GUWAHATI, India (UCAN) — Para uskup dan tokoh awam bergabung dengan para tokoh politik dalam mengutuk rentetan 13 ledakan bom yang menewaskan 65 orang dan mencederai 300 orang di Negara Bagian Assam, India bagian timur laut.
Mereka yang cedera termasuk seorang gembala dari Gereja Baptis di Guwahati, ibukota perdagangan Assam, 1.960 kilometer timur New Delhi. Satu dari rentetan ledakan yang terjadi 30 Oktober di wilayah perdagangan Panbazar di kota itu menghancurkan beberapa bagian dari Gereja Baptis Guwahati, di mana pendeta itu menjadi anggotanya.
Ledakan itu juga menghancurkan sekitar 15 toko milik gereja tersebut, kata Pendeta M. Haokhothong, seorang gembala senior Gereja Baptis di kota itu, kepada UCA News. “Bagian depan bangunan gereja dan sebagian dari tempat tinggal pendeta hancur, dan pendeta itu mengalami cedera,” kata Pendeta Haokhothong.
Gereja Katolik sangat sedih bahwa ledakan-ledakan di wilayah-wilayah perbelanjaan terkenal menewaskan banyak orang yang tidak bersalah, kata Uskup Agung Guwahati Mgr Thomas Menamparampil SDB. Enam dari ledakan itu terjadi di Guwahati.
“Dengan rendah hati, kami meminta semua orang yang merasa prihatin untuk bersama-sama mengupayakan perdamaian, karena kita semua adalah satu kelompok manusia tanpa memandang agama, kasta dan golongan,” kata Uskup Agung Menamparampil kepada UCA News.
Uskup agung yang telah berkarya di dan sekitar Assam selama empat dekade terakhir ini telah memprakarsai sejumlah kelompok perdamaian antargolongan dan bekerja bersama orang-orang dari berbagai agama di wilayah yang dilanda kekacauan dan kekerasan etnis tersebut. Migrasi umat Islam dari Bangladesh merupakan penyebab terjadinya sejumlah kekerasan itu.
Tidak satu pun kelompok yang bertanggungjawab atas ledakan-ledakan itu. Ledakan-ledakan itu sepertinya dikoordinir karena semua terjadi dalam waktu 75 menit, kata para penyelidik kepada media. Kokrajhar dan Barpeta masing-masing mengalami tiga ledakan, dan Bongaigaon, sebuah kota besar lainnya, mengalami satu ledakan. Bom-bom itu diletakkan di becak, mobil, dan kendaraan lainnya, kebanyakan di tempat-tempat perdagangan.
Allen Brookes, juru bicara Keuskupan Agung Guwahati, mengatakan kepada UCA News bahwa masyarakat di Assam tidak memahami maksud para pelaku peledakan dan mengapa ini harus terjadi. “Selalu ada jalan damai untuk menyelesaikan segala masalah yang dihadapi manusia,” lanjutnya. Di antara 65 orang yang tewas adalah dua anak laki-laki dari Lewis Memorial Hotel yang dikelola oleh Gereja Baptis, kata Brookes, yang melaporkan dari sebuah tempat ledakan.
Menurut Pastor S. Santiago, sekretaris umum Forum Kristiani Assam, para penolong tidak dapat bergerak bebas di daerah-daerah yang terpengaruh karena jam malam yang diberlakukan pemerintah setelah orang-orang yang marah turun ke jalan-jalan untuk memprotes ledakan-ledakan tersebut. Jam malam mungkin akan longgar jika situasi membaik, demikian prediksinya.
Konferensi Waligereja India mengutuk ledakan-ledakan itu dan menyampaikan doa sepenuh hati bagi keluarga para korban. Konferensi ini juga berdoa agar orang-orang yang cedera cepat sembuh dan berbesar hati untuk menghadapi penderitaan mereka.
Pernyataan pers tertanggal 30 Oktober dari para uskup mengatakan bahwa bangsa itu tengah menghadapi sejumlah tantangan berat dari musuh-musuh di luar dan di dalam negeri itu, dengan banyak penjahat saat ini tanpa rasa malu merencanakan aksi kekerasan dan terorisme hanya untuk menunjukan keberadaan mereka.
Konferensi Waligereja India mengatakan bahwa inilah saatnya bagi orang-orang India untuk bersatu dan melawan terorisme dengan seteguh hati. Konferensi Waligereja India ingin agar bangsa itu bersatu dan menghadang segala rencana dari elemen-elemen yang tidak patuh hukum.
Di antara mereka yang mengutuk ledakan-leadakan itu, Dewan Kristiani Seluruh India yang bersifat ekumenis mendorong masyarakat agar menjaga perdamaian dan ketenangan pada masa tragis ini. Dewan itu meminta umat Kristen dan umat lainnya untuk bekerja sama dengan petugas keamanan dalam memerangi terorisme.
Perdana Menteri India Manmohan Singh mengumumkan pemberian kompensasi sebesar 100,000 rupee (sekitar US$2,000) kepada keluarga dari para korban yang tewas. Ia juga memberi 50.000 rupee kepada setiap orang yang cedera.
Presiden Pratibha Patil mengatakan bahwa kekerasan tidak mendapat tempat dalam masyarakat India. “Saat ini, kita semua hendaknya bersatu melawan kekuatan-kekuatan yang memecah-belah di negeri ini,” demikian pernyataannya pada 30 Oktober.
Wakil Presiden Mohammad Hamid Ansari sangat terkejut dengan banyaknya kematian dan korban di antara orang-orang yang tidak bersalah. Ia mengatakan bahwa aksi-aksi teroris itu bertujuan untuk mengacaukan kerukunan masyarakat. Ia juga mendorong warga untuk bersatu melawan momok ini.
END