RANCHI, India (UCAN) – Pemimpin-pemimpin Gereja di Negara Bagian Jharkhand di India bagian timur mengatakan bahwa mereka cemas dengan pencurian-pencurian di dua paroki di Keuskupan Agung Ranchi pada masa Natal.
Satu komplotan dengan 15 pria bertopeng dan bersenjata mengambil sekitar 240.000 rupee (US$5,000) dari Paroki Dighia pada 19 Desember, setelah menyerang imamnya dan seorang seminaris.
Uang itu merupakan dana dari sebuah serikat kredit yang dikelola paroki serta sumbangan-sumbangan untuk membantu para korban kekerasan sektarian di Orissa, negara bagian tetangga di bagian selatan dari Jharkhand.
Paroki itu berada 35 kilometer barat Ranchi, ibukota Negara Bagian Jharkhand, yang berjarak 1.160 kilometer tenggara New Delhi.
Dua hari sebelumnya, pada 17 Desember, pria bersenjata merampok sekitar 9.000 rupee dari paroki tetangga yaitu Paroki Patrachauli, demikian Pastor Patrick Tete SJ. Uang itu merupakan sumbangan umat yang dikumpulkan untuk para korban di Orissa.
Menurut Pastor Tete, kepala paroki itu, para perampok menodongnya dan tiga Yesuit lain dan meminta setengah juta rupee. Mereka kemudian menggeledah semua kamar namun tidak menemukan duit.
Telesphore Kardinal Toppo dari Ranchi mengatakan, dia kuatir tentang motif di balik musibah-musibah itu. “Dua insiden itu terjadi di dua desa yang bertetangga menjelang Natal. Kita tidak tahu apakah intensi mereka hanya sekedar merampok atau mengganggu Gereja,” katanya kepada UCA News.
Menurut kardinal, banyak perampokan terjadi yang memberi kesan bahwa hukum dan ketertiban di negara bagian itu sangat membingungkan. “Kita kuatir karena insiden-insiden ini mengganggu kegiatan-kegiatan kita di berbagai paroki-paroki dan desa-desa terpencil,” katanya. “Namun, kita tak akan menghentikan misi.”
Pastor Oscar Barla, yang berkarya di sebuah sekolah di Paroki Dighia, sependapat bahwa insiden-insiden itu merupakan “hal yang perlu dikuatirkan” bagi Gereja. “Mulai sekarang para perampok menjadikan Gereja sebagai sasaran — mereka bahkan tidak berbelas kasihan terhadap para suster,” lanjutnya.
Pastor Anthony Bruno Xalxo, kepala Paroki Dighia, dengan menjelaskan tentang perampokan itu, mengatakan kepada UCA News pada 21 Desember bahwa dia membuka pintu karena ada ketukan, karena mengira ada orang datang memintanya untuk memberi Sakramen Pengurapan Orang Sakit untuk orang sakit.
Para perampok kemudian menyerbu masuk dan seorang menodongkan senjata ke kepala imam itu. Mereka meminta satu juta rupee, dengan berkata bahwa mereka dapat informasi bahwa paroki itu memiliki banyak uang. Mereka kemudian mengeledah kamar imam itu dan mengambil sekitar 100.000 rupee.
Seorang dari mereka kemudian mencekik imam berusia 66 tahun itu, namun melepaskannya ketika imam itu hampir pingsan. Mereka kemudian mendesaknya untuk mengantar mereka ke unit paroki Chotanagpur Catholic Cooperative Credit society (Serikat Koperasi Katolik Chotanagpur) di pastoran itu.
Mereka juga membangunkan dan memukul mahasiswa teologi yaitu Mukul Kullu, yang membantu di paroki itu pada perayaan Natal. Para perampok kemudian mengikat imam dan seminaris itu dan menggeledah kamar-kamar lain selama dua jam.
Menurut Pastor Xalxo, uang 140.000 rupee yang dibawa para perampak dari serikat kredit itu menyelamatkan hidupnya. “Mereka berencana membunuh saya” jika tidak ditemukan uang, katanya.
Setelah para perampok itu kabur, imam dan seminaris itu berusaha melepaskan diri mereka dan bergegas membunyikan lonceng gereja, sehingga beberapa umat datang. Imam itu kemudian menelpon polisi.
Pengurus serikat kredit koperasi itu Prakash Minj mengatakan kepada UCA News pada 21 Desember bahwa organisasi itu membutuhkan sekitar 200.000 rupee untuk transaksi harian. “Kantor bekerja hingga petang. Kita tidak bisa menyimpang uang itu di sebuah bank di kota. Kita terpaksa mempertahankan uang itu di kantor. Tidak ada pilihan lain,” jelasnya.
Minj mengatakan, para perampok telah mencuri uang milik orang miskin itu. “Kami menghadapi masalah besar untuk mendapatkan kembali jumlah uang sebesar itu.”
Aparat kepolisian setempat yaitu Akhileshwar Jha mengatakan kepada UCA News, dia menduga geng yang sama melakukan kedua insiden itu. “Kami tengah menyelidiki,” katanya.
END