MAKATI CITY, Filipina (UCAN) – Aleth dan Willie Hernandez, keduanya pekerja Gereja, menekan tombol komputer dan mengklik mouse di sebuah sekolah dekat Manila untuk mendaftarkan diri mengikuti program pembinaan berbasis Internet bagi katekis dan guru agama.
Pasangan itu terlibat dalam Pelayanan Hidup Keluarga di sebuah paroki di Las Pinas City, selatan Manila. Mereka mendaftarkan diri bersama lima orang lain pada 15 Agustus untuk mengikuti pelatihan sebagai “learning facilitators” (fasilitator belajar) di Komunitas Belajar Virtual untuk Pembinaan man (VLCFF, Virtual Learning Community for Faith Formation), yang dimulai oleh University of Dayton, di Ohio, Amerika Serikat.
Selain seorang guru agama, kelompok itu terdiri dari tamatan dan mahasiswa program S2 dalam Pendidikan Agama di bawah bimbingan Pastor Renato de Guzman SDB, yang mengembangkan Koneksi Asia dari VLCFF, sebuah kursus bersertifikat selama setahun untuk para katekis, guru agama, dan pembina kehidupan Kristen. Kursus itu diberikan secara lokal pada bulan Januari berdasarkan tes, sebelum dibuka untuk mahasiswa-mahasiswa dari seluruh Asia.
Mulai 31 Agustus di Institut Teknik Don Bosco di Makati City, tenggara Manila, tujuh calon fasilitator akan memberi pelatihan online selama lima minggu. Setiap fasilitator memberi pelatihan tentang sebuah pokok yang dipilih. Setelah pelatihan selama lima minggu, dari September hingga November, mereka akan belajar khususnya tentang penggunaan Internet untuk pengajaran dan pembinaan.
Institut Prakarsa Pastoral (IPI, Institute of Pastoral Initiatives) di University of Dayton mengembangkan VLCFF tahun 1990-an, demikian website VLCFF (http://vlc.udayton.edu).
Pastor de Guzman mengatakan kepada UCA News bahwa hubungan dengan IPI dimulai dengan diskusi-diskusi tahun 2004 dengan rektor institut itu yaitu Suster Angela Ann Zukowski. Waktu itu, imam itu adalah pemimpin studi di Pusat Studi Don Bosco, di Paranaque City, selatan Manila. Biarawati dari Tarekat Pembantu Misi dari Hati Kudus itu datang untuk memberi presentasi tentang The Gospel in Cyberspace: Nurturing Faith in the Internet Age (Injil dalam Ruang Maya: Membina Iman dalam Abad Internet).
Kursus setahun itu akan terdiri dari enam sampai delapan subyek, dan para mahasiswa bekerja dari komputer mereka sesuai jadwal mereka sendiri.
IPI akan menyediakan akses gratis ke fasilitas VLCFF online bagi para fasilitator dan mahasiswa. Institut Kateketik dan Pelayanan Kaum Muda di Pusat Don Bosco itu juga akan mengadaptasi kursus-kursus sesuai keperluan Filipina dan Asia, melatih dan membiayai fasilitator, serta mengelola berbagai operasi Asia.
Pastor Guzman mengatakan bahwa setiap fasilitator akan menangani sebuah komunitas maya yang terdiri dari 15 mahasiswa per subyek. Kegiatan-kegiatan belajar meliputi refleksi personal, diskusi online menyangkut buku dan bahan, diskusi kelompok online, konsultasi pribadi, dan situasi-situasi yang disimulasikan. Sebuah subyek akan meliputi seminggu kerja pribadi dan interaksi online.
Imam Salesian itu mengatakan, dia berharap bahwa VLCFF “menyiapkan katekis-katekis yang terampil dalam menggunakan berbagai teknologi baru” untuk meningkatkan evangelisasi. Dia menambahkan bahwa dia berencana untuk berusaha mendapatkan subsidi bagi para katekis yang berasal dari “paroki-paroki miskin,” termasuk dana untuk membeli komputer untuk komunitas-komunitas terpencil dan miskin.
Biaya penerimaan akan diumumkan kemudian, katanya.
Gina Esporlas, pemimpin katekis dari Keuskupan Paranaque, mengantisipasi bahwa kursus online itu akan menjadi suatu “bantuan besar” bagi para katekis yang memiliki sedikit waktu dan uang untuk pergi ke sekolah. Perempuan itu mengatakan kepada UCA News bahwa banyak katekis meninggalkan rumah mereka jam 6.00 pagi pada hari-hari biasa dan kembali malam hari setelah mengajar full-time di sekolah-sekolah negeri dengan 60-100 murid per kelas.
Dalam waktu luang mereka, para katekis itu membantu di paroki untuk mempersiapkan para calon Komuni Pertama, dan memberi pengarahan bagi mereka dan orangtua baptis mereka, kata Esporlas.
Dia mengatakan bahwa upah para katekis profesional di Metro Manila berkisar antara 8.000 hingga 10.000 peso (US$174-$218) per bulan.
Hasil awal survei 2008-2009 dari Keuskupan Agung Manila dan lima keuskupan lain di Metro Manila mencatat ada 1.764 katekis yang digaji dan katekis relawan di wilayah Metro Manila.
Menurut survei Asosiasi Paroki Keuskupan Agung Manila 2007-2008, 465 orang mengajar agama di 67 dari 90 sekolah yang menjadi anggota asosiasi itu.
Di seluruh Filipina, sedikitnya ada 14.381 katekis yang digaji dan yang suka rela, demikian survei nasional Komisi Pendidikan Katolik dari konferensi waligereja. Namun, survei hanya dijawab oleh hanya 30 persen dari paroki-paroki yang ada.
END