Manila (UCAN) — Seorang aktivis wanita Muslim yang mempromosikan studi mengenai pemikiran Islam dan politik demokratis untuk menciptakan perdamaian di Filipina, diundang hadir pada seminar Forum Katolik-Muslim di Roma, 4-6 November.
Amina Rasul, anggota Dewan untuk Islam dan Demokrasi menjadi satu satunya peserta dari Filipina, demikian laporan Mindanews, sebuah online news service yang berbasis di Mindanao, Filipina selatan.
Dewan yang ia bantu dirikan adalah sebuah organisasi non-pemerintah yang bertujuan mewujudkan suatu Mindanao Muslim yang damai, progresif, dan demokratis.”
Forum Katolik-Muslim ini bermula dari sebuah pertemuan yang dihadiri lima orang cendekiawan Muslim dan lima orang wakil Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama pada bulan Maret lalu di Vatikan.
Seminar yang diadakan awal November ini telah diumumkan jauh hari dalam sebuah pernyataan tertanggal 6 Maret yang ditandatangani Kardinal Jean-Louis Tauran, presiden dewan kepausan tersebut, dan Sheikh Abdal Hakim Murad, imam Masjid Cambridge dan direktur Perkumpulan Akademis Muslim. Pernyataan itu menyebutkan bahwa seminar ini merupakan yang pertama diadakan oleh Forum Katolik-Muslim untuk memajukan dialog antara umat Katolik dengan umat Islam.
Wakil-wakil Muslim dan Katolik, masing-masing 24 orang didampingi masing-masing 5 orang ahli, telah diundang untuk mengikuti seminar 4-6 November ini.
Diskusi-diskusi dua hari pertama berfokus pada tema, “Mencintai Tuhan, Mencintai Sesama.” Sesi pada tanggal 4 November berfokus pada landasan teologis dan spiritual ajaran Kristen dan Islam tentang kewajiban mencintai Tuhan dan sesama. Dan hari berikutnya mengenai “martabat manusia dan sikap saling menghormati,” demikian pernyataan tersebut.
Paus Benediktus XVI dijadwalkan bertemu para peserta sebelum mereka memulai sesi sore di Universitas Kepausan Gregoriana.
Dalam sebuah pesan kepada UCA News 27 Oktober, Amina mengatakan bahwa dia mendukung A Common Word, surat terbuka yang ditandatangani 138 cendekiawan Muslim sebagai reaksi terhadap kuliah terbuka Paus Benediktus XVI di Universitas Regensburg, Jerman, tahun 2006. Kutipan paus mengenai sejarah yang mengaitkan Islam dengan kekerasan telah memicu debat dan kemarahan para cendekiawan Muslim.
Menjelang keberangkatannya ke Roma, Amina mengatakan bahwa ia masih prihatin tentang “krisis kemanusiaan” di Mindanao di mana ribuan orang meninggalkan rumahnya untuk menyelamatkan diri dari perang antara pemerintah dan pasukan Front Pembebasan Islam Moro (MILF). Peperangan terjadi di beberapa daerah menyusul kegagalan penandatanganan persetujuan perdamaian pada bulan Agustus.
Lebih dari 80 persen atau sekitar 5 juta umat Islam di Filipina tinggal di Mindanao, wilayah yang MILF perjuangkan sejak tahun 1970 untuk mendapatkan hak untuk pemerintahan sendiri. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2007, 81 persen dari 88,57 juta rakyat Filipina beragama Katolik.
Pada 30 Oktober Uskup Antonio Ledesma dari Cagayan de Oro, ketua Komisi Dialog Antaragama Konferensi Waligereja Filipina, mengatakan kepada UCA News bahwa forum ini “penting” karena membuka jalan bagi dialog yang berkelanjutan. Katanya, tema tersebut, yang diambil dari surat terbuka para cendekiawan Muslim, “menyatakan bahwa kaum Muslim juga memiliki dua perintah besar sama seperti yang dimiliki orang orang Kristen yaitu mencintai Tuhan dan mencintai sesama.”
Dalam wawancara melalui telpon, uskup Jesuit itu mengatakan, (kesamaan) ini menjadi “dasar bagi dialog yang berkelanjutan dan aksi bersama.”
Dalam pandangan Uskup Ledesma, seminar dan forum ini menunjukkan “bahwa para pemimpin agama-agama Islam dan Kristen mau keluar dari” kesalahpahamannya sejak awal dan “bahwa nilai-nilai tertinggi dan kepercayaan Islam dan Kristen adalah perdamaian, cinta terhadap Tuhan dan cinta terhadap sesama.”
Uskup berharap pertemuan Vatikan ini dapat mengilhami pertemuan-pertemuan antara para pemimpin Kristen dan Islam di Mindanao tentang cinta terhadap Tuhan dan cinta terhadap sesama.
Amina dapat memberi banyak sumbangan pemikiran kepada diskusi-diskusi di Vatikan, dan juga membantu bagi terwujudnya pengertian bersama di kalangan kelompok-kelompok Muslim di Filipina, “dan saling pengertian dengan para pemimpin Kristen,” kata Uskup Ledesma.
Uskup itu mengatakan, Amina adalah puteri seorang mantan senator dan berasal dari Jolo, Provinsi Sulu , di Daerah Otonom di Mindanao Muslim.
Perempuan berusia 54 tahun itu merupakan orang Filipina pertama yang diundang sebagai anggota masyarakat cendekiawan senior oleh Institut Perdamaian AS yang berpusat di Washington, tahun 2001-2002. Ia juga mengajar bidang studi tentang perdamaian dan konflik pada Universitas Kepausan Santo Tomas di Manila.
END