BANDUNG, Jawa Barat (UCAN) – Uskup baru Bandung mendorong umat Katolik, minoritas kecil di wilayah keuskupan yang terletak di tenggara Jakarta, untuk mengadakan perjumpaan-perjumpaan antarpribadi serta dialog dengan umat Islam dan umat agama lain.
Seruan itu disampaikan Uskup Johannes Pujasumarta, 59, tanggal 16 Juli setelah penahbisan dan pelantikannya sebagai uskup di wilayah keuskupan di mana umat Islam merupakan 96,5 persen dari 25,7 juta penduduk sedangkan umat Katolik hanya 0,4 persen.
Secara etnis, 74 persen masyarakat di wilayah itu adalah orang Sunda, yang hampir semuanya beragama Islam, dan 11 persen orang Jawa. Sisanya adalah orang Cina dan orang dari berbagai suku lain yang berasal dari berberapa bagian Indonesia.
“Tugas perutusan menabur benih yang baik di Tatar Sunda merupakan kelanjutan dari perintah Tuhan kita Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya di pantai danau Galilea: ‘Bertolaklah ke tempat yang dalam …,’” kata Uskup Pujasumarta. Ia memilih perintah itu yang dalam bahasa Latin berbunyi, Duc in altum, sebagai motto uskupnya.
“Ke tempat yang dalam” berarti kita diutus agar mampu mendengarkan “suara sabda Allah dalam keheningan … di mana kita dapat mengalami misteri persatuan Allah dengan umat-Nya,” jelas uskup itu.
“Di tempat yang dalam itu pula kita ditenggelamkan dalam pluralitas budaya setempat, yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan, yang baik dan benar, yang indah dan mulia, yang sesuai dan terbuka pada nilai-nilai Injili,” katanya.
Di tempat yang dalam itu, lanjutnya, “kita perlu mengadakan perjumpaan-perjumpaan antarpribadi, agar hati manusia terbuka, mengarah ke tempat yang tinggi, sehingga dapat memandang pula Yesus Krisrus Sang Manusia Sejati. Dalam terang Kristus itu pulalah kita kembangkan dialog kemanusiaan dengan umat beragama lain, agar kita bersama-sama menjadi mampu untuk melihat langit yang baru dan bumi yang baru.”
Perayaan itu dilakukan di Sasana Budaya Ganesha Bandung, sekitar 120 kilometer tenggara Jakarta. Wilayah keuskupan itu meliputi bagian yang besar dari propinsi Jawa Barat. Umat Katoliknya yang berjumlah 101.718 orang tersebar di 23 paroki.
Sekitar 7000 umat Katolik termasuk lebih dari 20 uskup dan 300 imam menghadiri Misa penahbisan itu. Julius Kardinal Darmaatmadja dari Jakarta menjadi uskup penahbis. Uskup Agung Leopoldo Girelli, Duta Vatikan untuk Indonesia, dan Uskup Agung Ignatius Suharyo dari Semarang sebagai pendamping uskup penahbis.
Uskup Pujasumarta bertugas sebagai vikaris jenderal Keuskupan Agung Semarang ketika Paus Benedictus XVI mengangkat dia sebagai uskup Bandung tanggal 17 Mei, menggantikan Uskup Alexander Soentadio Djajasiswaja, yang meninggal 19 Januari 2006.
Uskup baru itu mengatakan kepada UCA News setelah Misa bahwa akan mendorong umat Katolik untuk bekerja sama, hidup bertetangga dengan baik, dan membangun dialog kemanusiaan, khususnya menangani kemiskinan “yang merupakan masalah bersama yang harus kita kerjakan bersama-sama.”
Uskup Agung Girelli sependapat bahwa uskup baru itu “seharusnya siap untuk berdialog dan peka terhadap inkulturasi, karena Gereja Katolik selalu terbuka untuk berdialog.”
Pius Danandaka melukiskan uskup baru itu sebagai “angin segar untuk keuskupan ini,” sementara Stevanus Hari, kaum muda lain dari keuskupan itu mengatakan motto uskup itu “akan membantu dia meningkatkan kerja sama dengan umat non-Katolik untuk menciptakan perdamaian.”
Selain umat Islam dan Katolik, umat Protestan membentuk 1,2 persen dari jumlah penduduk di wilayah keuskupan itu, agama Buddha 0,2 persen dan agama Hindu 0,1 persen. Ada juga kelompok kecil beragama Konghucu dan pengikut agama tradisional, Agama Djawa Sunda.
