DEREKABAD, Pakistan (UCAN) – Sebuah tempat ziarah Maria yang dibuat di padang pasir di Propinsi Punjab menjadi pusat devosi bagi umat Kristen cacat. Tempat ziarah itu menarik ribuan peziarah sejak didirikan 30 tahun lalu.
Sedikitnya 7.000 umat Katolik berkumpul pada 24-26 Oktober di tempat ziarah Mariam Ziarat Nagar di padang pasir Thal di Derekabad, 500 kilometer barat daya Islamabad, untuk ziarah “Maria, Ratu dari Thal” ke-20 tahun. Keuskupan Multan yang menangani tempat ziarah itu, membangun tempat itu sesuai pola tempat ziarah Maria di Lourdes, Prancis.
Setiap hari dari ziarah tiga hari itu memiliki tema sendiri-sendiri — Maria, rasul pertama; Maria dan Sabda Allah; Maria, model iman.
Festival itu dimulai mulai 24 Oktober sore yang dipimpin enam imam di gerbang dari tempat ziarah itu. Warga desa menari sesuai irama musik pukulan dhol, tambur Asia Selatan, dan melemparkan lembaran-lembaran rupee kepada para imam saat mereka bergerak menuju gua Maria, yang telah dihias dengan lampu. Slogan “Salam Maria, Ratu Thal” terdengar di gua itu saat seorang imam memasang sebuah mahkota emas di patung Maria.
Bashir Masih, 73, membawa putranya Yaqoob yang berusia 40 tahun ke gua itu. Dia mengalami cacat mental dan fisik. Pria lanjut usia itu mengatakan kepada UCA News, Yaqoob sangat gembira sebelumnya dan terus bertanya kapan ziarah dimulai lagi. “Saya menjadi kakinya sejak dia lahir. Saya membawanya setiap tahun dengan mengharapkan bahwa sebuah mujizat terjadi, sebab saya semakin tua,” kata Bashir.
Banyak yang lain juga membawa anak-anak atau sanak keluarga yang cacat ke depan altar agar diberkati oleh Uskup Multan Mgr Andrew Francis dalam ibadat penyembuhan yang diadakan 25 Oktober.
Ibadat penyembuhan seperti biasa dilakukan seusai Misa setiap hari. Para perempuan membawa syal berwarna-warni dalam persembahan, yang kemudian mereka gunakan untuk melap-lap gua itu. Para imam juga menerima kambing dan ayam bersama roti dan anggur sebagai persembahan Misa.
Para siswa dari sekolah-sekolah Katolik dan berbagai kelompok paduan suara dari kota-kota mementaskan drama dan menyanyikan puji-pujian setelah acara Misa. Setelah liturgi di penghujung ziarah tiga hari itu, para imam mengundang seluruh umat untuk makan siang.
Pastor Eric Lakman, bekas kepala Paroki Derekabad, mengatakan kepada UCA News bahwa paroki telah menyediakan dua truk untuk mengangkut umat Katolik di sekitar paroki padang pasir itu. “Umat paroki tinggal di kebun-kebun yang berjarak satu atau dua kilometer dari satu sama lain. Pelayanan angkutan yang gratis ini disediakan bagi mereka yang tinggal sekitar 20 kilometer dari gua Maria itu,” katanya.
Tempat itu diberi nama Derekabad sebagai penghormatan terhadap Pastor Derek Misquita yang memulai paroki padang pasir itu untuk para petani Kristen tiga dekade lalu. Imam dari Kongregasi Misionaris Oblat Maria Imakulata itu (OMI) itu memulai misi di wilayah itu tahun 1985 dan mendirikan gua Maria itu tahun 1988. Umat Katolik setempat menghormati Bunda Terberkati itu sebagai “Ratu Padang Pasir.” Pastor Temsey Croos OMI asal Sri Lanka, yang membangun gua itu, dimakamkan di kompleks tempat ziarah itu.
END