CHENNAI, India (UCAN) – Lebih dari 2.000 penganut berbagai agama, kebanyakan perempuan, berpawai di kota di India bagian selatan ini pada 22 November. Mereka mengutuk kekerasan anti-Kristen di Negara Bagian Orissa.
Para bintang film, penulis, pelajar, dan biarawati Katolik berpawai di bawah guyuran hujan untuk menuntut Biro Sentral Investigasi (CBI, Central Bureau of Investigation) memeriksa pemerkosaan terhadap seorang biarawati ketika terjadi kekerasan dari kelompok Hindu sayap kanan di Orissa, India bagian timur. Biro federal itu adalah agen investigasi utama di negeri itu.
Dalam konferensi pers 24 Oktober di New Delhi, biarawati itu mengungkapkan ketidakpercayaannya terhadap kepolisian Negara Bagian Orissa, setelah Kejaksaan Agung menolak tuntutannya agar tiga hari sebelumnya CBI sendiri menyelidiki kasus itu.
Biarawati itu, dengan wajah tertutup, mengatakan kepada wartawan bagaimana dirinya dan seorang imam diserang dan ia diperkosa di Orissa pada 25 Agustus, sehari setelah kelompok fanatik Hindu melakukan kekerasan selama tujuh minggu dengan teror terhadap orang-orang Kristen di sana. Sumber-sumber Gereja mengatakan kekerasan itu menewaskan sedikitnya 59 orang dan 50.000 kehilangan tempat tinggal.
Pawai 22 November itu diadakan oleh 28 kelompok perempuan di bawah Prakarsa Perempuan untuk India Sekular (WISI, Women’s Initiative for Secular India), yang berbasis di Chennai (yang sebelumnya Madras), ibukota Negara Bagian Tamil Nadu, 2.095 kilometer selatan New Delhi.
Sebelum pawai itu dimulai, Uskup Agung Madras-Mylapore Mgr Malayappan Chinnappa SDB berterima kasih kepada para pengunjuk rasa atas dukungan mereka dan mendesak mereka untuk “menentang kekerasan dan kebencian seperti itu dengan hati-hati,” yang menurutnya dapat merusak bangsa.
Membuka pawai itu, Salma Rokaiah, seorang penulis Muslim, mengatakan bahwa perkosaan biarawati itu merupakan sebuah penghinaan besar terhadap martabat perempuan di India dan mendesak setiap perempuan untuk memprotes tindakan itu. Ia mengatakan bahwa pawai itu juga bertujuan untuk memberikan dukungan moral kepada seluruh korban kekerasan Orissa.
Dengan memakai pita hitam dan membawa bendera dan poster-poster, mereka yang melakukan protes itu meneriakkan slogan-slogan yang mengutuk kekerasan itu dan mendesak pemerintah di semua lapisan untuk melindungi hak-hak kelompok minoritas, perempuan, dan anak-anak di Orissa. Mereka juga menuntut sebuah pembubaran kelompok-kelompok Hindu sayap kanan yang telah menyerang umat Kristen dan yang telah menyebarkan rasa kebencian di antara komunitas-komunitas dalam masyarakat.
Meena Sukumar, seorang pemerotes, mengungkapkan harapan bahwa peraturan perundang-undangan berlaku di Orissa dan biarawati yang diperkosa itu mendapatkan keadilan. “Yang memperkosa seorang perempuan itu betul-betul manusiawi, dan memperkosa seorang biarawati yang melayani orang miskin merupakan suatu kejahatan yang mengerikan,” kata perempuan Hindu itu kepada UCA News.
Seorang pemerotes Hindu lainnya, Sudarvilli, mengatakan bahwa ia mengikuti pawai itu untuk menunjukkan solidaritas dengan para korban Orissa. Mahasiswi itu mengungkapkan harapannya bahwa kebenaran akan menang. Dia dan teman-temannya memakai topeng dan pakaian berwarna hitam yang terlihat seperti kerangka manusia untuk mengingatkan masyarakat akan kejahatan dari kekerasan itu.
Auxilia Peter, pemimpin pawai itu, memberi konfirmasi bahwa tujuan utama aksi itu adalah untuk menunjukkan solidaritas dengan para korban dan menuntut keadilan bagi para korban. “Perempuan selalu menjadi korban kekerasan, dan di Orissa perempuan juga menjadi korban,” kata wanita pengacara yang beragama Katolik itu.
WISI juga berencana mendidik masyarakat tentang RUU Anti Kekerasan Komunal yang sedang digodok parlemen India, tambah Peter.
Sebelumnya, kelompok itu mengadakan dua acara lain untuk mengumpulkan dukungan kepada para korban Orissa — aksi tandatangan dan tuguran dengan cahaya lilin.
Para penyelenggara pawai itu mengatakan aliansi itu dibentuk pada 1 November untuk meningkatkan kerukunan komunal dan sekularisme dalam menanggapi berkembangnya intoleransi dan kebencian di India.
END