THIRUVANANTHAPURAM, India (UCAN) – Sebuah tim administratif yang baru telah dibentuk di sebuah keuskupan di India bagian selatan yang uskupnya terkena suspensi dari Vatikan karena mengadopsi seorang perempuan muda.
Tim baru yang terdiri dari vikaris jenderal (vikjen), penasehat, dan prokurator itu dibentuk untuk Keuskupan Cochin pada 26 Oktober, tiga hari setelah Uskup John Thattumkal terkena suspensi. Prelatus itu mulai memimpin keuskupan itu sejak tahun 2000.
Uskup Agung Verapoly Mgr Daniel Acharuparambil membentuk tim itu setelah Vatikan menjadikannya administrator untuk Keuskupan Cochin. Dia membuat pengumuman itu dalam pertemuan para imam dari keuskupan itu di kediaman uskup di Cochin.
Verapoly mengepalai provinsi gerejawi yang antara lain beranggotakan Keuskupan Cochin. Keuskupan Cochin maupun Keuskupan Agung Verapoly berbasis di Kochi, yang sebelumnya bernama Cochin, 2.595 kilometer selatan New Delhi.
Hukum Gereja menyatakan bahwa bila seorang uskup terkena suspensi, maka jabatan vikjennya dan para vikaris episkopal yang mengambil bagian dalam kuasa eksekutif uskup, juga terkena suspensi, kecuali jika mereka itu adalah uskup-uskup. Karena itu tugas-tugas penting ini membutuhkan sebuah tim yang baru.
Dalam sebuah siaran pers di kediaman uskup agung Verapoly, dikatakan bahwa uskup agung menunjuk Pastor Antony Thachara sebagai vikjen yang baru, Pastor Dominic Aluvaparambil sebagai prokurator, dan Pastor Augustine Nellickavayalil sebagai penasehat. Ketiga imam dari Keuskupan Cochin ini menurut laporan termasuk dalam kelompok imam-imam yang bersikap netral dalam kontroversi yang mengakibatkan Uskup Thattumkal terkena suspensi.
Setelah suspensi dijatuhkan, Uskup Agung Acharuparambil juga membentuk sebuah komisi yang terdiri dari tiga uskup untuk menyelidiki berbagai dugaan terhadap Uskup Thattumkal. Komisi itu terdiri dari Uskup Kottapuram Mgr Francis Kallarakal, Uskup Vijayapuram Mgr Sebastian Thekethecheril, dan Uskup Neyyatinkara Mgr Vincent Samuel.
Uskup Thattumkal terkena suspensi setelah media Kerala melaporkan bahwa prelatus berusia 58 tahun itu mengadopsi seorang perempuan bernama Sony Joseph, 26, sebagai putrinya.
Uskup yang pakar hukum kanonik itu mendaftarkan adopsi itu di kantor pemerintah pada 9 September, dengan memberi hak kepada Joseph untuk mewarisi aset-aset pribadi uskup itu. Prelatus itu bertemu dengan perempuan itu ketika mengadakan ziarah ke Tanah Suci pada bulan April.
Sementara itu, Uskup Thattumkal meninggalkan kediaman uskup di Cochin pada 26 Oktober dan pindah ke biara para imam dari Tarekat St. Joseph Benedict Cottolengo, dekat Kochi, demikian seorang imam diosesan yang meminta tidak menyebut jatidirinya. Uskup Thattumkal adalah anggota tarekat itu.
“Dia hanya membawa sebuah tas kecil dan hanya sekitar 20.000 rupee (US$500) yang dia peroleh dari tiga saudaranya. Dia mengatakan kepada saya, dia sangat terluka karena kontroversi itu,” kata imam itu.
Beberapa kaum awam juga sedih tentang suspensi yang dijatuhkan pada Uskup Thattumkal, seorang asli Cochin dan seorang imam diosesan dari keuskupan itu sampai dia bergabung dengan komunitas Cottolengo sekitar 20 tahun lalu.
Thomas Andrews, seorang tokoh awam dan pengacara, mengatakan perginya Uskup Thattumkal dan kontroversi terkait itu “akan menghantui Gereja selamanya.” Andrews juga mencatat bahwa tidak ada seorang awam yang berbicara memojokkan Uskup Thattumkal atau terlibat aksi yang membuatnya pergi. “Perginya prelatus itu disebabkan oleh klerus yang memicu kontroversi di media, dan Vatikan yang bertindak tergesa-gesa,” katanya kepada UCA News pada 27 Oktober.
Menurut Andrews, uskup yang terkena suspensi itu berusaha untuk memastikan keterlibatan maksimum kaum awam dalam keuskupan, namun para imam bersungut-sungut. “Uskup juga kuatir tentang korupsi yang merajalela di kalangan para imam,” lanjutnya.
Pengacara itu mengatakan, kaum awam memang tidak menyetujui tindakan uskup mengadopsi seorang perempuan muda, namun mereka juga tidak gembira dengan para klerus yang menjerumuskan diri ke dalam suasana para politisi dan bersekongkol melawan uskup.
Antony Kureethara, seorang tokoh awam lain, mengatakan bahwa seorang imam bahkan mengeluarkan “berbagai pernyataan tanpa bukti yang melecehkan” Uskup Thattumkal bahkan dalam kotbahnya pada 26 Oktober. Kaum awam berencana mengajukan petisi kepada uskup agung berkenaan dengan klerus seperti itu, katanya kepada UCA News.
END