BARUIPUR, India (UCAN) – Masa depan Reena Ganguly suram ketika keluarganya di sebuah desa di India bagian timur tidak bisa membiayai studinya setelah kelas 12.
Ganguly ingin belajar di perguruan tinggi atau suatu sekolah profesional, tetapi 50 rupee (sekitar US$1) upah harian ayahnya yang berusia 58 tahun sulit membuat keinginan itu terwujud. Pendidikan kelas 12 juga belum memenuhi syarat untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang baik.
Tiga tahun kemudian, perempuan Hindu berusia 20 tahun itu menjadi salah satu dari ribuan perempuan yang memperoleh kredit dari sebuah pusat Gereja Katolik untuk membantunya mandiri secara finansial. Kini, dia mendapat cukup duit untuk studinya di perguruan tinggi, yang dilakukannya dengan sistem belajar jarak jauh, dan bahkan masih bisa membiayai pendidikan adik perempuannya.
Kehidupan Ganguly berubah setelah para pelatih dari Women’s Welfare Centre datang ke desanya yaitu Dholi Para tahun 2007. Mereka mengajar menjahit dan merajut kepadanya dan perempuan-perempuan muda lainnya selama enam bulan.
Suster Sophia, 40, pemimpin pusat itu, mengatakan bahwa lebih dari 3.000 perempuan telah belajar berbagai keterampilan dari para guru dari pusat itu sejak pusat itu didirikan tahun 1993 di Baruipur, sekitar 25 kilometer tenggara Kolkata.
Kongregasinya yaitu Apostolic Carmel mengelola pusat itu, yang memberi pelatihan bagi kaum perempuan dalam menyulam dan karya tangan lain, komputer dasar, serta banyak keterampilan lain yang beraneka ragam dan bermanfaat, katanya.
Pemerintah Negara Bagian West Bengal mengakui diploma dalam bidang menjahit yang diberikan oleh pusat Gereja itu. Pusat itu telah berafiliasi dengan Pusat Pelatihan Kejuruan (Vocational Training Centre) di negara bagian itu sejak tahun 2000. Satu unit produksi di pusat itu membuat seragam sekolah dan pakaian lainnya.
Untuk bisa mendapat diploma, perempuan-perempuan itu harus menyelesaikan kelas 10, “tetapi kita mendapat ijin khusus bagi mereka yang tidak memenuhi standard,” kata Suster Sophia.
Para pelatih juga pergi ke daerah-daerah pedesaan seperti Dholi Para, karena beberapa perempuan tidak bisa mengadakan perjalanan untuk menghadiri kursus-kursus di pusat itu.
Suster Anusmita, 35, salah satu pelatih yang mengadakan perjalanan itu, mengajar perempuan-perempuan di rumah Ganguly pada setiap akhir pekan. Lima perempuan berkumpul di sana untuk mengikuti kursus-kursus gratis.
Perempuan-perempuan yang menghadiri kursus di pusat itu membayar 30 rupee per bulan untuk pertemuan empat jam dalam lima hari per minggu.
Shivli Nasker, seorang perempuan Hindu berusia 38 tahun yang belajar di pusat itu tahun 2005, kini mengajar menjahit di sana. Menurutnya, kemandirian ekonomi merupakan “manfaat paling utama” yang diperoleh perempuan-perempuan dari pelatihan itu.
Dia mengatakan bahwa diploma yang diakui pemerintah membantu peserta kursus untuk mendapatkan pekerjaan yang aman atau memulai program mereka sendiri di rumah untuk menambah penghasilan. Dia juga memperoleh penghasilan tambahan dari menjahit.
Suster Sophia mengatakan, sebuah perusahaan transnasional yang memproduksi mesin jahit telah mengakui diploma menyulam dan menjahit mereka sebelum muncul pengakuan dari pemerintah. Dia sedang berusaha untuk menyelesaikan sebuah program serupa untuk anak-anak perempuan yang tidak bisa menyelesaikan kelas delapan.
Pusat itu berjalan di Paroki St. Antonius di Keorapukur. Kepala paroki, Pastor Pankaj Pati, 62, memuji para suster karena “melakukan pekerjaan yang luar biasa” bagi pengembangan sosial dan ekonomi dari kaum perempuan yang miskin.
END