Aziz Bi, 74, telah berjuang selama 24 tahun terakhir guna mencari keadilan bagi dirinya dan para korban tragedi gas Bhopal. Ia kini berada di New Delhi.
Bi duduk bersama 50 orang lainnya di sebuah tenda yang terletak hanya dua kilometer dari gedung parlemen India. Sejak 29 Maret, para pemrotes, beberapa mogok makan, menuntut bantuan pemerintah bagi para korban bencana industri yang terjadi di Bhopal tahun 1984 yang menewaskan ribuan orang.
Bi dan kelompok itu berjalan 745 kilometer untuk tiba di New Delhi dari Bhopal, ibukota Negara Bagian Madhya Pradesh, di India bagian tengah. Mereka menempuh perjalanan 34 hari dengan berjalan kaki, atau padayatra, untuk membuat masyarakat menyadari penderitaan mereka yang terus berlanjut.
Mereka memulai aksi mogok makan pada 10 Juni, setelah polisi menangkap 22 pemrotes yang menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Perdana Menteri India Manmohan Singh, kata Satinath Sarangi dari Kelompok Bhopal untuk Informasi dan Aksi kepada UCA News, 20 Juni. Tetapi Bi dan beberapa anak dalam kelompok itu tidak berpuasa, demikian Sarangi, yang kelompoknya merupakan satu dari tiga kelompok yang mengorganisir aksi protes tersebut.
Aktivis itu mengatakan bahwa mereka memulai aksi duduk pada 29 Maret, sehari setelah mereka tiba di ibukota itu. Tiga bulan kemudian, para pemrotes mengadakan sejumlah program, termasuk aksi demonstrasi di depan kediaman Sing pada 5 dan 22 Mei.
Bi mengatakan kepada UCA News 17 Juni bahwa ia masih ingat bagaimana jenazah dan bangkai binatang menumpuk di jalanan di Bhopal pada pagi hari, 3 Desember 1984, beberapa jam setelah sekitar 40 ton gas beracun methyl isocyanate dikeluarkan dari pabrik pestisida Union Carbide Corporation di Bhopal.
Hingga saat ini sekitar 30.000 orang meninggal dunia akibat racun dan penyakit yang berhubungan dengan racun itu, dan 150.000 lainnya mengalami kebutaan, cacat mental, dan penyakit lainnya, kata Iqbal Khan Khokhar, juga pemrotes.
Kebutuhan mendesak mereka, katanya kepada UCA News, adalah mendapatkan “air minum yang bersih” karena limbah yang mengandung racun dan peralatan pabrik yang ditelantarkan itu telah mencemari air tanah dan sumber air lainnya di Bhopal.
Khokhar mengatakan bahwa mereka juga ingin agar pemerintah memberi dana pensiun dan program lainnya untuk membantu anak yatim piatu, orang cacat, orang jompo, dan para janda, selain membersihkan halaman pabrik yang ditelantarkan itu.
Masyarakat masih menderita sakit perut dan penyakit kulit; sejumlah bayi lahir dengan cacat tubuh atau tumbuh dengan ukuran tubuh tidak normal; dan sejumlah perempuan menderita gangguan reproduksi dan syaraf, jelasnya. Bi mengangguk setuju dan membuka sebuah kotak kayu paan (manisan) untuk mencampur isinya — daun sirih, buah pinang, kapur, cengkeh, kapulaga, mint — dan mengunyahnya bersamaan.
Hakam Singh, 58, seorang petani dari Bhopal, mengatakan kepada UCA News, “Kami tidak cukup sehat untuk bekerja dan mencari penghasilan.” Ia mengeluhkan penyakit kulit dan gangguan pernapasan. “Kami juga tidak punya uang untuk berobat,” lanjutnya.
Syed M. Irfaan, pemimpin peedit mahila purush sangarsh morcha gas di Bhopal, sebuah organisasi untuk para korban Bhopal, mengatakan kepada UCA News bahwa mereka tidak tahu ke mana harus meminta bantuan. “Ketika kami menemui pemerintah negara bagian, mereka mengirim kami ke pemerintah pusat, dan sebaliknya. Tidak ada seorang pun mendengarkan masalah kami.”
Keuskupan Agung Bhopal telah membantu para korban secara sukarela, kata Pastor Babu Joseph, juru bicara Konferensi Waligereja India. Imam dari Serikat Sabda Allah itu mengatakan kepada UCA News bahwa Gereja tidak bisa campur tangan secara langsung di tingkat nasional karena “unsur politik.”
Joseph A. Gathia, seorang Katolik dan aktivis hak asasi manusia yang telah melayani para korban Bhopal, mengatakan kepada UCA News bahwa isu itu harus diatasi “secara netral dan tanpa tujuan politis.” Ia mengidentifikasi pembersihan limbah beracun sebagai sebuah kebutuhan mendesak.
Laporan menyebutkan bahwa lokasi pabrik seluas 27 hektar itu menyimpan ribuan ton bahan kimia beracun, termasuk merkuri, timah, dikhloromethana, dan khloroform, yang tidak disentuh sejak bencana itu, dan tidak ada seorang pun bertanggungjawab untuk membersihkan lokasi tersebut.
Tahun 2001, Dow Chemical Company mengambilalih Union Carbide. Perusahaan ini secara terbuka menyatakan bahwa Union Carbide telah membayar US$470 juta untuk menyelesaikan masalah itu tahun 1991 sehingga Dow tidak punya tanggung jawab finansial atas bencana itu atau atas pembersihan limbah.
Saat diskusi berlanjut, Bi duduk sambil meregangkan kakinya yang lelah, dekat kotak paan miliknya. “Kami harap pemerintah membantu kami,” kata wanita tua itu.
END