Di tengah kenaikan harga makanan dan bahan kebutuhan pokok lainnya, wanita-wanita Katolik di sebuah paroki di bagian utara bekerja keras di pertambangan batu untuk membiayai anak-anak mereka.
Lima perusahaan milik pemerintah dan swasta menambang batu putih dari bukit-bukit di sekitar sebuah danau luas yang mensuplai air untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air Thac Ba. Pertambangan-pertambangan itu, yang terletak di desa Mong Son, Propinsi Yen Bai, 200 kilometer utara Ha Noi, memperkerjakan wanita-wanita dari Mong Son dan desa-desa lokal lainnya untuk mengusung batu-batu untuk kemudian diangkut dengan kapal.
Sekitar 2.500 dari 3.500 penduduk Mong Son adalah orang-orang Katolik. Mereka membentuk setengah dari jumlah umat dari paroki di desa yang mencakup suatu wilayah yang berpenduduk 150.000 jiwa.
Pada suatu hari di bulan Juni, pada suhu 38 derajat Celcius di bawah terik matahari, beribu-ribu pekerja wanita saling mengulurkan batu-batu putih dalam satu baris untuk diisi ke truk-truk dan kapal-kapal.
“Kami tahu bahwa mengusung batu-batu merupakan pekerjaan kasar dan dapat merusak kesehatan kami, tetapi kami harus melakukannya untuk membiayai keluarga kami, karena tidak ada pekerjaan lain di sini,” kata Maria Dinh Thi Lien kepada UCA News sambil mengusap keringat di wajahnya.
Wanita berumur 41 tahun itu, yang suaminya meninggal tahun lalu, mengatakan bahwa dia dan kelima anaknya tidak dapat hidup dari sebidang tanah seluas 720 meter persegi, yang menghasilkan 400 kilogram padi setiap tahunnya. Ia menjelaskan bahwa dia tidak dapat menyediakan makanan yang cukup bagi anak-anaknya dan membiayai sekolah mereka tanpa uang yang ia dapat dari mengusung batu-batu. Mereka hidup di gubuk jerami yang kecil.
Lien, yang telah bekerja di pertambangan itu sejak tahun 2000, mengatakan bahwa wanita-wanita tersebut mulai bekerja pada pukul 5 pagi di musim panas, sebelum hari semakin panas, dan masing-masing mendapat 40.000 dong (US$ 2.40) setiap harinya dengan mengangkut 10 meter kubik batu.
Therese Hoang Thi Thu, 46, salah seorang pekerja tambang lainnya, mengatakan kepada UCA News bahwa beban berat untuk membiayai enam orang anaknya itu mulai dialaminya setelah suaminya meninggal karena stroke tahun lalu. Seperti Lien, ia mengatakan bahwa dia harus bekerja keras atau anak-anaknya tidak akan dapat melanjutkan sekolah atau tidak mendapat cukup makanan.
Thu mengatakan bahwa dia setiap hari mengusung batu yang beratnya sampai 40 kg untuk mendapatkan uang senilai 40.000 dong. “Saya berdoa untuk kesehatan saya supaya dapat membiayai anak-anak saya,” tambahnya.
Maria Nguyen Thi Soi, ibu dari 10 anak, mengatakan kepada UCA News bahwa wanita-wanita lokal bekerja keras mengusung batu atau mengail di danau pada sore hari. Ia mengatakan bahwa tiga anaknya keluar dari sekolah menengah dan juga bekerja di pertambangan untuk membantu keluarga.
Setelah harga bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya naik dua kali lipat dan sampai sampai tiga kali lipat dalam enam bulan pertama tahun ini, maka yang mereka makan sehari-hari hanyalah nasi, sayur-sayuran, dan garam, yang tidak menunjang kesehatan, kata Soi.
Marie Nguyen Thi Thuong, 16, seorang murid kelas 9, mengatakan kepada UCA News bahwa dia harus keluar dari sekolah dan bekerja di pertambangan, demi 24.000 dong setiap harinya, untuk membantu orangtuanya, yang mempunyai delapan anak.
Seorang wanita, Marie Nguyen Thi Hong, mengatakan bahwa dia tidak mampu mengusung batu yang berat sehingga dia dan suaminya mengail untuk membiayai keenam anaknya.
Menurut Pastor Michael Nguyen Tien Quang, kepala Paroki Mong Son, keluarga-keluarga lokal umumnya memiliki 5-10 anak tetapi masing-masing hanya mempunyai beberapa ribu meter persegi sawah. Ia memperkirakan 500 wanita lokal bekerja di pertambangan itu.
Imam yang berusia 35 tahun itu mengatakan kepada UCA News bahwa dia hanya mempunyai sedikit yang bisa digunakan untuk membantu mereka tetapi ia mendorong mereka untuk tetap menyekolahkan anak-anak mereka karena pendidikan pada akhirnya dapat membantu mereka keluar dari kemiskinan.
Seorang pemilik sebuah perusahaan pertambangan batu putih mengatakan kepada UCA News bahwa karena kenaikan harga, ia membayar 4.000 dong untuk setiap meter kubik batu yang diusung ke kapal atau truk, dulunya cuma 3.000 dong. Ia membayar 17.000 dong untuk setiap meter kubik batu yang digali oleh laki-laki dan diusung oleh wanita-wanita itu.
Menurut pengusaha tersebut, di tempat lain satu meter kubik batu dijual seharga 1 juta dong. Batu putih tersebut digunakan oleh banyak perusahaan dalam negeri untuk memproduksi semen dan produk-produk susu yang ditambah kalsium. Batu putih itu juga diekspor ke negara-negara asing.
Ia mengakui lima perusahaan pertambangan itu menghasilkan banyak keuntungan, sedangkan orang-orang lokal menderita karena debu dan bising.
END