Penculikan orang Kristen di Propinsi Perbatasan Barat Laut Pakistan (NWFP, North West Frontier Province) baru-baru ini menunjukkan bahwa kelompok-kelompok minoritas agama masih rentan terhadap kekerasan yang dilakukan para militan Islam, demikian orang-orang Kristen.
Sekelompok pria bersenjata menculik seorang Muslim dan 16 jemaat Gereja Apostolik Baru (New Apostolic Church), termasuk dua pendeta pada 21 Juni malam di Peshawar, ibukota propinsi, 145 kilometer barat Islamabad.
Hari berikutnya, milisi Laskhar-e-Islam menyerahkan 16 orang Kristen kepada pemerintah lokal. Tetapi, milisi itu, yang aktif di Khyber Agency, sebuah divisi antara Wilayah Suku Pemerintahan Federal (Federally Administered Tribal Areas) dengan NWFP bagian selatan dan perbatasan Afghanistan, tidak membebaskan seorang Muslim itu yaitu Haji Siraj. Umat Kristen yang diculik itu pada hari yang sama kembali ke rumah mereka di Banarasabad di Kota Pelajar Peshawar.
Banyak rasa simpati di bagian Pakistan ini, yang didominasi suku Pashtun di kedua bagian perbatasan, sangat tertuju pada Taliban, penguasa Islam fundamentalis di sebagian besar Afganistan yang diserang pasukan pimpinan Amerika Serikat tahun 2001. Kelompok teroris Al-Qaeda juga menurut laporan mendapat dukungan kuat dari suku itu. Di Pakistan secara keseluruhan, sekitar 95 persen dari 160 juta penduduknya adalah umat Islam. Jumlah umat Kristen kurang dari 2 persen.
Menurut Saleem Masih, 45, salah satu korban penculikan itu, peristiwa itu terjadi ketika sekitar 50 orang Kristen yang terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak sedang berkumpul untuk mengadakan doa syukur atas kelahiran seorang bayi Kristen. Gereja Apostolik Baru mengklaim memiliki sekitar 1.000 anggota.
“Tiba-tiba, orang-orang bercadar dengan kasar menerobos masuk ke halaman dan menyuruh para pria masuk ke dalam lima mobil pick-up yang sudah ada di luar,” katanya kepada UCA News. Mereka juga menampar beberapa orang, tambahnya.
“Kami tidak diijinkan untuk saling berbicara satu sama lainnya atau menggunakan telpon seluler selama sembilan jam dalam tawanan itu. Kemudian, mereka menutup mata kami dan menempatkan kami di sebuah gua. Handphone, dompet, dan jam tangan kami sampai sekarang tidak dikembalikan,” kata Saleem.
“Saya tidak akan pernah meninggalkan iman saya dan tidak akan pernah berhenti pergi ke Gereja meskipun saya disiksa lebih dari ini,” tegasnya.
Menurut Shams Naveed, 35, seorang Katolik di Peshawar, “fanatisme agama” menjadi “penggerak” di balik penculikan itu. “Gedung itu dulunya digunakan sebagai madrasah. Tahun lalu, Siraj menyewanya untuk delapan keluarga Kristen, yang kemudian mulai mengadakan pertemuan doa rutin dan menyanyikan lagu-lagu pujian,” katanya.
“Masyarakat Taliban setempat telah mengancam mereka, sambil mengatakan kepada mereka supaya tidak mengadakan pertemuan-pertemuan semacam itu lagi,” katanya kepada UCA News.
“Berita yang terbit mengatakan penculikan itu terjadi setelah orang-orang Islam lokal mengadu kepada pemerintah Taliban bahwa orang-orang Kristen itu menjual minuman keras ilegal,” lanjut Naveed, sambil menambahkan bahwa pemerintah Taliban juga menculik seorang Kristen sepuluh hari yang lalu dari salah satu daerah bagian Peshawar lainnya atas dugaan praktek ilmu sihir. “Peristiwa-peristiwa ini memberi pesan jelas bahwa kaum minoritas tidak aman di Propinsi North West Frontier dan dapat menjadi target kapan saja.”
Edisi 23 Juni dari The News, sebuah harian berbahasa Inggris, mengutip perkataan Haji Abdul Karim, seorang pemimpin sebuah organisasi militan, yang mengatakan: “Penculikan orang-orang Kristen itu merupakan sebuah kesalahpahaman, karena kita tidak tahu kalau mereka itu non-Muslim.” Karim menyatakan Lashkar Islam tidak pernah melawan ratusan umat Sikh, Hindu, dan Kristen yang tinggal di Khyber Agency.
Pelepasan para sandera “dalam 12 jam merupakan sebuah mukjizat,” demikian Uskup Mano Rumal Shah dari Gereja (Protestan) Pakistan di Peshawar. “Ini merupakan suatu berkat istimewa dari Tuhan Yesus Kristus bahwa saudara-saudara kita bisa pulang ke keluarga mereka masing-masing. Umat Kristen di negeri ini tidak menuntut perlindungan, tetapi kesetaraan dalam kewarganegaraan, kebebasan beragama, dan hak untuk hidup,” katanya kepada UCA News.
Pastor Bonnie Mendes, direktur Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia di Toba Tek Singh, Propinsi Punjab, mengutuk penculikan itu dalam siaran pers 22 Juni. Imam asli Pakistan itu menghargai peranan para politisi Kristen dalam menjamin pelepasan orang-orang itu tetapi ia juga mengatakan bahwa pemerintah harus “menghentikan kekerasan terhadap hak-hak kaum minoritas” di NWFP.
Shahbaz Bhatti, ketua Aliansi Semua Kelompok Minoritas Pakistan dan seorang Katolik anggota Dewan Perwakilan Rakyat Nasional, mengatakan kepada UCA News, ”penculikan terhadap anggota kelompok minoritas miskin ini menunjukkan peningkatan ekstrimisme di propinsi ini. Pemberlakuan Hukum Shariah akan menimbulkan sistem ganda di daerah itu dan hanya akan mengakibatkan lebih banyak lagi ketidakamanan bagi umat Kristen setempat.”
Pemerintah propinsi itu telah mencoba menerapkan Hukum Shariah sejak 2003, tetapi hingga kini pemerintah federal Pakistan menghalanginya.
END