THIRUVANANTHAPURAM, India (UCAN) – Korupsi finansial di tubuh klerus mempercepat kontroversi yang bermuara pada suspensi uskup, kata sejumlah tokoh awam di Negara Bagian Kerala, India bagian selatan.
Kontroversi itu menjadi pukulan bagi Gereja Kerala pada pertengahan September, ketika media memberitakan bahwa Uskup Cochin Mgr John Thattumkal mengadopsi seorang perempuan berusia 26 tahun menjadi “putrinya.” Vatikan menjatuhkan suspensi kepada prelatus itu pada 23 Oktober.
“Kontroversi itu timbul karena adanya korupsi di tubuh klerus,” demikian Felix J.J. Pullooden, ketua Asosiasi Katolik Latin, yang berbasis di Kochi (sebelumnya Cochin), 2.595 kilometer selatan New Delhi.
Kontroversi itu “bukanlah suatu isu kanonik, tetapi merupakan akibat dari korupsi luar biasa yang mengakar dalam Gereja di Kerala,” kata Pullooden kepada UCA News pada hari sebelum prelatus dikenai suspensi.
Pria berusia 46 tahun yang memimpin asosiasi awam itu dikenai suspensi oleh Uskup Agung Verapoly Mgr Daniel Acharuparambil tahun 2006 karena melawan para klerus.
Verapoly, yang juga berbasis di Kochi, ibukota komersial Kerala, adalah satu dari dua keuskupan agung ritus Latin di Kerala, dan Cochin termasuk dalam provinsi eklesial yang dipimpinnya. Secara teknis, Verapoly adalah takhta metropolitan dan Cochin adalah salah satu keuskupan sufragannya.
Ketika Uskup Agung Acharuparambil berusaha memecat Pullooden dari posisinya sebagai ketua Asosiasi Katolik Latin itu tahun 2006, pria awam itu menolak meninggalkan jabatannya, dengan mengatakan bahwa uskup agung tidak punya kuasa untuk memecatnya. Asosiasi itu mempunyai unit di semua 11 keuskupan ritus Latin di Kerala, basis dua Gereja Oriental di India.
Tokoh awam yang mengklaim memiliki ratusan umat pendukungnya itu mengatakan, kontroversi adopsi itu menjadi berita utama surat kabar segera setelah Uskup Thattumkal “tiba-tiba” memindahkan prokuratornya yang menangani dana-dana keuskupan.
Dalam Gereja, beberapa imam Keuskupan Cochin menyampaikan keluhan kepada uskup agung Verapoly, yang punya otoritas untuk memastikan apakah disiplin Gereja dijalankan di keuskupan-keuskupan sufragan yang dipimpinnya. Para imam juga menyampaikan keluhan kepada Duta Vatikan untuk India yaitu Uskup Agung Pedro Lopez Quintana.
Pullooden mengatakan, dia punya informasi bahwa prokurator itu “dipindahkan setelah setelah uskup menemukan jutaan rupee menguap entah ke mana” dalam sejumlah perundingan tertentu.
Menurut dugaan ketua asosiasi awam itu, imam membuat perundingan dengan sejumlah pengusaha di bidang perumahan untuk menjual tanah milik Gereja di kota itu. “Imam itu berusaha menurunkan harga tanah itu” dan menggelapkan sekitar 40 juta rupee (sekitar US$800,000), katanya.
Selain itu, uskup juga menemukan kesimpangsiuran dalam audit keuangan. “Itulah yang memicu kontroversi,” kata Pullooden.
Joseph Andrews, seorang tokoh awam Gereja Katolik ritus Latin di Kochi, mengatakan kepada UCA News, klerus itu sudah “sedemikian mengakar di dalam korupsi” dan transaksi keuangan di berbagai keuskupan “memang tidak transparan.”
Walaupun para pemimpin Gereja meminta keterlibatan kaum awam dalam badan-badan pengambilan keputusan, katanya, namun dalam praktek mereka menyisihkan kaum awam dan membentengi “orang yang paling korup” di antara klerus. “Praktek ini sudah berlangsung berabad-abad,” lanjutnya.
Andrews menyebut sebuah insiden yang katanya 20 juta rupee tunai ditemukan dalam kotak-kotak di kediaman seorang imam yang membangun sebuah gereja. “Kepentingan pribadi dan rakus uang,” bukan masalah-masalah iman, kini memotivasi para imam, katanya dengan rasa kesal.
Pullooden memperjelas bahwa ia tidak memihak Thattumkal Uskup maupun imam itu. “Saya berpihak pada Gereja dan merasa bahwa kontroversi itu membingungkan umat dan menghancurkan reputasi Gereja,” katanya.
Asosiasinya itu mengadakan suatu aksi protes duduk di depan kediaman uskup agung Verapoly pada 22 Oktober. Mereka menuntut tindakan langsung terhadap uskup itu menyangkut adopsi.
END