MANILA (UCAN) – Seorang perempuan Filipina yang ditunjuk paus untuk menghadiri Sinode Sabda Allah pada Oktober telah bekerja memperkuat ikatan keluarga melalui Kitab Suci.
Elvira Yap Go mendirikan Kuis Kitab Suci Keluarga Katolik Nasional (National Catholic Family Bible Quiz) tahun 2004 “sebagai sarana untuk mempersatukan keluarga-keluarga,” kata perempuan berusia 53 tahun itu kepada UCA News pada 23 September di kantornya di Manila.
Ia yakin bahwa keluarga-keluarga hendaknya beraksi untuk mengakhiri perang guna memberikan anak-anak kesempatan demi masa depan yang lebih cerah.
Paus Benediktus XVI menunjuk Go, seorang penerima penghargaan paus, satu dari 25 perempuan auditor dan pakar untuk Sidang Umum Biasa dari Sinode Para Uskup ke-12, yang diselenggarakan 5-26 Oktober dengan tema: The Word of God in the life and mission of the Church (Sabda Allah dalam kehidupan dan misi Gereja).
Ia bercerita tentang dimulainya kuiz itu setelah seorang imam memberikan dia sebuah Kitab Suci anak-anak dengan permohonan untuk menyumbangkan dana bagi sebuah kuiz Kitab Suci paroki. Ia mengatakan kepada UCA News bahwa ia mengambil ini sebagai undangan Allah baginya untuk melakukan banyak hal bagi keluarga-keluarga. Dengan bantuan dari para uskup dan ketua dari tiga komisi waligereja, ia meluncurkan kuiz itu.
Keluarga-keluarga yang menang dalam lomba tingkat keuskupan dan dikirim ke lomba regional yang waktu itu sedang berlangsung untuk menjadi finalis. Kuiz terakhir pada Januari diikuti oleh 64 jurisdiksi Gereja.
Awal tahun ini, dalam sebuah seminar Kitab Suci di Bontoc, Propinsi Mountain, 365 kilometer utara Manila, Joan Palking dengan cepat berteriak nama buku dan bab dari sebuah ayat Kitab Suci yang dibacakan pelatih.
Gadis berusia 10 tahun itu mengatakan kepada UCA News bahwa kisah Musa adalah favoritnya karena ibunya membeli sebuah buku ilustrasi tentang kisah itu untuknya. Ia mengatakan ibunya sering membaca Kitab Suci berbahasa Inggris untuk dia, menerjemahkannya ke dalam dialek suku Kankana-ey, dan bercerita dengan dia tentang berbagai pengalaman yang muncul dalam benaknya setelah mendengar kisah Musa.
Seperti kuiz keluarga-keluarga lain, Palking bersiap untuk lomba-lomba itu dengan mengintegrasikan bacaan Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua belajar Kitab Suci bersama anak-anak mereka dan membahas pengalaman harian serupa dengan teks Kitab Suci. Anak-anak yang lebih tua membaca Kitab Suci kepada adik-adik kandung mereka. Anak-anak Palking bahkan melewatkan acara TV untuk membaca Kitab Suci, kata ibu mereka.
Di Manila, Go mengatakan kepada UCA News bahwa ia telah melihat Sabda Allah menjadi “kekuatan pemersatu” dalam kuiz Kitab Suci.
Lima peserta Filipina yang dijadwalkan hadir dalam sinode itu adalah para anggota hirarki. Sebagai delegas, Konferensi Waligereja Filipina memilih Uskup Sorsogon Mgr Arturo Bastes, Uskup Imus Mgr Luis Tagle, Uskup Auxilier San Fernando Mgr Pablo David, dan Uskup Broderick Pabillo dari Manila. Uskup Agung Orlando Quevedo dari Cotabato, sekretaris jenderal Federasi Konferensi-Konferensi Waligereja Asia (FABC, Federation of Asian Bishops’ Conferences), hadir sebagai pilihan paus.
Go mengatakan kepada UCA News bahwa ia tidak mempersiapkan diri untuk diskusi-diskusi kelompok kecil yang akan diikutinya. Dia akan “membiarkan Roh Kudus berbicara” melaluinya, karena dia mengatakan bahwa Roh Kudus telah melakukan hal itu sejak tahun 2001. Dia juga mempercayakan dirinya kepada Roh Kudus ketika dia heran mengapa paus menunjuknya, “seorang wanita biasa” dan “bukan seorang intelektual.”
Tahun 2003, katanya mengenang, kekacauan pembukuan seorang penerbangan membuatnya memperoleh sebuah tiket ekstra yang bisa digunakan oleh seorang pekerja Gereja untuk menghadiri Pertemuan Keluarga Internasional IV. “Roh Kudus punya cara sendiri,” katanya menyimpulkan.
Selain sebagai seorang tokoh Karismatik, Go juga mengadakan acara “Power to Unite” (Kekuatan untuk Menyatukan), sebuah acara televisi yang dia mulai tahun 2007. Acara itu ditayangkan secara mingguan di dua saluran televisi. Promotor Kitab Suci itu juga mengetuai International Organization of Folk Arts Philippines, yang bertujuan untuk meningkatkan nilai-nilai di kalangan anak-anak sekolah negeri di seluruh Filipina dengan mengunakan cerita-cerita mithos dan legenda.
Dia mengatakan kepada UCA News bagaimana sebuah ziarah ke tempat ziarah Maria di Lourdes, Prancis, tahun 1997, mengubahnya menjadi seorang pembicara dan penasehat bagi terbentuknya keluarga-keluarga yang kuat. Ia menggambarkan adanya sebuah ”visi tentang Yesus” ketika dia melakukan Jalan Salib. Seorang imam mengatakan kepadanya bahwa itu merupakan sebuah panggilan untuk misi, tetapi dia menolaknya.
Tahun 2000, dia enggan menerima undangan seorang uskup untuk berbicara dalam sebuah Misa. Ia bercerita bahwa tanpa mempersiapkan diri berarti ”menyerahkan kepada Roh Kudus.” Dia akhirnya menyimpulkan dalam pembicaraannya tentang perlunya melindungi keluarga dan peran perempuan sebagai ibu.
Go mengatakan bahwa dia mengerti ketika dia berbicara bahwa “Yesus menginginkan saya menerima misi itu untuk berbicara tentang pentingnya keluarga, dan saya akhirnya menerimanya.”
END