SEOUL (UCAN) – Pemimpin-pemimpin Katolik, Ortodoks, dan Protestan secara bersama menyatakan tahun 2009 sebagai Tahun Doa bagi Persatuan Umat Kristen.
Komisi Persatuan Umat Kristen dan Dialog Antaragama dari Konferensi Waligereja Korea dan Dewan Nasional Gereja-Gereja di Korea (NCKK, National Council of Churches in Korea) mengumumkan keputusan itu dalam konferensi pers bersama pada 29 Desember. Mereka mengatakan bahwa Gereja-Gereja di Korea Selatan akan mengadakan berbagai kegiatan ekumene seperti ibadat bersama, serta berbagai forum dan pertukaran sepanjang tahun itu.
“Agama Katolik dan Protestan tiba di Korea masing-masing sekitar 220 dan 120 tahun lalu,” kata Uskusp Auksilier Kwangju Mgr Hyginus Kim Hee-joong dalam konferensi pers itu.
Namun, jarak di antara mereka tetap ada dan bahkan konflik, demikian pengamatan prelatus yang komisi dari konferensi waligereja itu. “Tahun 2009 akan menjadi tahun pengakuan kesalahan kita kepada Allah dan tahun untuk memaafkan saudara-saudari kita,” katanya.
Uskup Kim mengamati bahwa masyarakat Korea Selatan kini “menderita akibat ketegangan dan konflik baik di bidang politik, ekonomi, dan sosial,” yang “menantang misi penginjilan kita dalam masyarakat.”
“Melalui persatuan dan kerukunan, kita umat Kristen perlu mengerti apa yang dibutuhkan masyarakat dari kita dan menjadi batu loncatan bagi pengembangan sosial,” lanjutnya.
Ketua NCCK, Pendeta Kim Sam-hwan sependapat. “Persatuan akan memberi harapan bukan saja untuk Gereja-Gereja, tetapi juga untuk segenap masyarakat,” katanya dalam konferensi itu.
Pemimpin-pemimpin Kristen itu juga mengeluarkan sebuah pernyataan pada kesempatan itu.
“Selama 2009,” kata mereka, “kita berharap segenap umat Kristen di Korea menemukan misi mereka untuk menjadi ‘garam dan terang’ di dunia,” seperti dalam keluarga dan di tempat kerja. Tahun itu akan menjadi tahun umat Kristen Korea “untuk bersama-sama menaburkan benih persatuan dan rekonsiliasi yang sejati, mengatasi perbagai perpecahan.”
Pernyataan itu ditandatangani oleh Uskup Kim, Pendeta Kim, dan pemimpin Metropolis Ortodoks Korea Ambrosios Aristotelis Zographos.
Tahun persatuan umat Kristen itu akan dibuka dengan ibadat bersama di Lapangan Olimpiade di Seoul pada 18 Januari. Ibadat itu juga akan memulai Pekan Doa tahunan bagi Persatuan Umat Kristen, yang akan diselenggarakan selama 18-25 Januari.
Selama tahun itu, ibadat-ibadat doa ekumene akan diselenggarakan di berbagai tempat di seluruh Korea, dan sebuah forum ekumene bersama para teolog terkenal di dunia akan diadakan pada bulan Mei, demikian pernyataan itu. Juga selama tahun itu, juga diadakan program pertukaran untuk para seminaris dan klerus.
Tahun itu akan ditutup dengan sebuah konser Natal.
Pendeta Kim Tae-hyon, direktur departemen ekumene NCCK, mengatakan kepada UCA News bahwa umat Kristen di seluruh dunia akan menggunakan buku panduan yang dipersiapkan bersama oleh Gereja Katolik, Protestan, dan Ortodoks Korea untuk pekan Persatuan Umat Kristen itu.
Buku panduan itu berisi doa-doa untuk ibadat bersama, refleksi alkitabiah dan teologis, doa-doa khusus untuk setiap hari dalam pekan itu, dan informasi tentang situasi ekumene di Korea.
Juga dikatakan dalam pernyataan itu bahwa Gereja-Gereja Korea mengusulkan tema, “Gabungkanlah keduanya menjadi satu papan, sehingga keduanya menjadi satu dalam tanganmu (Yehezkiel 37:17),” dengan maksud untuk mengatasi bukan saja perpecahan di kalangan Gereja-Gereja, tetapi juga perpecahan politik.
Selama beberapa tahun, Dewan Kepausan untuk Persatuan Umat Kristen dan the Commission on Faith and Order dari Dewan Gereja-Gereja se-Dunia secara bersama mengeluarkan bahan-bahan untuk pekan doa ekumene. Setiap tahun, mereka meminta Gereja-Gereja di wilayah tertentu untuk mempersiapkan draf material itu.
Sementara itu, umat Kristen setempat tengah merencanakan sebuah ibadat di Pyongyang dalam tahun itu “untuk reunifikasi dan rekonsiliasi dua Korea,” demikian seorang pejabat Konferensi Waligereja Korea.
“Ibadat itu bisa dihadiri oleh wakil-wakil umat Kristen Korea Utara dan Korea Selatan,” tambah pejabat itu.
END