MARAWILA, Sri Lanka (UCAN) – Sebuah mukjizat penyembuhan yang diberitakan 60 tahun lalu di sebuah tempat ziarah di daerah pesisir mengakibatkan terjadinya banyak devosi yang terus menarik puluhan ribu orang untuk merayakan hari raya yang diselenggarakan setiap tahun di tempat ziarah itu.
Pada 14 September, hari raya Salib Suci, lebih dari 150.000 umat Buddha, Hindu, dan Katolik datang ke tempat ziarah Salib Suci itu. Tempat itu terletak di tengah sebuah pemakaman dekat kota Marawila.
Tempat ziarah yang memiliki sebuah bangunan sederhana yang terbuka di kedua sisi dengan sebuah sar itu terletak sekitar 50 kilometer utara Colombo. Tempat ziarah itu berada di Paroki Our Lady of Presentation dekat Marawila.
Banyak orang menganggap tempat itu sebagai sebuah tempat penyembuhan. Para peziarah berikrar dan memberi persembahan, dengan harapan akan mengalami penyembuhan bukan saja dari penyakit dan cacat, tetapi juga berbagai persoalan keluarga.
Godfrey Amaratunga, 65, pengurus utama tempat ziarah itu, mengatakan bahwa popularitas tempat ziarah itu dimulai ketika sebuah mukjizat dilaporkan terjadi tahun 1947. Di daerah pesisir itu terjadi epidemi penyakit kulit dan seorang ibu membawa putrinya yang menderita penyakit itu ke tempat ziarah itu. Ibu itu diminta membasuh kaki Yesus yang tersalib, menggunakan air itu untuk memandikan putrinya, dan kemudian memberi putrinya air itu untuk diminum.
Saat berita itu tersebar luas bahwa putrinya sembuh, para tetangga mulai terduyun-duyun ke tempat itu, demikian ceritanya. Mulai saat itu, para peziarah datang dengan membawa minyak untuk mengurapi kaki Yesus, kemudian menggunakan minyak itu untuk tubuh mereka, katanya.
Seorang perempuan Hindu setengah baya yang mengidentifikasi dirinya sebagai E. Uganeswari bercerita bahwa satu keluarga dari saudaranya bertikai dan retak 20 tahun lalu. Tetapi salah satu anggota keluarga itu datang beberapa kali ke tempat ziarah itu dan berdoa, akhirnya keluarga itu rukun dan bersatu kembali.
“Mulai saat itu dan selanjutnya, para anggota keluarga itu dan sanak saudara lainnya mulai membiasakan diri untuk berziarah ke tempat itu setiap tahun,” lanjut perempuan itu. “Kami datang ke sini karena inilah tempat kami menerima berbagai berkat.”
Perempuan itu mengatakan kepada UCA News bahwa walaupun dia bukan Katolik, dia datang ke tempat ziarah itu setiap tahun. “Saya datang ke sini dari Colombo dengan lebih dari 75 umat Hindu untuk menghadiri hari raya ini” pada tahun ini, katanya.
A. Selvaratnam, 50, seorang imam Hindu yang juga datang dari Colombo, menyebut tempat ziarah itu “sebuah tempat yang penuh kekuatan dan kedamaian.”
Dia mengatakan, ia tidak punya “rasa kecurigaan” ketika mengunjungi tempat-tempat ibadat dari agama-agama lain dan dia “gembira bisa datang setiap tahun dengan segenap umatnya ini.”
Casmira Fernando, 54, seorang Buddha, yang berlutut di lantai berpasir dari tempat ziarah di pinggir pantai itu, mengatakan bahwa dia dan suami, Ajith, sudah biasa datang sejak lima tahun terakhir. “Saya merasakan keamanan dan persatuan di sini, dan suami saya mengatakan bahwa bisnisnya mulai bertumbuh baik ketika dia datang ke sini dan berdoa,” katanya.
Menurut Pastor Felix Colombage, kepala Paroki Marawila, tempat ziarah itu terbuka 24 jam setiap hari untuk para peziarah. “Kami menjaga tempat ini sesederhana mungkin semampu kami dan mengijinkan semua kaum beriman untuk berdoa dalam keheningan, dan tidak mengganggu satu sama lain,” kata imam itu.
Dia menyambut baik para peziarah non-Kristen. “Kami tahu bahwa sejumlah besar umat Hindu dan Buddha datang ke sini karena berbagai mukjizat,” kata imam itu, sambil menambahkan bahwa kadang-kadang “mereka datang bertemu dengan kami” dan “kami menolong mereka menyangkut ikrar dan persembahan mereka.” Namun, dia menegaskan, “kami tidak pernah meminta mereka menjadi Kristen.”
Menurut Amaratunga, 65, tempat ziarah itu dikunjungi tidak saja pada hari raya itu. Hampir setiap hari Jumat ada ribuan orang berkumpul, “di antara mereka terdapat sejumlah besar umat Hindu dan Buddha,” katanya. “Tetapi mereka benar-benar datang dan berdoa. Mereka berbicara dengan kami dan berbagi pengalaman tentang kesembuhan dari berbagai penyakit serius yang mereka alami setelah berdoa di sini, dan bagaimana mereka mengalamai terselesaikannya berbagai permasalahan keluarga dan permasalahan yang lain.”
Pastor Ferdinand Thiri, kepala Paroki Marawila waktu itu, membawa salib besar yang kini berdiri di tempat ziarah itu dari Bangalore, India, tahun 1920, lanjut Amaratunga.
END