KEORAPUKUR, India (UCAN) – Marcella Corraya berdoa di depan patung Maria di gereja ketika dia menunggu para siswanya.
Corraya, perempuan awam yang berusia 70 tahun itu, mempersiapkan calon pengantin yang akan menikah jam 09.00 pagi. Dia juga masih akan mengajar mereka dua jam lagi tentang iman Katolik.
Perempuan yang sudah sepuh itu termasuk dalam 22 katekis yang kini berkarya di Keuskupan Baruipur, di India bagian timur, setelah keuskupan itu menghadapi kekurangan pria untuk melakukan tugas ini. Corraya yang berbusana Sari itu bukanlah satu-satunya katekis perempuan di Paroki St. Antonius di Keorapukur, 25 kilometer tenggara Kolkata — dia adalah satu-satunya katekis di paroki itu.
Kolkata, ibukota Negara Bagian West Bengal, berjarak 1.460 kilometer tenggara New Delhi.
Corraya mengatakan kepada UCA News bahwa dia “mempersembahkan” hidupnya untuk “mengajarkan nilai-nilai dan ajaran Gereja” setelah pensiun dari tugasnya sebagai guru di sebuah sekolah formal tahun 1996. Sekarang, dia menangani “kelas-kelas khusus untuk perkawinan” di pagi hari kerja, selain tugas tetapnya “mengajar sekolah Minggu” di paroki.
Janda dan nenek itu juga memberi bimbingan bagi kaum muda, berusaha merukunkan keluarga yang “tegang,” dan mengunjungi umat untuk mendengarkan persoalan mereka dan memberi bimbingan kepada mereka secara rohani. Dia mengatakan bahwa pengalaman mengajar selama 39 tahun dan “berbagai persoalan orangtua yang dihadapinya” telah memberinya “banyak pengalaman” untuk menghadapi berbagai kelompok.
“Berbagai macam tukar pikiran” dengan banyak orang turut menguatkan imannya, kata perempuan sepuh bersuara lembut dengan latar belakang “pendidikan biara Katolik” itu.
Di sekolah Minggu yang reguler, Corraya mengajar anak-anak yang mempersiapkan diri untuk menerima Komuni Kudus Pertama atau untuk menerima Krisma, dan memberi pengarahan bagi orang-orang muda yang melangkah ke jenjang hidup perkawinan.
Kepala paroki tempat Corraya berada, Pastor Pankaj Poty, mengatakan bahwa keuskupan akhirnya beralih ke kaum wanita untuk mengajar iman kepada umat setelah kaum pria pergi ke kota dan luar negeri untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Paroki itu memiliki sekitar 6.000 umat Katolik dan “sangat sulit” baginya untuk mengunjungi semua umat, kata imam itu kepada UCA News. Kaum awam, terutama perempuan, “masuk” untuk menjadi perpanjangan tangan kepala paroki, dengan mengambil “pesan Kristus dan Gereja Bunda,” katanya. Pastor Poty mengakui bahwa para katekis perempuan di keuskupan itu “sangat aktif.”
Seorang katekis perempuan lain yang berpengalaman adalah Paulina Mondol dari Paroki St. Stefanus di Kalyanpur, sekitar 10 kilometer selatan dari Baruipur. Mondol yang pemalu di depan umum mengatakan kepada UCA News bahwa dia “gembira melakukan pekerjaan Allah.”
Pastor Himangshu Poti, sekretaris Uskup Baruipur Mgr Salvadore Lobo, melihat para katekis perempuan lebih taat dibanding kaum pria.
Mereka “melakukan sangat baik” dalam memperhatikan berbagai kebutuhan Gereja, katanya. Pastor Poti juga mengatakan bahwa para perempuan itu, seperti halnya Corraya, adalah “aset” Gereja, karena umat biasa tidak merasa ada kendala dalam berbagi persoalan dengan mereka.
Pastor Indrajit Sardar, seorang imam diosesan lainnya, mengatakan hal serupa bahwa para perempuan yang sudah sepuh seperti halnya Corraya memahami situasi dan persoalan umat lebih baik daripada para imam muda seperti dirinya.
Jhuma Sardar (tidak ada hubungan dengan imam itu), seorang bekas penganut Hindu sependapat. Perempuan berusia 28 tahun itu mengatakan kepada UCA News bahwa Corraya “mendengarkan dia dengan penuh perhatian” ketika dia ingin menikah dengan seorang Katolik dan berusaha mengikuti agama suaminya.
Selama tiga bulan, Corraya mengajar Sardar setiap pagi, setelah itu Sardar dibaptis. Pelajaran itu membuatnya mengerti dan menghargai imannya yang baru, kata Sardar, sambil menambahkan bahwa Corraya juga menjadi “ibu baptis” baginya.
Sekali setahun, keuskupan mengumpulkan semua katekis perempuan untuk seminar sehari dan pada kesempatan itu mereka menyempatkan waktu untuk berdoa, meditasi, dan berbagi pengalaman.
END