BANGKOK (UCAN) – Beatifikasi 188 martir Jepang pada 24 November itu memperingati suatu halaman tragis dalam sejarah Jepang. Beatifikasi itu menjadi sebuah peristiwa publik di Nagasaki, demikian berbagai sumber Gereja Katolik di Jepang.
Menurut sumber-sumber Gereja di Jepang, sekitar 30.000 orang menghadiri perayaan bagi para martir itu. Para martir itu mewakili hampir 50.000 orang Katolik Jepang yang meninggal dunia dalam penganiayaan yang berlangsung hampir selama 300 tahun.
Biasanya permohonan untuk beatifikasi itu datang dari tarekat-tarekat religius, namun petisi untuk beatifikasi 188 martir ini – semuanya orang Jepang yang berusia antara 1 sampai 80 tahun – justru merupakan permohonan pertama para uskup Jepang. Stephen Kardinal Fumio Hamao yang kini sudah meninggal pernah menyoroti aspek ini kepada UCA News.
Berbagai kantor berita mengklaim perayaan beatifikasi yang dilangsungkan di sebuah stadion baseball di tengah guyuran hujan itu merupakan peristiwa terbesar yang belum pernah terjadi di Asia.
Menurut catatan sejarah, penganiayaan yang melahirkan para martir itu dimulai tahun 1597, setelah shogun Toyotomi Hideyoshi mengusir para misionaris dan agama Kristen dilarang 10 tahun sebelumnya.
Situasi itu hampir berlangsung selama berabad-abad itu hampir membuat agama Kristen tersapu bersih di Jepang.
Pertama, 26 umat Kristen disalibkan. Mereka dibeatifikasi tahun 1627 dan dikanonisasi menjadi santo-santa tahun 1862.
Penganiayaan memuncak antara tahun 1603 dan 1639, ketika hampir semua korban dibunuh, tapi hal itu berlangsung sampai tahun 1873, ketika negara-negara Barat menekan Jepang untuk mengakui kebebasan beragama.
Agama Kristen masuk ke Jepang tahun 1549, yang dibawa oleh Santo Fransiskus Xaverius SJ. Raja-raja feodal tidak ingin pengaruh asing melemahkan kekuasaan mereka, karena itu melarang agama dan kontak-kontak dengan orang Barat, yang kemudian dilanjutkan dengan penganiayaan.
Orang-orang Kristen yang tidak terbunuh itu mempraktekkan iman mereka secara sembunyi-sembunyi, melanjutkan iman dalam keluarga mereka sendiri selama berabad-abad. Waktu berlalu, beberapa memadukan ritual Katolik dengan kepercayaan-kepercayaan lain.
Kini, orang Kristen hanya kurang dari 1 persen dari hampir 130 juta orang Jepang, dan orang Katolik hanya berjumlah 450.000 jiwa. Agama-agama utama di Jepang adalah Buddha dan Shinto.
Perdana Menteri Taro Aso menurut laporan adalah orang Katolik pertama yang menjadi perdana menteri. Namun, dia jarang menunjukkan agamanya di publik dan tidak menghadiri upacara agamanya, demikian catatan sejumlah kantor berita.
Beatifikasi hari Senin merupakan sebuah hasil dari berbagai upaya para uskup Jepang untuk mengakui lebih banyak martir mereka sendiri ketimbang martir dari para misionaris asing. Namun, para peneliti harus mengadakan perjalanan ke luar negeri untuk mempelajari surat-surat yang dikirim para misionaris ke kampung halaman mereka, karena catatan sejarah di Jepang telah dimusnahkan.
Itu “merupakan akibat langsung dari kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Jepang tahun 1981,” demikian Kardinal Hamao. Prelatus asal Jepang yang wafat pada November 2007 itu, memainkan peran penting dalam membahas proses beatifikasi para martir Jepang itu di Kongregasi Penggelaran Kudus yang berbasis di Vatikan.
Pada April 2007, dia mengatakan kepada UCA News bahwa beatifikasi itu penting bagi semua orang Jepang tanpa mempedulikan iman, karena pada peristiwa itu, kebebasan agama sebagai hak asasi manusia yang mendasar menjadi sorotan.
Dia mengatakan, penting bahwa mayoritas dari martir-martir itu adalah kaum awam, kebanyakan perempuan dan anak-anak. Di antara mereka terdapat empat imam yang dibunuh, salah satunya adalah Pastor Peter Kibe SJ, yang memilih kembali ke Jepang setelah ditahbiskan di Roma, walaupun tersebar berita tentang penganiayaan. Dia berkarya beberapa tahun di wilayah Nagasaki dan Edo (kini Tokyo) sebelum ditangkap dan dibunuh.
END