UCAN Indonesia Catholic Church News
UCAN Spirituality | A service of UCA News

HONG KONG – Para Uskup Minta Para Imam Paroki Menerima Berbagai Gerakan Gereja Baru

17/11/2008

HONG KONG (UCAN) — Dua uskup di Hong Kong telah meminta para pastor paroki mereka berwaspada dan menyambut baik gerakan baru termasuk Cara Katekese Baru (Neocatechumenal Way) dalam menanggapi permintaan paus pada kunjungan ad limina pertama uskup-uskup itu ke Vatikan.

Joseph Kardinal Zen Ze-kiun, 76, dan Uskup Koadjutor John Tong Hon, 69, menyampaikan permintaan mereka itu dalam sebuah pertemuan khusus pada 7 November dengan sekitar 120 imam diosesan dan religius yang melayani paroki-paroki di Hong Kong.

Kedua prelatus itu menyoroti keprihatinan Paus Benediktus XVI yang terungkap pada akhir Juni saat kunjungan ad limina mereka. Para uskup biasanya membuat kunjungan itu setiap lima tahun untuk melaporkan tentang keuskupan mereka kepada paus dan para pejabat Vatikan, namun kunjungan ad limina terakhir Keuskupan Hong Kong adalah tahun 1996.

Kardinal Zen membuka pertemuan itu dengan senang hati, dengan mengatakan: “Saya mengecewakan kalian, karena pertemuan ini tidak akan membahas pengunduran diri saya dan pengangkatan para uskup auksilier.”

Kemudian ia berbicara kepada para imam tentang berbagai isu yang disampaikan paus termasuk pembinaan para imam, pendidikan Katolik, dan keprihatian Gereja Hong Kong terhadap Gereja di Cina.

Isu utama yang ingin dibicarakan “face-to-face” oleh dua uskup itu dengan para imam, bagaimanapun, adalah “gerakan Gereja dan komunitas-komunitas baru,” terutama persoalan “yang tak terpecahkan” dengan Neocatechumenal Way. Pada 13 Juni lalu Takhta Suci memberikan persetujuan kanonis atas statuta gerakan umat awam itu.

Kedua uskup itu meminta para imam untuk “secara serius menerima instruksi paus itu” untuk menerima gerakan itu ke dalam paroki-paroki mereka.

Kardinal Zen mengakui bahwa “sangat disayangkan bahwa konflik itu terjadi,” terutama menyangkut isu-isu seputar rencana gerakan itu untuk membangun seminarinya sendiri di sini. Namun, katanya, paus berharap Gereja-Gereja lokal akan bekerja sama dengan berbagai gerakan baru, yang merupakan “kenyataan-kenyataan baru yang sangat penting yang digerakkan oleh Roh Kudus dalam Gereja untuk menerapkan Konsili Vatikan II (1962-1965).”

Gerakan-gerakan lainnya di keuskupan itu yang disebutkan oleh kardinal itu, antara lain, Focolare, Komunitas Sant’Egidio, dan Beatitudes, yang bekerja di sini secara harmonis.

Kardinal Zen, yang baru-baru ini mengunjungi sebuah musyawarah dan seminari Neocatechumenal Way di Italia, menegaskan kemajuannya dalam evangelisasi dan pelayanan, serta kepeduliannya terhadap orang miskin. Di sana ada figur-figur konversi yang konkret, katanya.

Sebagai uskup Hong Kong, katanya, ia bertanggungjawab untuk mengarahkan gerakan baru itu dan menginginkan para pastor paroki untuk mendukung Neocatechumenal Way dalam membangun komunitas-komunitas berbasis paroki. “Kami berharap memiliki awal yang baru.”

Dalam diskusi terbuka pertemuan itu, sejumlah imam berbagi pengalaman tentang gerakan itu.

Pastor Pietro Galbiati, pastor pembantu di Katedral Maria Dikandung tanpa Noda, mengatakan bahwa ia menerima gerakan itu ke parokinya pada akhir tahun 1970-an. Gerakan itu dimulai dengan 16 umat, yang “senang membaca Kitab Suci dan berdoa dengan penuh semangat,” kata imam dari Institut Kepausan untuk Misi Asing itu. Dia adalah pembimbing  rohani untuk Neocatechumenal Way di Hong Kong.

Misionaris asal Italia itu menambahkan bahwa ia juga membentuk komunitas-komunitas kecil di paroki-paroki lain yang dilayaninya, namun kelompok-kelompok itu tidak bertahan karena mereka kurang mendapat dukungan dari para pastor paroki yang datang kemudian.

