BATTAMBANG, Kamboja (UCAN) – Kaum muda Katolik dari Prefektur Battambang menganalisa kekuatan media modern dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Gereja baru-baru ini. Dalam seminar itu, mereka dilatih tentang cara membuat berita tentang Gereja lokal.
“Saya sadar bahwa saya terlalu banyak menonton televisi,” kata Soa Sony, satu dari 20 lebih peserta dalam seminar tentang “Pengaruh Media,” yang diselenggarakan di paroki di kota Battambang, 255 kilometer barat laut Phnom Penh.
Sony, 22, mengatakan kepada UCA News setelah seminar 11-15 Agustus itu bahwa dia menonton program “Sport Live” tiga kali seminggu dari jam 7.00 malam hingga jam 2.00 pagi, dan juga mengalami kerugian dalam taruhan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa olahraga.
Inilah salah satu dampak buruk media yang dibicarakan dalam seminar itu. Kini, Sony berjanji untuk hanya menyaksikan acara-acara televisi yang bermanfaat baginya, seperti berita, sains, dan acara bahasa Inggris. Dia juga memutuskan untuk melanjutkan sekolah menengahnya yang sudah ditinggalkannya beberapa tahun lalu.
Seminar itu diadakan oleh Prefektur Apostolik Battambang, satu dari tiga daerah yurisdiksi Gereja di negara itu, dan Komunikasi Sosial Katolik (CSC, Catholic Social Communications) di Phnom Penh. Seminar itu disenggarakan untuk menyadarkan kaum muda Battambang tentang pengaruh media dan untuk mengembangkan para reporter lokal untuk CSC.
Dalam lima hari seminar itu, para peserta belajar tentang sejarah dan pengaruh media, serta berbagai cara Gereja menggunakan media. Mereka juga mempelajari dasar-dasar peliputan, penulisan berita, dan perencanaan peliputan.
Direktur CSC, Pastor Omer Giraldo, mengatakan kepada kaum muda bahwa teknologi komunikasi sedang berkembang pesat dan media dewasa ini dapat memanfaatkannya untuk berbagai maksud. Imam dari Serikat Misi Asing Yarumal yang berpusat di tempat asalnya di Colombia itu menekankan bahwa Gereja harus menggunakan media untuk pewartaan Injil Kerajaan Allah dan kasih Allah.
Beberapa peserta mengatakan kepada UCA News bahwa mereka kini sadar bahwa media terlalu sering melakukan apa yang bertentangan dengan tujuannya dan bahkan memprovokasikan berbagai konflik.
Lon Sao, 20, bercerita bahwa bulan lalu, dalam pertikaian wilayah dengan tetangga Thailand, dia sangat marah ketika membaca berita-berita bahwa tentara Thailand berada di perbatasan. Dia mengatakan bahwa dia yakin 100 persen akan berita media lokal itu dan ingin pergi berperang jika perlu.
Um Kung, juga berusia 20 tahun, bercerita tentang bagaimana media lokal mendukung sentimen nasionalistis pada tahun 2003 setelah seorang bintang televisi Tailand diduga membuat pernyataan hinaan terhadap Kamboja. Para mahasiswa Kamboja bereaksi dengan membakar bendera Thailand di Kedutaan Besar Thailand di Phnom Penh.
Senada dengan itu, Nop Samnang mengatakan bahwa dia kini sadar bahwa media dapat meningkatkan atau menghancurkan manusia dan masyarakat.
Semua peserta mengatakan bahwa mereka kini siap memberi kontribusi kepada Gereja lokal dengan menggunakan keterampilan yang baru mereka pelajari yaitu menulis berita Gereja.
Panitia seminar, Pastor Totet Banaynal mengatakan kepada UCA News, “Kami ingin orang muda tahu tentang pengaruh media, memperoleh keterampilan baru, memberi mereka kesempatan untuk menyadari kekuatan dan kelemahan mereka.”
Imam Yesuit yang menjadi vikjen prefektur itu mengatakan, seminar itu dibuka untuk umat Katolik usia 18 tahun ke atas yang aktif dalam Gereja atau tertarik akan pewartaan Kabar Gembira.
END