BRISBANE, Australia (UCAN) – Bulan-bulan terakhir ini, media yang dikendalikan pasar menjadi terganggu dengan pola digit pasar yang menurun.
Para investor kaget betapa uang mereka disalahgunakan, dan kita masyarakat biasa kaget bagaimana bisa tidak ada dana untuk menutup milyaran duit yang segera harus dikeluarkan untuk menyelamatkan perusahaan besar.
Milyaran dolar disuntikkan untuk rekapitalisasi bank-bank yang tidak punya modal dan untuk para industrialis yang kebingungan, namun dana itu tidak berasal dari orang-orang kaya atau para pemimpin di pemerintahan. Dana talangan itu justru berasal dari sumber-sumber yang dibekukan, sementara kebutuhan pokok kaum miskin diabaikan. Dana seperti itu bisa lebih bermanfaat untuk memerangi kemiskinan, penyakit, kebodohan, dan ketidakadilan di seluruh dunia.
Pembagian sumber-sumber daya global itu juga bisa turut mengembangkan sistem ekonomi alternatif berlandaskan kesetaraan dan keadilan, bukan berdasarkan “ketamakan,” eufemisme yang kini digunakan untuk mempersalahkan para bankir dan pengusaha.
Para bankir dan pengusaha itu hanya pembantu dan pelengkap sistem globalisasi yang mengatur pasar. Kesalahan krisis ekonomi tidak bisa hanya ditimpakan kepada para kambing hitam itu. Namun, perlu diingat, dunia bisa lebih bijak karena kebodohan sistem perbankan yang dirangsang pasar.
Sistem-sistem itu termasuk IMF dan World Bank, dewa-dewa pasar yang, jika tidak membutuhkan penyelamatan, sangat menentang paket-paket bantuan untuk Asia dan mendesak negara-negara miskin untuk meregulasi pasar. Kini kompleks penggerak pasar yang mereka miliki itu hancur, pendanaan mengalami defisit, sehingga paket-paket bantuan dan resesi dipandang sebagai sarana efektif untuk restrukturisasi ekonomi.
Selain membantu perubahaan besar yang berada di ambang kebangkrutan, pertemuan G20 dan APEC tidak banyak ketimbang mendesak untuk semakin memperbesar pengeluaran, suatu isyarat yang salah untuk negara-negara yang sedang berkembang. Melihat jumlah negara yang sedang berkembang itu melebihi jumlah negara berkembang di G20, perdana menteri India yang pakar ekonomi itu mencatat adanya “peralihan dalam pengimbangan kekuatan” di G20. Namun dunia dewasa ini butuh lebih dari sekedar peralihan kekuatan. Dunia butuh tindakan untuk membersihkan kuil ekonomi dan memulihkan nilai-nilai moral.
Gereja-Gereja belakangan ini tidak punya nasehat seperti itu. Pada bulan Mei, Takhta Suci mengadakan Konferensi tentang Pembangunan dan Kapital Sosial dihadiri oleh penulis Inggris Will Hutton. Setelah konferensi itu, dia menulis, “Gereja Katolik, demikian juga ensiklik yang baru, memberi tanda bahaya mengenai cara kapitalisme berkembang.”
Ensiklik yang baru, menurut laporan, ditinjau kembali dalam terang peristiwa-peristiwa belakangan ini, dan itu dibeberkan oleh sekretaris negara Vatikan dalam buku “The Ethics of the Common Good in the Social Doctrine of the Church” (Etika Kebaikan Bersama dalam Ajaran Sosial Gereja) yang ditulisnya.
Sebuah pernyataan terkait yang juga penting dibuat oleh Uskup Agung Canterbury itu. Pernyataan itu merupakan himbauannya untuk umat Kristen dan kaum Muslim untuk asanya sebuah “sistem utang piutang yang lebih adil.” Sementara itu, Dewan Gereja-Gereja se-Dunia telah menyatakan bahwa pergantian paradigma sendiri bisa turut meninggalkan “sistem finansial internasional yang didasarkan pada ketidakadilan. “
Gereja-Gereja dapat menyediakan lingkungan spiritual yang memang diperlukan untuk suatu pergantian paradigma. Karena menurut etika sosial Kristen, tidak diragukan lagi, kunci penyelesaian adalah globalisasi dari bawah ke atas. Etika seperti itu menuntut keputusan-keputusan yang tidak gampang.
Seorang imam di Hong Kong baru-baru ini mengatakan kepada UCA News, “Gereja hendaknya jangan tinggal diam dengan ajaran dan slogan indah.” Sebaliknya, katanya, Gereja harus “memperluas jaringannya untuk mengerti kehidupan masyarakat dan membantu mereka yang miskin.” Beberapa minggu sebelumnya, Pemimpin Gereja Methodis Global Ministries juga mendesak perlunya kesaksian Kristen dalam masyarakat: “Kini saatnya bagi Gereja untuk betul-betul meng-Gereja.”
Pernyataan-pernyataan ini mengungkapkan kembali himbauan Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Centesimus Annus tahun 1991. “Kini, tidak seperti sebelumnya,” tulisnya, “Gereja sadar bahwa pesan sosialnya akan lebih langsung dipercaya karena kesaksian melalui perbuatannya.” Dia mendesak adanya “perubahan gaya hidup, perubahan model produksi dan konsumsi.”
Dalam krisis sekarang ini, “kesaksian lewat perbuatan” yang dapat dipercaya seperti itu dibutuhkan dengan dua cara. Pertama, Gereja-Gereja perlu memperlengkapi umatnya untuk keluar dan berbagi sumber daya dengan kaum miskin yang menjadi korban pasar. Kedua, mereka harus mendisiplinkan masyarakat yang terperangkap dalam pasar untuk kembali ke gaya hidup yang lebih sesuai dengan ekonomi keselamatan ketimbang ekonomi pasar.
Gaya hidup juga dapat melawan pengaruh buruk dari orang-orang kaya yang boros dalam pengeluaran. Gaya hidup juga dapat membantu Gereja-Gereja untuk berkembang melampaui dirinya sebagai badan-badan keorganisasian yang sangat bergantung pada pasar dan bantuan asing. Mungkin inilah yang membuat seorang uskup Asia pernah mengatakan kepada dewan imamnya tentang keuskupan yang diinginkannya yaitu bergantung pada umat untuk tetap hidup. Dia mengatakan, dia mengimpikan sebuah Gereja yang akan menjadi sebuah komunitas apostolik yang bergantung pada apa yang diberikan umat, bukan apa yang diberikan pasar.
Gaya hidup serupa juga merupakan gaya hidup umat Kristen perdana. Gaya hidup ini akan membantu Gereja-Gereja menghayati dan memberi kesaksian tentang globalisasi dari bawah ke atas.
——
Hector Welgampola, jurnalis asal Sri Lanka, pernah menjadi Executive Editor UCA News dari 1987 hingga pensiun pada Desember 2001.
END