Pastor Henry Ng Kwok-po, kepala Paroki Bunda Penasehat Baik, mengatakan kepada UCA News bahwa ia menghargai semangat belajar Kitab Suci dari para seminaris Neocatechumenal itu, yang diajarkannya di kolese seminari keuskupan itu. “Saya terbuka, karena mereka mendorong umat paroki untuk membaca Kitab Suci. Namun kami para imam paroki hendaknya menuntun komunitas itu dengan lebih baik dan menerima mereka ke dalam budaya paroki kami,” katanya.

Selain itu, seorang imam senior mengatakan, pengalamannya adalah bahwa gerakan itu merusak pastor, mengambil alih paroki, dan mengadakan berbagai kegiatan tanpa persetujuan pastor paroki. “Saya tidak akan membiarkan mereka datang kembali ke parokiku,” katanya.

Kardinal Zen menutup pertemuan itu dengan meminta para pastor membuang keraguan mereka. Ia juga berjanji untuk mengundang para pemimpin Neocatechumenal untuk memberi penjelasan singkat kepada para imam tentang hakekat dan kegiatan-kegiatan gerakan itu.

Neocatechumenal Way dimulai 1964 di Spanyol sebagai sebuah gerakan untuk mendorong pembaruan rohani dengan menemukan kembali Sakramen Permandian dan terus menerus meningkatkan pendidikan iman. Gerakan itu memperkirakan memiliki 20.000 komunitas di 900 keuskupan di seluruh dunia, dengan sekitar satu juta umat Katolik sebagai anggota.

Dua komunitas Neocatechumenal di Hong Kong memiliki jumlah sekitar 70 anggota. Setiap komunitas bertemu setiap minggu untuk belajar Kitab Suci. Mereka berkumpul setiap hari Sabtu malam untuk Misa di sebuah sekolah Katolik setempat.

END

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Kardinal Baldisseri turut berdebat tentang keluarga menjelang sinode
  2. Pengadilan Tiongkok menolak klaim pendeta terkait pelanggaran hak asasi
  3. Presiden Obama ingatkan India terkait kekerasan agama
  4. Menteri Anies kunjungi gereja di Ambon, pertama kali berdiri di mimbar gereja
  5. Model pewartaan yang kontekstual
  6. 35 Ormas akan amendemen UU Narkotika
  7. Tiongkok kirim pesan menyusul Paus menetapkan pertemuan dengan Dalai Lama
  8. Walikota Bogor segera membalas surat Dewan Gereja Dunia terkait GKI Yasmin
  9. Mantan staf Karitas dan PBB di Jepang memilih jadi biarawati
  10. Pembelaan Barat terhadap 'Charlie Hebdo' jadi kekhawatiran Muslim moderat Asia
  1. Kardinal Baldisseri turut berdebat tentang keluarga menjelang sinode
  2. Pengadilan Tiongkok menolak klaim pendeta terkait pelanggaran hak asasi
  3. Presiden Obama ingatkan India terkait kekerasan agama
  4. 35 Ormas akan amendemen UU Narkotika
  5. Gerakan iklim Katolik global pertama diluncurkan
  6. Model pewartaan yang kontekstual
  7. Uskup Agung Kuala Lumpur mengatakan kata ‘Allah’ masih digunakan dalam Misa
  8. Kardinal Filoni memuji komunitas Katolik di Vietnam
  9. Presiden Jokowi harus buktikan penegakan HAM di 2015
  10. Romo Benny: Presiden bertindak tak sesuai Konstitusi
  1. Boleh saja melarang jika di tempat publik, tetapi jaminlah kalau perayaan diadak...
    Said on 2015-01-14 07:48:00
  2. Saya selalu beranggapan bahwa kecelakaan tidak perlu terjadi... Bahwasanya terja...
    Said on 2015-01-14 07:44:00
  3. Alangkah indahnya nanti kalau ada pemimpin baik.. semoga terus demikian....
    Said on 2015-01-14 07:30:00
  4. Aceh lain sifatnya dari Indonesia pada umumnya.. Kita prihatin nasib perempuan t...
    Said on 2015-01-14 07:17:00
  5. Mudah2an semacam ensiklik juga ditujukan untuk Indonesia, walaupun kaum Kristen-...
    Said on 2015-01-14 07:06:00
  6. Perjalanannya masih panjang di Aceh.....
    Said on 2015-01-09 05:46:00
  7. Baik sekali kalau dalam TNI tidak membedakan perayaan Nasrani - yang hadir semua...
    Said on 2015-01-09 05:44:00
  8. Like...
    Said Yohanes Seandy Sunjoko on 2014-12-21 10:11:00
  9. Mestinya yang mengajar, ya mengajar yang baik. Janganlah di khotbah pada waktu ...
    Said on 2014-12-18 07:06:00
  10. iya, iya, baiklah... tenaga dalam saja, jangan senjata. ..Banser kan artinya ba...
    Said on 2014-12-18 07:03:00
UCAN India Books Online