VUNG TAU, Vietnam (UCAN) – Teresa Y Tam dari etnis minoritas Bahnar bekerja di ladang. Dia tidak pernah berpikir bahwa dia bisa memperoleh pekerjaan tetap di sebuah kota besar dengan upah 2,5 juta dong (US$ 150) per bulan.
Namun setelah menyelesaikan kursus pelatihan yang diselenggarakan Gereja untuk menjadi pembantu rumah tangga itu, dia mendapat pekerjaan di sebuah keluarga di Ho Chi Minh City, pusat perkotaan terbesar di Vietnam.
Tam, 24, tidak bisa belajar di sekolah tinggi, karena keluarganya miskin, maka dia hanya memilih jalan yang membuka masa depan baginya — bekerja di ladang untuk membantu kedua orangtuanya dan enam orang saudara-saudarinya. Dia berasal dari Propinsi Kon Tum di daerah pegunungan.
Namun pada Agustus 2007, para Suster Putri Kasih dari Santo Vincent de Paul mengirimnya ke sebuah kursus gratis untuk menjadi pembantu rumah tangga di Pusat Keterampilan Phuoc Loc di Propinsi Ba Ria-Vung Tau di bagian selatan, sekitar 500 kilometer dari rumahnya. Pusat itu yang dikelola oleh para imam Salesian itu berjarak 1.780 kilometer selatan Ha Noi.
Baru-baru ini Tam mendapat pekerjaan di sebuah keluarga orang Vietnam di Ho Chi Minh City, bagian barat laut pusat itu. Tugas hariannya meliputi membersihkan rumah, memasak, berbelanja, dan cuci pakaian.
Perempuan muda itu berterima kasih kepada kursus itu karena mengajarnya cara menggunakan mesin cuci, air conditioner, dan peralatan rumah tangga lainnya yang belum pernah dilihat atau digunakan sebelumnya.
Tam adalah satu dari 47 perempuan yang mendapat sertifikat dalam sebuah upacara pada 8 November di pusat itu, setelah menyelesaikan satu dari tiga kursus pertama. Pusat itu membuka kursus pertamanya pada Juli 2006 dan satu lainnya pada Januari dan Juli. Dua kursus yang sedang berlangsung memiliki 45 peserta.
Di antara mereka yang menghadiri acara itu adalah para sanak keluarga, majikan, dan benefaktor.
“Banyak orang tidak mau melakukan pekerjaan rumah tangga, karena pekerjaan itu dipandang rendah dan hanya dilakukan oleh hamba,” kata Suster Le Thi Triu PK, yang menangani kegiatan-kegiatan sosial kongregasinya. “Kami ingin membantu orang mengubah prasangka mereka terhadap para pembantu rumah tangga, yang turut membawa kerukunan dan kegembiraan kepada keluarga-keluarga.”
Keterampilan mengurus rumah tangga yang diajarkan di kursus itu merupakan pengetahuan praktis bagi kaum wanita yang bisa juga mereka gunakan untuk mengurus rumah tangga mereka sendiri.
Tiga suster yang juga terlibat dalam kursus itu mengajar peserta kursus cara mengatur rumah, taman, dan furniture rumah tangga. Mereka belajar tentang gizi dan memasak makanan Eropa serta Vietnam. Mereka juga belajar cara merawat anak-anak dan orang lanjut usia.
Topik-topik lain yang diberikan oleh kursus itu adalah bahasa Inggris, perilaku yang baik, pengaturan uang seperti hemat dan jujur dalam membelanjakan bahan makanan.
Suster Triu menjelaskan bahwa para peserta kursus mempraktekkan masak selama dua bulan di kantin pusat itu untuk keluarga-keluarga setempat. Di akhir kursus, para guru dan keluarga menikmati peragaan mereka. Bagaimana mereka bersikap, terutama di sekitar laki-laki, juga dinilai karena ada berita para pembantu rumah tangga berhubungan seks dengan para majikan suami di keluarga-keluarga tempat mereka bekerja.
Para suster juga mencari keluarga-keluarga bagi para peserta kursus untuk bekerja, termasuk keluarga-keluarga orang asing di Ho Chi Minh City. Kebanyakan tamatan kursus itu memperoleh upah sekitar 2 juta hingga 3,5 juta dong per bulan, lebih banyak daripada yang mereka bisa peroleh di daerah pedesaan, kata Suster Triu.
Maria Tran Thi Hai Yen, 21, menyelesaikan kursus tahun 2007. Dia kini bekerja di sebuah keluarga orang asing dan memperoleh 3 juta dong per bulan, yang sebagian dari jumlah itu dia bisa kirim untuk mendukung keluarganya yang berjumlah delapan orang di Ha Tinh, sebuah propinsi di bagian utara.
Tran Thi Sac, seorang tamatan yang non-Katolik, bekerja part-time sebagai pembantu rumah tangga untuk sebuah keluarga dan mengatakan bahwa dia dapat mendukung keluarganya di bagian utara dan membiayai kursus-kursus sore hari di sebuah perguruan tinggi lokal.
Menurut Suster Triu, kontrak yang memadai dengan keluarga-keluarga majikan menjamin minat para pembantu rumah tangga. Dia mengatakan, kontrak itu mengatur bahwa seorang pembantu bekerja delapan jam per hari, enam hari per minggu, memperoleh libur dua minggu per tahun, dan mendapat satu kamar tidur. Dia menekankan bahwa suami majikan tidak berhak untuk berlaku tidak sepantasnya dengan pembantu rumah tangga.
Pastor Joseph Nguyen Van Quang SDB, 60, mengatakan bahwa Pusat Phuoc Loc, yang dipimpinnya, juga menawarkan kursus-kursus keterampilan komputer, pertukangan, reparasi mobil, perlistrikan, menyula, pertukangan besi, dan menjahit. Setiap tahun, ratusan peserta kursus tamat dari pusat yang didirikan tahun 2000 itu.
Para tamatan menemukan pekerjaan tetap di pabrik-pabrik setempat, kata Pastor Quang. Dia mengatakan bahwa semua peserta kursus membayar 150.000 dong per bulan, sepertiga dari biaya yang ditetapkan oleh pusat-pusat yang dikelola pemerintah.
END