BA RIA, Vietnam (UCAN) – Sebuah perusahaan, yang kebanyakan staf manajemen puncaknya adalah Katolik, mengadakan perayaan Natal yang terfokus pada tragedi aborsi.
Dalam peristiwa itu, setelah menyaksikan pemutaran gambar-gambar janin yang digugurkan, Marie Bui Le Xuan, 21, berjalan masuk ke aula perusahaan dan bermeditasi di depan pemandangan Kelahiran yang dibuat di aula itu.
“Saya pahami bahwa Natal bukan hanya merayakan kelahiran Yesus tetapi juga misteri Inkarnasi, yang mengingatkan kita akan untuk mencintai dan menghormati kehidupan,” kata Xuan kepada UCA News.
“Bayi Yesus adalah bayi termiskin di dunia, yang dilahirkan di palungan di malam yang dingin, dan Bunda Maria serta Santo Yosef berusaha melindungi dan merawat-Nya,” kata perempuan Katolik itu. “Namun, banyak pasangan mengatakan, mereka terpaksa menggugurkan bayinya karena mereka hidup dalam kemiskinan.”
Xuan adalah salah satu dari 1.000 karyawan, sekitar 100 dari mereka itu Katolik, yang menghadiri perayaan 20 Desember yang diselenggarakan oleh Perusahaan Kertas Sai Gon bagi karyawannya di bangunan perusahaan itu di Tan Thanh, Propinsi Ba Ria-Vung Tau, 1.780 kilometer selatan Ha Noi.
Dalam perayaan selama sembilan jam yang meliputi Misa, pentas budaya, dan pesta itu, para karyawan menyaksikan gambar-gambar janin yang diaborsi di berbagai rumah sakit pemerintah serta bayi-bayi yang dilahirkan di berbagai panti yang dikelola Gereja, serta kegiatan-kegiatan pro-life dari para pekerja Gereja.
Joseph Nguyen Viet Cuong, 40, seorang staf manajemen perusahaan itu, mengatakan kepada UCA News bahwa dia meminta Pastor Joseph Le Quang Uy CSsR untuk memberi presentasi tentang dampak negatif aborsi serta karya pro-life Gereja. Cuong, sahabat Pastor Uy, mengatakan bahwa dia ingin membangkitkan kesadaran akan nilai kehidupan di kalangan karyawan.
“Banyak orang muda dewasa ini terlibat dalam hubungan seks pra-nikah, dan tidak tahu dampak buruk aborsi,” katanya.
Dalam presentasi itu, Pastor Uy mengatakan bahwa menurut catatan pemerintah, sekitar 2,4 juta aborsi dilakukan setiap tahun di Vietnam. Namun, menurut imam itu, angka sesungguhnya mendekati 3 juta, karena banyak aborsi dilakukan di klinik-klinik swasta yang beroperasi secara ilegal. Banyak perempuan mendatangi klinik-klinik ini untuk melakukan aborsi “rahasia” dan menghindar dari antrian di klinik atau rumah sakit pemerintah.
Perempuan-perempuan muda yang berusia sekitar 15 dan 25 tahun, dan para pekerja migran semakin banyak memilih aborsi, demikian imam yang terlibat dalam karya pro-life itu.
Pastor Uy, 49, juga mengatakan bahwa sejumlah dokter berbohong kepada perempuan-perempuan hamil dengan mengatakan bahwa bayi mereka cacat dengan harapan bahwa perempuan-perempuan itu memilih aborsi.
Imam itu mendorong para karyawan yang hadir, tanpa mempedulikan agama, “untuk bekerja sama melindungi kehamilan dari aborsi dan melindungi perempuan-perempuan hamil dari penderitaan trauma emosional” akibat melakukan aborsi.
“Natal merupakan suatu kesempatan bagi kita untuk merenungkan kehidupan” dan “menghormati pasangan-pasangan kita,” katanya.
Bui Van Loi, seorang karyawan beragama Tao, mengatakan kepada UCA News bahwa dia menghargai presentasi Pastor Uy. “Allah dilahirkan dalam kondisi miskin untuk menunjukkan bahwa anak-anak berhak untuk dilahirkan,” katanya.
Loi, 37, mengakui bahwa dia sebelumnya tidak cukup mengerti tentang makna Natal, dan biasanya keluar pada Malam Natal untuk bersenang-senang bersama teman-temannya. Ayah dua anak itu mengatakan, dia akan memanfaatkan Natal tahun ini bersama istri dan anak-anaknya untuk memperteguh ikatan kekeluargaan.
Pada perayaan Natal itu, Loi juga bermain drama yang diorganisasikan oleh seorang rekan Katolik. Drama itu menggambarkan seorang imam yang memberi hadiah kepada anak-anak jalanan dan anak yatim piatu, sementara kaum muda Katolik menikmati Natal dan mengabaikan orang-orang miskin.
Marie Quach Bich Tram, manajer personalia perusahaan itu, mengatakan kepada UCA News bahwa banyak karyawati kelihatan tersentuh setelah menyaksikan slide-slide janin yang digugurkan itu.
Tram, 46, mengatakan bahwa perusahaannya telah menyelenggarakan perayaan Natal bertahun-tahun untuk menikmati kegembiraan dan kedamaian Natal bersama para karyawan perusahaan. Dalam perayaan-perayaan Natal itu, perusahaan memberi uang, peralatan dapur, kotak tisu, dan tisu toilet bagi para karyawan yang telah menunjukkan prestasi baik selama tahun itu.
Tram mengatakan bahwa sejak Juli, perusahaan menyelenggarakan Misa setiap Sabtu terakhir setiap bulan. Sekitar 40 karyawan Katolik menghadiri Misa-Misa yang dipimpin oleh para imam Salesian itu. Dia mengatakan bahwa mereka yang menghadiri Misa diberi Kitab Suci dan rosario.
END