Musik paduan suara bergema di Teater Kaum Muda Dushanbe saat Lembaga Alkitab Tajikistan yang bersifat ekumene merayakan Hari Kitab Suci yang kedua.
Banyak kelompok paduan suara Katolik dan Ortodoks serta wakil-wakil dari berbagai denominasi Protestan lainnya tampil dalam konser pada 24 Mei, Hari Kitab Suci yang ditetapkan tahun ini. Pada kesempatan itu, para anggota panitia berharap bisa lebih mendekatkan Kitab Suci kepada masyarakat lokal.
“Musik lebih menyentuh hati manusia daripada kata-kata atau bentuk penyajian lainnya,” kata Olga Belkevich kepada UCA News. Anggota Lembaga Alkitab itu menjelaskan bahwa tujuan utama Hari Kitab Suci itu adalah untuk memperkenalkan Kitab Suci kepada mereka yang tidak terbiasa dengannya.
“Orang-orang Kristen tahu apa Kitab Suci itu. Yang paling penting adalah untuk menyapa orang-orang yang masih belum mengenal Injil, dan musik merupakan cara terbaik,” kata wanita dari Gereja Baptis itu.
Kebanyakan dari 150 orang yang menghadiri konser itu adalah orang-orang Kristen dari berbagai Gereja dan denominasi, tetapi orang-orang lain juga hadir.
Elena, seorang siswa berumur 20 tahun yang menghadiri konser itu bersama dengan seorang teman, mengatakan kepada UCA News: “Saya tidak punya agama apapun, tetapi saya suka nyanyian dari paduan suara Ortodoks dan Katolik. Lagu-lagu mereka begitu khidmat sehingga Anda mau tidak mau memikirkan agama dan surga.”
Inilah yang diharapkan Eugenia Rasanova, seorang warga Gereja Baptis yang berumur 45 tahun, bahwa konser itu akan membantu orang-orang untuk mengingat Sabda Allah, seperti yang disampaikan kepada UCA News, menjadi harta paling berharga dalam kehidupan.
Begitu juga, temannya, Maria, berkata,” keindahan suara para penyanyi membuat kita melihat keindahan Allah dan cinta-Nya kepada kita.”
Para musisi Kristen itu menampilkan lagu-lagu klasik dan religius termasuk lagu-lagu Katolik dan Ortodoks.
Pastor Juan Carlos Sack, pemimpin paduan suara di Paroki St. Yosef, paroki Katolik di Dushanbe, mengatakan kepada UCA News bahwa mereka menampilkan lagu-lagu gubahan Henry Purcell, Engelbert Humperdinck, dari opera Hansel dan Gretel, dan John Hutchings.
Di negara yang 95 persen penduduknya Muslim ini, Lembaga Alkitab Tajikistan baru mengadakan Hari Kitab Suci yang pertama pada tahun lalu.
Menurut Belkevich, organisasi itu tidak menetapkan hari yang pasti untuk merayakan Kitab Suci. “Tahun ini kami menyelenggarakannya pada 24 Mei. Tahun depan kami akan memilih tanggal lain. Kami harus mengkoordinasikannya dengan Komite Urusan Agama pemerintah dan harus melaksanakannya pada waktu yang berdekatan dengan Paskah, karena ini merupakan waktu yang tepat untuk membicarakan Kitab Suci,” kata perempuan itu.
Umumnya kami bekerja dalam menerjemahkan Kitab Suci dan bacaan rohani lainnya, seperti riwayat hidup santo-santa atau kitab suci anak-anak, ke dalam bahasa Tajik,” tambahnya. “Dalam kelompok kami, kami memiliki anggota yang berasal dari agama-agama berbeda. Ketua lembaga kami adalah seorang imam Ortodoks.
Lembaga yang didirikan tahun 1994, tiga tahun setelah Tajikistan merdeka karena runtuhnya Uni Soviet, itu menyatukan umat Katolik, Ortodoks, dan Protestan.
Pastor Sack menangani penerjemahan bahasa Latin dalam lembaga itu. Ia berpendapat bahwa kegiatan-kegiatan promosi seperti Hari Kitab Suci harus dilanjutkan. “Ini bagus dan semakin banyak masyarakat lokal dapat mengenal Kitab Suci melalui prakarsa semacam itu. Mungkin ada yang akan mengembangkan minat lebih lanjut akan Kitab Suci dan ingin mempelajari lebih banyak lagi,” katanya.
Imam Sabda Inkarnasi dari Argentina itu juga melihat peristiwa dan kegiatan-kegiatan Lembaga Alkitab itu bermanfaat bagi gerakan ekumene. “Kita dapat bersatu dengan umat Kristiani lainnya. Anda tahu Kitab Suci merupakan dasar persatuan umat Kristen dari semua denominasi.”
Menurut Pastor Ezequiel Ayala, rekan misionaris Argentina yang mengepalai Paroki St. Yosef dan juga hadir dalam konser Hari Kitab Suci itu, “dalam pertemuan-pertemuan semacam itu kita dapat berbicara tidak hanya tentang persamaan-persamaan tetapi juga berbagai perbedaan yang memisahkan kita dan itu bisa membantu kita untuk bersatu lagi.”
“Saya percaya akan doa Yesus bahwa kita akan menjadi satu,” kata Pastor Ayala.
END