TUTICORIN, India (UCAN) – Christopher Donald mengejutkan teman-teman dan sanak keluarganya ketika dia membawa para pengemis dengan sepeda motornya ke acara makan siang Natal tiga tahun lalu.
“Mereka menyangka saya sudah sinting, karena tak seorangpun di Tuticorin menjemput pengemis untuk makan siang bersama mereka,” kata Donald, sambil tertawa.
Pria Katolik berusia 28 tahun itu mengatakan bahwa dia berani menentang kebiasaan sosial karena Komunitas Sant’Egidio (SEC, Sant’Egidio Community). Asosiasi awam Katolik internasional yang dia menjadi anggotanya itu membuatnya meluap-luap “dengan cinta dan belas kasihan kepada orang lain, terutama kaum papa.”
Pemimpin perusahaan kargo itu juga mengatakan kepada UCA News baru-baru ini bahwa imannya menjadi “lebih berarti” karena “berbagai perubahan yang luar biasa” dalam hidupnya berkat SEC melalui doa, meditasi Injil, dan persahabatan dengan kaum miskin.
Perubahan-perubahan tidak mengherankan Pastor Jerosin Adutharai Kattar, koordinator SEC di Negara Bagian Tamil Nadu. Menurut imam berusia 58 tahun itu, Donald adalah salah satu dari 50 anggota SEC di Tuticorin yang ikut pertemuan secara teratur.
Kelompok di kota pesisir yang berjarak 2.460 kilometer selatan New Delhi itu dimulai tiga tahun lalu sebagai unit SEC pertama di India, kata Pastor Kattar. Kelompok ini berkembang sangat lamban ke bagian-bagian lain di India selatan, lanjutnya.
Imam yang memimpin Basilika Tuticorin dari Perawan Salju itu mengatakan bahwa doa dan meditasi membantu anggota-anggota SEC mengalami perubahan hati. Hasil yang paling kasat mata adalah persahabatan mereka dengan orang miskin, “yang merupakan bagian dari pelayanan kami.”
SEC didirikan di Trastevere, Roma, tahun 1968 oleh Andrea Riccardi dan para siswa dan mahasiswa. SEC mengadakan pertemuan di sebuah gereja yang dipersembahkan kepada Santo Egidio, seorang rahib Yunani abad ke-6, untuk berdoa dan menerapkan apa yang diperintahkan dalam Injil melalui pertemuan dan berbagi kasih dengan kaum miskin yang tinggal di pinggiran Roma, demikian website organisasi itu.
Kelompok awam ini kemudian terkenal dengan Sant’Egidio Community (Komunitas Sant’Egidio) dan kini memiliki lebih dari 50.000 anggota yang mengabdikan diri pada karya amal, evangelisasi, dan penciptaan perdamaian di lebih dari 70 negara.
SEC mendapat persetujuan Vatikan lebih dari 20 tahun lalu, dan Paus Benediktus mengunjungi pusatnya pada 7 April lalu pada peringatan 40 tahun berdirinya asosiasi itu.
Pastor Kattar mengatakan, organisasi awam itu dipercaya karena efektif menciptakan perdamaian di tempat-tempat bermasalah di dunia. Sebagai contoh, dia mengatakan bahwa di awal tahun 1990-an, SEC membantu menjadi penengah perdamaian di antara kelompok-kelompok yang berperang di Mozambik, padahal penengah dari Perserikatan Bangsa-Bangsa sudah gagal.
Usaha-usaha seperti membuat sejumlah media membaptis SEC menjadi “Perserikatan Bangsa-Bangsa dari Trastevere,” kata imam itu. SEC pernah masuk dalam nominasi pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2004.
Bersama Amnesty International, SEC juga mengampanyekan sebuah moratorium sedunia menentang hukuman mati.
Pastor Joe Michael, seorang penasehat SEC, mengatakan kepada UCA News bahwa “gerakan yang dipimpin Roh Kudus” itu relevan bagi dunia sekarang ini dan dapat menghidupkan kembali kaum awam karena orientasinya pada doa dan pelayanan.
Matteo Bruni, 32, seorang anggota SEC Italia yang mengunjungi Tuticorin baru-baru ini, mengatakan bahwa kelompok awam itu “kerkembang berkat komunikasi personal dan kesaksian yang diberikan para anggotanya.”
Para anggota SEC berusaha menjadi murid-murid Yesus yang mencintai kaum miskin, mendengarkan Sabda Allah dan mengkomunikasikannya, lanjut Bruni, yang melayani komunitas (gypsy) Roma di Roma. “Kami membangun nilai-nilai Kerajaan Allah, dengan meningkatkan perdamaian dunia dan dialog antaragama di seluruh dunia.”
Michael Raja, seorang anggota SEC di Tuticorin, mengakui bahwa yang mengilhaminya untuk bergabung dengan SEC adalah kesaksian personal para anggotanya. Raja menemani anggota SEC asal Italia itu yang waktu itu menjadi turis dua tahun lalu dan sangat tersentuh dengan ekspresi “persahabatan dan kasih sejati” dari misionaris awam itu terhadap para pengemis, yang selalu saja menganggu para turis karena meminta-minta.
“Kemudian saya sadar bahwa SEC ini istimewa,” katanya, sambil menambahkan bahwa sejak itu dia selalu ingin menolong kaum miskin dan SEC memberinya “sebuah platform yang indah.”
END