YANGON (UCAN) – Uskup Agung Yangon Mgr Charles Bo mengatakan tahun Paulus, yang mulai setelah kehancuran karena badai Nargis, memberi kesempatan khusus bagi para korban yang selamat untuk mendapat inspirasi dari iman Santo Paulus yang tabah.
Paus Benediktus XVI meminta umat Katolik untuk memperingati 2000 tahun kelahiran rasul itu dengan merayakan Yubileum St. Paulus mulai 28 Juni 2008 hingga 29 Juni 2009.
Uskup Agung Bo memimpin perayaan Ekaristi pada 29 Juni untuk memperingati ulang tahun pertama Gereja Santo Petrus dan Paulus di Yangon dan juga permulaan tahun Paulus itu.
Ketika badai itu terjadi pada 2 Mei, katanya, banyak korban yang selamat harus terapung di air, berjam-jam kedinginan dan basah dalam kegelapan. Namun, itu tidak membuat mereka berkecil hati.
“Santo Paulus selalu hidup dalam doa,” kata prelatus itu, sambil menarik benang merah. “Kita juga harus tetap berdoa dan kita perlu bertekun,” katanya kepada 2,000 warga paroki dan 150 imam dan suster yang hadir itu.
Uskup Agung Bo mengingatkan mereka bahwa paus telah meminta umat Katolik untuk membaca surat-surat Santo Paulus dan cerita-cerita tentangnya dalam Perjanjian Baru selama tahun khusus itu. Pemimpin Gereja Yangon itu juga menegaskan bahwa dia telah menetapkan Gereja Santo Petrus dan Paulus sebagai pusat ziarah selama tahun Paulus itu, tempat umat Katolik dapat mengikuti Misa dan retret, dan mengunjungi Sakramen Maha Kudus guna mendapatkan indulgensi yang telah disetujui Paus Benediktus untuk tahun itu. Indulgensi merupakan pengampunan atas hukuman sementara karena dosa. Dosa itu dapat diampuni melalui Sakramen Pengampunan Dosa.
Pastor Thomas Saw Htoo Htoo, kepala Paroki St. Petrus dan Paulus, mengatakan kepada UCA News bahwa merawat para korban badai yang selamat dan mendoakan mereka, dan mendoakan lebih dari 100.000 orang meninggal itu menjadi kegiatan-kegiatan Tahun Paulus.
“Kami akan mengadakan Misa setiap Jumat pertama setiap bulan untuk mendoakan jiwa-jiwa orang yang meninggal dalam badai Nargis,” kata imam itu. Ia menambahkan bahwa para anggota Legio Maria setempat akan terus berdoa di Gereja itu untuk orang yang telah meninggal dan terluka.
Secara praktis, katanya, berbagai perkumpulan Gereja di paroki itu menyumbangkan berbagai perlengkapan dan mengirimkan para relawan untuk membantu dalam bencana angin badai itu.
“Dengan merefleksikan kehidupan Santo Paulus dan karya-karya kerasulannya, kami, para pengikutnya, berkewajiban untuk hidup seturut ajaran-ajarannya,” kata Pastor Htoo Htoo. Selain Misa hari Minggu, tambahnya, perayaan St. Paulus itu sendiri sangat penting.
Joseph U Kyaing, anggota dewan paroki, mengatakan kepada UCA News bahwa mereka akan berdoa bagi para korban yang selamat dan yang meninggal selama tahun Paulus dan juga meminta pastor paroki untuk mengadakan Misa-Misa khusus dan kolekte kedua sebagai usaha bantuan bencana alam itu. Ia mengatakan bahwa mereka akan mengadakan suatu acara di mana 1.000 bunga, 1.000 lilin, dan 1.000 doa rosario akan dipersembahkan bersama dengan uang sumbangan bantuan bencana alam.
Ketua muda-mudi Katolik (MUDIKA) paroki itu, Benedict Zaw Lin, mengatakan kepada UCA News bahwa para anggota mudika ikut dalam sesi-sesi adorasi Ekaristi yang berlangsung selama satu jam bagi korban yang selamat dari bencana badai itu, dan beberapa telah terjun langsung dalam karya bantuan.
Seorang warga paroki yang bernama Moree menambahkan, “Kami telah mengorganisasikan 10-15 anggota untuk adorasi dan berdoa rosario, sambil mengubah beberapa doa untuk para badai.”
Warga paroki lainnya, Rosy Ma Cho, menggambarkan Tahun Paulus itu sebagai kesempatan untuk mendapat rahmat khusus. “Kami dapat memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kami dengan ikut dalam Misa Kudus dan mengunjungi Sakramen Maha Kudus, dan kami semua harus berdevosi pada Santo Paulus dan rajin berdoa untuk perlindungan Gereja,” katanya.
END