KATHMANDU (UCAN) – Para pemimpin sebuah organisasi Hindu dan sebuah organisasi antaragama bergabung dengan pemimpin Gereja Katolik di Nepal untuk mendoakan seorang imam Katolik yang dibunuh. Mereka menyerukan persatuan untuk melawan penyerangan terhadap kaum minoritas yang terus meningkat.
Sekitar 800 umat Buddha, Katolik, Hindu, dan Islam berkumpul di auditorium Sekolah St. Fransiskus Xaverius yang dikelola Jesuit untuk mendoakan seorang imam Salesian asal India, Pastor Johnson Prakash Moyalan, yang dibunuh perampok bersenjata pada 1 Juli di Nepal bagian timur.
Samaj (perkumpulan) Katolik Nepal, badan hukum yang mewakili Gereja Katolik setempat, mengadakan pertemuan doa selama dua jam itu di ibukota.
Media telah melaporkan sejumlah serangan yang ditujukan kepada komunitas-komunitas kelompok minoritas tahun lalu. Serangan tersebut antara lain sebuah ledakan bom di sebuah panti asuhan Kristen di Birgunj, selatan Kathmandu dekat dengan perbatasan India, dan empat bom yang dilempar ke sebuah masjid pada bulan April di Biratnagar, kota terbesar kedua di Nepal, juga dekat perbatasan tetapi lebih jauh ke timur. Para militan menciptakan berbagai ancaman dan pembunuhan Pastor John Prakash ketika imam yang dibunuh itu ditemukan.
Laskar Pembela Nepal, sebuah kelompok militan yang menginginkan Nepal menjadi sebuah negara Hindu lagi, telah menyatakan bertanggungjawab atas serangan-serangan itu. Pemerintah Nepal menyatakan bekas kerajaan Hindu itu sebagai sebuah negara sekuler pada bulan Mei.
Uskup Sharma membuka pertemuan 14 Juli itu dan membacakan surat pernyataan berbelasungkawa yang dikirim Vatikan.
Pastor Praska, 59, dimakamkan pada 4 Juli di Bandel, dekat Kolkata, India. Mendiang imam itu merupakan salah satu anggota Kongregasi Salesian (SDB) provinsi Kolkata.
Damodar Gautam, ketua Federasi Hindu se-Dunia-Nepal mengatakan dalam pertemuan itu, ancaman yang semakin meningkat terhadap para pemimpin dan anggota kelompok agama minoritas menjadi suatu keprihatinan luar biasa.
“Biarkan karya mendiang imam Katolik itu mendorong kita semua dan marilah kita semua mencoba saling memahami dengan baik, tanpa memandang agama, dan maju bersama,” katanya.
Mengungkapkan “keterkejutan dan kecemasan,” dan rasa solidaritas dengan umat Katolik di Nepal, Keshav Chaulagain, seorang Hindu dan sekretaris Dewan Antaragama Nepal (IRCN) mengatakan bahwa umat semua agama harus mengutuk pembunuhan itu. Ia mengatakan IRCN dibentuk dengan maksud untuk menghentikan kejadian-kejadian semacam itu, seperti pembunuhan, penindasan, dan penganiayaan terhadap komunitas agama minoritas.
P.P. Adhikari, ketua IRCN dan juga seorang Hindu, menambahkan, “Kita umat semua agama harus lebih dulu bersatu untuk menghentikan berbagai tindakan dan kejahatan yang melawan kemanusiaan ini.”
Pendeta Protestan, Simon Gurung, mengungkapkan harapannya bahwa “IRCN dan kelompok-kelompok lintas agama lainnya di dunia ini akan bekerja sama menghentikan tindak kejahatan semacam itu.” Ia juga berharap “bahwa para imam Katolik lainnya yang berkarya di negeri itu akan melanjutkan karya baik yang telah dilakukan Pastor Prakash dan semoga arwah mendiang imam itu mendapat ketenteraman abadi.”
Superior Salesian di Nepal dari imam yang dibunuh itu, Pastor Benjamin Pampackel, memuji komitmen Pastor Prakash untuk orang-orang miskin. “Hujan atau panas, ia selalu di sana bagi mereka,” kata pastor Pampackel.
Pastor Prakash lahir pada 15 Oktober 1948, di Ollur, Kerala, India bagian selatan, berdasarkan pamplet yang diberikan dalam pertemuan itu. Ia mengelola berbagai program bantuan untuk lima desa dan pernah menjadi kepala Sekolah Don Bosco di Sirsiya.
Ia adalah imam Katolik kedua yang dibunuh di Nepal, tetapi yang pertama dipercaya telah diincar-incar karena dia itu seorang Kristen. Seorang penyerang yang tidak diketahui membunuh Pastor Thomas Edward Gafney SJ di kantor di kediamannya di Kathmandu pada 14 Desember 1997. Pembunuhan itu masih belum terselesaikan, tetapi beberapa umat Katolik di Kathamandu mencurigai para pedagang obat terlibat dalam pembunuhan itu, karena Pastor Gafney giat menentang obat-obatan ilegal.
END