SEOUL (UCAN) – Sebuah survei baru-baru ini menyimpulkan bahwa masyarakat Korea Selatan kehilangan kepercayaan terhadap Gereja Protestan dan merekomendasi agar umat Protestan mempraktekkan apa yang mereka kotbahkan dan berbaik hati dengan agama-agama lain.
Gerakan Etik Kristen Korea (CEMK, Christian Ethics Movement of Korea), yang mengadakan survei itu bersama Global Research Institute, memaparkan hasil survei dalam sebuah seminar pada 20 November. Survei itu mengumpulkan pendapat selama 23-27 Oktober dari 1.000 responden usia 20-60 tahun di seluruh negeri itu untuk menemukan apa yang dirasakan masyarakat Korea tentang Gereja Protestan.
Menjawab pertanyaan sejauhmana mereka percaya Gereja-Gereja Protestan, 18,4 persen responden mengatakan bahwa mereka percaya Gereja-Gereja itu, sementara 48,3 persen mengatakan bahwa mereka tidak percaya. Sisanya yaitu 33.3 persen mengatakan bahwa mereka acuh-tak-acuh terhadap Gereja-Gereja Protestan.
Ketika ditanya, agama apa yang paling dapat diandalkan, 35,2 persen memilih agama Katolik dan 31,1 memilih agama Buddha. Agama Protestan hanya mendapat 18,0 persen, sementara 15,7 mengaku “tidak punya agama.”
Di antara para responden, 31,5 persen “senang” dengan agama Buddha, 29,8 persen senang dengan agama Katolik, 20,6 persen senang dengan agama Protestan, dan 15 persen mengaku “tidak punya agama.”
Menurut 42,0 persen responden, umat dan para pemimpin Protestan perlu “konsistensi antara perkataan dan perbuatan” untuk mendapat kepercayaan masyarakat, sementara 25,8 persen memilih “kebaikan hati terhadap agama-agama lain,” 11,9 persen memilih “pelayanan sosial,” dan 11,5 persen menginginkan “keuangan yang transparan.” Sisanya memilih tindakan-tindakan lain.
Kegiatan-kegiatan sosial apa yang harus dilakukan Gereja-Gereja Protestan, 47,6 persen responden ingin agar mereka mengadakan pelayanan-pelayanan bantuan dan sukarela, 29,1 persen mengusulkan suatu aksi dalam mempraktekkan etika dan moralitas, dan 12,5 persen mengatakan bahwa mereka perlu melakukan aksi sosial seperti gerakan-gerakan lingkungan hidup dan hak asasi manusia.
“Hasil survei itu menunjukkan bahwa Gereja Protestan setempat sedang berada dalam keadaan beresiko lebih besar daripada yang dipikirkan. Dia sekarang terasing dari masyarakat,” kata Kim Byung-yeon, pemimpin umum Gerakan Promosi Kredibilitas dan Kejujuran dari CEMK, yang mengkoordinasi survei itu.
“Gereja Katolik di Korea dilihat memberi banyak kontribusi bagi masyarakat, seperti demokratisasi dan kesejahteraan sosial, sementara agama Buddha kelihatan sangat menarik bagi generasi muda,” kata profesor ekonomi dari Universitas Nasional Seoul itu kepada UCA News.
Lee Sook-jong dari Universitas Sungkyunkwan mengatakan dalam seminar 20 November, “Ketidakpercayaan itu muncul terutama karena isu-isu etika yang melibatkan para pemimpin Protestan dan umat mereka, dan sikap mereka yang eksklusif terhadap agama-agama lain.” Perempuan itu mengatakan bahwa banyak orang mengkritik para pendeta Protestan karena menyerahkan gereja mereka kepada anak-anaknya sebagai warisan.
“Untuk kembali memperoleh kepercayaan, para pemimpin Gereja hendaknya memiliki landasan moral yang kuat, yang sangat dihormati masyarakat,” demikian Lee, sambil menambahkan bahwa mempertahankan transparansi dalam bidang keuangan dan membayar pajak pemasukkan akan juga membantu.
Yim Sung-bihn, profesor dari Seminari Teologia dan Perguruan Tinggi Presbyterian, mengaitkan ketidakpercayaan itu dengan iman. “Jika Gereja-Gereja tidak dipercaya masyarakat … itu berarti ada masalah menyangkut hubungan mereka dengan Allah dan sesama,” katanya. “Perolehan kembali kepercayaan sangat bergantung pada sejauhmana setiap orang Protestan menghayati kehidupan Kristen yang otentik.”
Pendeta Han Kee-chae, gembala Gereja Kesucian Injili Korea, tidak heran dengan hasil survei itu. “Gereja perdana tidak memiliki emas atau perak, tetapi memiliki otoritas ‘dalam nama Yesus.’ Tetapi Gereja-Gereja Korea sekarang ini telah kehilangan ‘nama Yesus’ dan hanya memiliki emas dan perak,” katanya. “Kita hendaknya mempraktekkan iman kita melalui pelayanan serta sharing dan caring dengan sesama kita.”
Menurut sensus dari Kantor Statistik Nasional 2005, dari 47.041.434 penduduk Korea Selatan, 22,8 persen adalah penganut agama Buddha, 18,3 Protestan, 10,9 Katolik, sementara 45 persen mengaku tidak beragama. Sensus tahun 1995, penganut Buddha terdiri dari 19,7 persen, umat Protestan 23,2 persen, dan umat Katolik 6,6 persen.
Sejak didirikan tahun 1987, CEMK telah mengadakan aksi-aksi melawan kekerasan dalam media, perjudian dan aborsi, serta mendukung pemilihan umum yang adil dan pemeliharaan lingkungan hidup.
END