Orang-orang yang tinggal di lembah Mediterania dua ribu tahun lalu tahu secara kabur tentang keberadaan Cina dan India “di luar sana tempat matahari terbit” (mungkin asal mula kata “Asia”). Bahkan, banyak tempat di Eropa utara dan timur berada di luar jangkauan pengetahuan atau perhatian orang-orang itu. Namun, seluruh dunia yang mereka pahami itu merupakan globalisasi. Bahasa Yunani dan Latin, sistem jalan transportasi dan komunikasi internasional, serta kekuatan ekonomi, politik, dan militer menyatukan orang-orang itu di seluruh dunia semacam itu.
Dunia globalisasi itu memungkinkan Santo Paulus untuk mengadakan perjalanan secara bebas dari satu tempat ke tempat lain dan memastikan bahwa ketika ia tiba di suatu tempat, orang-orang akan memahami perkataannya. Dan, faktanya, dia tetap tinggal dalam budaya yang mengglobal itu. Ada sebuah tradisi yang mengatakan bahwa dia keluar dari dunia itu untuk pergi ke Spanyol, tetapi juga dikatakan bahwa dia segera kembali ke Roma, barangkali karena kesulitan budaya dan bahasa asing yang dihadapinya.
Dunia globalisasi tempat agama Kristen lahir dan menjadi dewasa itu berakhir ketika Kekaisaran Roma jatuh karena kelemahan internal dan serangan dari luar.
Dunia globalisasi berikutnya adalah zaman Abad Pertengahan, yang masih terpusat di Eropa dan dikurangi bagian Kekaisaran Roma yang menjadi Islam. Sekali lagi, bahasa Latin memungkinkan perkembangan bangsa dan pemikiran. Itulah sebabnya, Santo Anselmus, abbas berkebangsaan Italia dari sebuah biara Prancis, dapat menjadi Uskup Agung Canterbury di Inggris. Ketimbang kekuatan politik Kekaisaran Roma, kekuatan religius Gereja Katolik lebih bisa memberikan sebuah identitas pemersatu bagi orang-orang dari berbagai macam entitas politik.
Periode itu memperlihatkan suburnya teologi, perkembangan filsafat Skolastik yang dipelopori oleh Anselmus. Zaman global itu akhirnya juga berakhir, karena adanya korupsi dari dalam diri Gereja serta kekuatan nasionalisme dan reformasi yang datang dari luar.
Sekarang, kita berada di babak awal dari dunia globalisasi ketiga yang sungguh mencakup seluruh dunia. Bahasa Inggris berperan sebagai lingua franca bagi banyak orang dari dunia ini, tetapi lebih lagi, budaya pop yang didominasi Amerika Serikat mempertemukan banyak orang, terutama kaum muda, yang mungkin sebenarnya tidak tahu bahasa itu. Banyak perusahaan dan organisasi multinasional, dan alat-alat komunikasi elektronik yang terus berkembang pesat turut menjadi “perekat” seperti yang juga pernah diberikan oleh Kekaisaran Roma dan Gereja.
Suka atau tidak, inilah zaman di mana kita hidup sekarang ini dan di mana Gereja akan terus hidup bagi banyak generasi mendatang, jika berabad-abad dianggap terlalu lama. Apa yang telah ditawarkan Santo Paulus bagi kita dalam meng-Injili dunia ini?
Paulus menulis dalam bahasa Yunani, bahasa pemersatu di zamannya. Ia menggunakan berbagai pengandaian filosofis dan kultural dari para pendengarnya untuk mengungkapkan kebenaran tentang Yesus Kristus. Ia mengabaikan batas-batas geografis dan budaya dalam pewartaan itu, dengan menggunakan jalan-jalan Roma dan teknologi laut untuk membawa Kabar Gembira itu.
Itulah tantangan Santo Paulus di Tahun Paulus ini dan juga di tahun-tahun selanjutnya. Apakah Gereja, yang agaknya masih bernostalgia dengan dunia globalisasi kedua itu, siap mengikuti keteladanan Paulus dalam dunia globalisasi ketiga ini? Apakah kita bersedia menginvestasikan manusia dan sumber daya untuk benar-benar fasih dalam bahasa dunia (globalisasi ketiga) ini? Apakah kita bersedia mengubah bahasa dan pemikiran kita sehingga dapat dipahami oleh tetangga kita? Apakah kita siap mengikuti jejak Santo Paulus dalam melanglang dunia globalisasi kita sendiri untuk serampak mewartakan Yesus Kristus yang tersalib?
Itu bukanlah sesuatu untuk hanya setahun. Namun, Tahun Paulus yang hanya setahun ini dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk berkomitmen menjadi sebuah Gereja, yaitu menjadi seorang rasul untuk dunia globalisasi ini.
——
Pastor William Grimm MM adalah editor utama Katorikku Shimbun, majalah mingguan Katolik di Jepang.
END