END
BANDUNG, Jawa Barat (UCAN) – Uskup baru Bandung mendorong umat Katolik, minoritas kecil di wilayah keuskupan yang terletak di tenggara Jakarta, untuk mengadakan perjumpaan-perjumpaan antarpribadi serta dialog dengan umat Islam dan umat agama lain.
Seruan itu disampaikan Uskup Johannes Pujasumarta, 59, tanggal 16 Juli setelah penahbisan dan pelantikannya sebagai uskup di wilayah keuskupan di mana umat Islam merupakan 96,5 persen dari 25,7 juta penduduk sedangkan umat Katolik hanya 0,4 persen.
Secara etnis, 74 persen masyarakat di wilayah itu adalah orang Sunda, yang hampir semuanya beragama Islam, dan 11 persen orang Jawa. Sisanya adalah orang Cina dan orang dari berbagai suku lain yang berasal dari berberapa bagian Indonesia.
“Tugas perutusan menabur benih yang baik di Tatar Sunda merupakan kelanjutan dari perintah Tuhan kita Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya di pantai danau Galilea: ´Bertolaklah ke tempat yang dalam …,´” kata Uskup Pujasumarta. Ia memilih perintah itu yang dalam bahasa Latin berbunyi, Duc in altum, sebagai motto uskupnya.
“Ke tempat yang dalam” berarti kita diutus agar mampu mendengarkan “suara sabda Allah dalam keheningan … di mana kita dapat mengalami misteri persatuan Allah dengan umat-Nya,” jelas uskup itu.
“Di tempat yang dalam itu pula kita ditenggelamkan dalam pluralitas budaya setempat, yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan, yang baik dan benar, yang indah dan mulia, yang sesuai dan terbuka pada nilai-nilai Injili,” katanya.
Di tempat yang dalam itu, lanjutnya, “kita perlu mengadakan perjumpaan-perjumpaan antarpribadi, agar hati manusia terbuka, mengarah ke tempat yang tinggi, sehingga dapat memandang pula Yesus Krisrus Sang Manusia Sejati. Dalam terang Kristus itu pulalah kita kembangkan dialog kemanusiaan dengan umat beragama lain, agar kita bersama-sama menjadi mampu untuk melihat langit yang baru dan bumi yang baru.”
Perayaan itu dilakukan di Sasana Budaya Ganesha Bandung, sekitar 120 kilometer tenggara Jakarta. Wilayah keuskupan itu meliputi bagian yang besar dari propinsi Jawa Barat. Umat Katoliknya yang berjumlah 101.718 orang tersebar di 23 paroki.
Sekitar 7000 umat Katolik termasuk lebih dari 20 uskup dan 300 imam menghadiri Misa penahbisan itu. Julius Kardinal Darmaatmadja dari Jakarta menjadi uskup penahbis. Uskup Agung Leopoldo Girelli, Duta Vatikan untuk Indonesia, dan Uskup Agung Ignatius Suharyo dari Semarang sebagai pendamping uskup penahbis.
Uskup Pujasumarta bertugas sebagai vikaris jenderal Keuskupan Agung Semarang ketika Paus Benedictus XVI mengangkat dia sebagai uskup Bandung tanggal 17 Mei, menggantikan Uskup Alexander Soentadio Djajasiswaja, yang meninggal 19 Januari 2006.
Uskup baru itu mengatakan kepada UCA News setelah Misa bahwa akan mendorong umat Katolik untuk bekerja sama, hidup bertetangga dengan baik, dan membangun dialog kemanusiaan, khususnya menangani kemiskinan “yang merupakan masalah bersama yang harus kita kerjakan bersama-sama.”
Uskup Agung Girelli sependapat bahwa uskup baru itu “seharusnya siap untuk berdialog dan peka terhadap inkulturasi, karena Gereja Katolik selalu terbuka untuk berdialog.”
Pius Danandaka melukiskan uskup baru itu sebagai “angin segar untuk keuskupan ini,” sementara Stevanus Hari, kaum muda lain dari keuskupan itu mengatakan motto uskup itu “akan membantu dia meningkatkan kerja sama dengan umat non-Katolik untuk menciptakan perdamaian.”
Selain umat Islam dan Katolik, umat Protestan membentuk 1,2 persen dari jumlah penduduk di wilayah keuskupan itu, agama Buddha 0,2 persen dan agama Hindu 0,1 persen. Ada juga kelompok kecil beragama Konghucu dan pengikut agama tradisional, Agama Djawa Sunda.
END