TOKYO (UCAN) – Pada 24 November, sekitar 30.000 peziarah termasuk para uskup dan kelompok-kelompok dari negara-negara Asia lainnya berkumpul di stadion baseball di Nagasaki untuk perayaan beatifikasi 188 martir Jepang yang meninggal antara tahun 1603 dan 1639.
Mereka yang baru dibeatifikasi itu dipilih untuk mewakili sebanyak 50.000 orang Katolik Jepang yang wafat dalam penganiayaan yang dimulai tahun 1597 (walaupun agama Kristen dilarang 10 tahun sebelumnya) dan tidak berakhir sampai tahun 1873, ketika negara-negara Barat menekan pemerintah Jepang untuk mengakui kebebasan beragama.
Agar menjadi representatif, mereka yang dipilih itu umumnya pria dan wanita dari berbagai bagian di Jepang serta empat imam dan seorang frater. Dari mereka itu terdapat dua bayi yang berusia 1 tahun dan seorang samurai yang berusia 80 tahun bersama istrinya. Di antara mereka itu terdapat juga yang berasal dari keluarga bangsawan dan rakyat jelata, keluarga-keluarga, dan pribadi-pribadi.
Para martir itu dieksekusi dengan berbagai cara – dipenggal kepalanya, ditekan dalam air sampai mati, disalibkan, dibakar di tiang gantungan, direbus dalam air mendidih, dibuat mati kelaparan dalam penjara, dan digantung dengan kepala ke bawah dalam lubang penyiksaan. Penyiksaan yang terakhir itu khusus dipakai untuk imam-imam.
Penganiayaan Jepang itu mungkin merupakan yang terburuk dalam sejarah Gereja. Penganiayaan Romawi, yang lamanya hampir sama dengan penganiayaan Jepang, mungkin memakan korban sekitar 15.000 orang. Orang-orang Romawi umumnya menargetkan para pemimpin Gereja, sehingga kebanyakan martirnya adalah para uskup dan diakon. Penguasa Romawi berasumsi bahwa jika mereka menghancurkan kepala, anggota tubuhnya akan menyerah dan meninggalkan iman mereka. Tetapi mereka tidak menyerah.
Penganiayaan Jepang tidak terfokus pada kelompok tertentu. Setiap orang Katolik dari kelompok apapun bisa menjadi korban. Hampir 280 tahun, orang Katolik bersembunyi, berkumpul secara rahasia, berdoa, mewarisi iman mereka dari generasi ke generasi, dan waktu mereka ditemukan, mereka menderita dan mati. Tetapi mereka tidak akan menyerah.
Penganiayaan seperti itu, di Roma maupun di Jepang di masa lampau, atau di India dan Irak di masa kini, dapat diakhiri dengan mudah. Semua itu hanya jika orang-orang Kristen itu mau meninggalkan Kristus yang hidup dan mati buat mereka. Bahaya akan berlalu jika mereka membakar dupa kepada kaisar ilahi (yang didewakan), menginjak-injak benda suci dan mendaftarkan diri di kuil Buddha, mengikuti upacara masuk agama Hindu, atau menyatakan bahwa Muhammad adalah nabi Allah. Dengan kata lain, umat Kristen di setiap zaman selalu menghadapi cara-cara untuk bisa bebas dari penganiayaan itu. Tetapi mereka tidak akan menyerah.
Kata “martir” itu berasal dari kata bahasa Yunani yang berarti saksi. Dalam bahasa Inggris, “saksi” itu punya dua arti. Pertama, penyaksi, orang yang menyaksikan sesuatu yang terjadi. Dalam arti ini, para penguasa yang menyaksikan eksekusi umat Katolik itu adalah saksi-saksi. Namun, kata “martir” itu mengacu pada arti kedua, yaitu orang yang memberi kesaksian.
Kini di Jepang, kita tidak lagi menghadapi kematian karena mengikuti Kristus, tetapi kita masih dipanggil untuk memberi kesaksian tentang Kristus, memberi kesaksian bahwa setia kepada Kristus lebih penting daripada hidup itu sendiri. Kita dipanggil untuk menjadi martir yang tidak ada hubungannya dengan penderitaan fisik dan kematian, walaupun mungkin kelihatannya aneh dan mendatangkan komentar-komenter jelek dari orang-orang di sekitar kita.
Para martir Jepang itu memaksa kita untuk menghadapi sejumlah pertanyaan sulit. Apakah di tempat kerja dan sekolah, di antara teman-teman, di rumah dan bahkan di gereja, saya mengatakan: “Tidak, saya tidak bisa melakukan itu. Saya tidak akan melakukan itu (karena saya seorang Kristen)”? Dalam situasi ekonomi tak menentu sekarang ini, apakah pernah mengatakan kepada diri saya dan keluarga saya, “Kita harus mengubah perencanaan, karena uang semakin sulit dan kita tidak bisa menggunakan waktu dan uang yang telah kita sisihkan untuk menolong orang lain”? Bila ada acara lingkungan, sekolah, atau di tempat kerja dilakukan pada hari Minggu pagi (sesuatu yang umum terjadi di Jepang), apakah saya bisa mengatakan: “Saya akan terlambat atau tidak bisa ikut, karena tidak ada yang lebih penting daripada berkumpul bersama orang Katolik untuk mendengarkan Firman Allah dan menikmati Ekaristi “?
Dengan kata lain, di dunia yang tidak memahami atau menghargai iman saya, apakah saya memberi kesaksian akan iman itu? Apakah saya seorang anggota yang cocok dengan Gereja para martir ini? Bila waktunya tiba bagi saya, bagi kita, untuk bertemu muka langsung dengan Tuhan dan para martir itu, apakah mereka akan mengatakan kepada kita, “Mereka ini tidak menyerah”?
——
Pastor William Grimm MM adalah editor utama Katorikku Shimbun, mingguan Katolik di Jepang.
END