BANJARMASIN, Kalimantan Selatan (UCAN) – Wakil-wakil dari lima agama di Indonesia mempertontonkan tata cara peribadatan pada sebuah workshop yang diadakan baru-baru ini di sebuah ibukota propinsi.
Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin dan Forum Dialog (Forlog) Kalimantan Selatan bersama-sama mengadakan workshop yang digelar 11-13 November di sebuah hotel di Banjarmasin tersebut. Kota Banjarmasin adalah ibukota Propinsi Kalimantan Selatan yang mayoritas berpenduduk Muslim.
Sebanyak 24 umat Buddha, Hindu, Islam, Katolik, dan Protestan serta penganut Kaharingan berpartisipasi dalam acara bertema “Mengenal Perbedaan, Merajut Perdamaian” itu. Kaharingan adalah agama tradisional Dayak, sebuah nama untuk warga asli Kalimantan.
Elga Joan Sarapung, seorang fasilitator, mengatakan kepada peserta bahwa tata cara peribadatan merupakan media komunikasi antara para penganut agama dan Allah. Sarapung, seorang Protestan, adalah direktur Institut Dialog Antariman di Indonesia yang berbasis di Yogyakarta.
Berbicara kepada UCA News pada 13 November, ia mengatakan bahwa banyak orang tidak berbicara secara terbuka tentang agama karena mereka menganggap topik itu terlalu sensitif. Tujuan workshop itu, katanya, adalah untuk meningkatkan pengetahuan peserta tentang agama-agama lain.
Fasilitator lain untuk workshop itu, Noorhalis Majid, adalah dari LK3 Banjarmasin.
Pada workshop itu, wakil-wakil memutar film dokumenter singkat yang menggambarkan tata cara peribadatan dari agama mereka masing-masing.
Penganut Kaharingan memperkenalkan Aruh Ganal, sebuah ritual syukur tradisional yang mencakup pengucapan mantra dan tarian. Umat Buddha menampilkan Puja Bhakti, sebuah ritual devosional yang meliputi persembahan untuk makhluk suci, pengucapan mantra, meditasi, dan doa tobat.
Setelah itu, Pastor Gregorius Sabinus dan Pastor Simon Edy Kabul Teguh Santosa, yang mewakili Katolik, memberikan komentar saat memutar film upacara tahbisan Uskup Banjarmasin Mgr Petrus Boddeng Timang pada 26 Oktober.
Wakil dari Protestan adalah seorang pendeta dari Gereja Kristen Evangelis Banjarmasin, yang memutar sebuah film tentang perayaan Natal.
Wakil-wakil Hindu berbicara tentang konsep Allah menurut agama Hindu dan simbol-simbol yang digunakan dalam ritual-ritual agama Hindu, dan wakil-wakil Muslim memutar sebuah film tentang wudhu dan sholat.
Peserta yang berbicara dengan UCA News mengatakan bahwa mereka menghargai workshop itu. “Senang bisa menambah pengetahuan karena tidak pernah mendapat pelajaran seperti ini,” kata Halik Magampir, 60, penganut Kaharingan. Seorang peserta Katolik berkomentar: “Acara ini sangat bagus, positif, dan berguna untuk memberikan pemahaman tentang agama-agama dalam konteks pluralisme di Indonesia.”
Rafiqah, seorang staf LK3 Banjarmasin, menyebut workshop itu sebagai “sebuah bentuk keprihatinan atas kondisi yang kita alami khususnya dalam kehidupan beragama di Indonesia.” Wanita Muslim berusia 30 tahun itu mengatakan kepada UCA News bahwa organisasinya pernah mengadakan acara serupa di akhir Juli, juga di kota itu. “Antusiasme peserta sangat baik,” katanya.
END