DAVAO CITY, Filipina (UCAN) – “Pujian Syukur” diumumkan di spanduk yang digantung di panggung pada sebuah konser yang disponsori umat paroki tengah baya untuk menghormati mendiang pastor mereka di kota di Filipina bagian selatan ini.
Mantan anggota muda berbagai organisasi Gereja dari Paroki Hati Kudus di Distrik Obrero di Davao City, 965 kilometer tenggara Manila, mengungkapkan pujian bagi Monsignor Paul Lu, yang mendirikan paroki itu tahun 1967.
Sekitar 200 orang menghadiri konser gratis pada 20 Desember di pekarangan paroki untuk menghormati imam dari Serikat Misi Asing Quebec (PME), yang meninggal dunia di Manila tahun 2000.
Mantan anggota Serikat Putra Altar, Legio Maria, dan Gerakan Pembaruan Karismatik mengorganisasi diri mereka sendiri sebagai Obreros de Davao, sebuah kelompok masyarakat yang mengurus pelayanan medis dan konser itu di malam hari pada hari itu.
Ketua Obreros yaitu Trinidad Filart-Ola, 47, mengatakan kepada hadirin yang menyaksikan konser itu bahwa orang muda paroki yang menjadi anggota kelompok karismatik ”Life in the Spirit Seminar” tahun 1977 menyelenggarakan peristiwa itu bersama dengan yang lain yang waktu masih remaja. “Kami mengembalikan talenta dan sumber daya kami kepada paroki dan untuk menghormati Pastor Lu,” kata perempuan itu.
Kemudian, dia mengatakan kepada UCA News bahwa kelompok itu mulai sebagai sebuah kelompok mantan orang muda yang chatting di Internet. Anggota kelompok itu kini tinggal di kota itu dan di luar negeri. Dalam tahun ini, peristiwa ini merupakan kedua kalinya mereka berkumpul untuk menghormati kembali “terkasih” dan pembina iman mereka.
Pada bulan Juni, mereka membagikan paket makan siang kepada orang miskin di Obrero pada pesta paroki. Dengan “menolong orang miskin,” kata Ola, kelompok melanjutkan karya Monsignor Lu.
Sebelum permainan band dimulai, sebuah video diputar untuk menyoroti kehidupan Monsignor Lu, dari kelahirannya di Cina bagian timur laut pada 17 Agustus 1926 hingga dia meninggalkan di Davao tahun 1992. Menurut laporan, dia masuk seminari St. Joseph yang dikelola Yesuit di Beijing tahun 1946 dan meninggalkan Cina daratan bersama 78 seminaris lain tahun 1949, ketika komunis berkuasa.
Setelah melanjutkan seminarinya di Manila, dia ditahbiskan imam pada 25 April 1955, di Davao City, tempat anggota PME berkarya sejak 1937. Presentasi video itu juga menunjukkan dia menerima gelar doktor hukum kanonik tahun 1958. Tahun 1967, dia ditugaskan untuk memulai Paroki Hati Kudus, yang diawali dengan semua kapel kecil dan kini menjadi salah satu dari 25 paroki di Keuskupan Agung Davao.
“Kita berkumpul di sini untuk merayakan kehidupan sebagai sebuah komunitas yang empat dekade lalu dibina dengan susah payah oleh Pastor Lu, manusia iman, manusia dari Allah God,” demikian suara dari video itu.
Monsignor Lu juga dirayakan karena perhatiannya bagi orang miskin yang datang kepadanya dan “mengalami belas kasih Allah bagi kaum papa melalui kebaikan hati imam ini.”
Dia meninggalkan Davao setelah Jaime Kardinal Sin dari Manila menunjuknya sebagai rektor Institut Misi Lorenzo, tiga tahun setelah prelatus yang sudah almarhum itu meresmikan institut itu sebagai seminari untuk membina para imam untuk kerasulan Cina-Filipina yang terus berkembang di Filipina.
Tahun 1997, Monsignor Lu diangkat sebagai superior pertama Serikat Misi Lorenzo Ruiz untuk karya misi bagi orang Cina. Jabatan ini dipegangnya hingga dia meninggal dunia pada 11 April 2000.
Dari tiga kelompok band setempat yang tampil dalam acara itu terdapat sebuah band yang semua pemainnya perempuan, yang menampilkan lagu-lagu gubahan mereka sendiri termasuk sebuah lagu rohani. Kelompok yang bernama Charismatic Josua Band itu juga meminta hadirin untuk bersama-sama menyanyikan lagu-lagu rock rohani yang digubah oleh masyarakat setempat.
“Dalam bagian pertama konser itu, kami memberi pujian kepada Pastor Lu dan Gereja, dan band terakhir agaknya memberkati kami dengan lagu-lagu mereka,” kata Ola.
Sebelumnya pada pagi di hari itu, para dokter dan dokter gigi secara suka rela menangani 300 warga Obrero di tempat olahraga Universitas Filipina Selatan. Warga barangay (desa) setempat, yang dipimpin oleh Whelma Lozada, mantan anggota kerasulan orang muda Gereja, menyiapkan sarapan pagi berupa bubur bagi para pekerja dan pasien.
END