BANGKOK (UCAN) – Serikat religius pertama yang diberikan mandat paus untuk melakukan evangelisasi di Thailand telah berhasil selama 350 tahun misinya, kata superior lokalnya.
Serikat Misi Luar Negeri Paris (MEP, Missions Etrangeres de Paris), dibentuk tahun 1658. Paus Alexander VII menugaskan anggota serikat itu untuk berkarya di Siam, nama lama untuk Thailand, Indocina, dan sebagian dari Cina.
Menurut laporan, meskipun para misionaris Katolik lain — para Dominikan Portugis, Fransiskan Prancis, dan Yesuit Spanyol – tiba di Siam sebelum MEP, mereka datang sendiri atau sebagai bagian dari ekspedisi nasional.
Namun, pendiri MEP Pastor Francois Pallu dan Pastor Lambert de la Motte, yang diangkat Paus Alexander tahun 1658 menjadi vikaris apostolik, masing-masing di Vietnam bagian utara dan tengah, basis utama mereka berada di Siam. Tahun 1669, Paus Klemens IX membentuk Vikariat Siam dan mempercayakan vikariat itu kepada MEP.
Pastor Jean Dantonel, 75, yang saat ini pemimpin MEP untuk Thailand, berbicara dengan UCA News pada 18 Januari tentang kemajuan serikatnya dalam membangun keuskupan itu, yang mendidik para klerus lokal, mendirikan sekolah-sekolah, dan mengembangkan karya sosial.
Perayaan peringatan 350 tahun itu ditetapkan akan diadakan pada 7 Februari di Gereja St. Yosef di Ayuthaya, bekas ibukota Siam. Gereja itu berada di sebidang tanah bersejarah yang diberikan oleh Raja Narai kepada MEP pada abad ke-17. Michael Kardinal Michai Kitbunchu dari Bangkok dijadwalkan akan merayakan Misa peringatan pada hari itu.
Berikut ini wawancaranya:
UCA NEWS: Apa mandat MEP di sini?
FATHER JEAN DANTONEL: MEP diperintahkan untuk melakukan evangelisasi di wilayah yang luas yang membentang dari Siam ke Cina. Para misionaris MEP juga diminta untuk secara khusus memperhatikan perekrutan calon imam keuskupan lokal. Itulah alasan mengapa salah satu tugas utama MEP adalah untuk membuka sebuah seminari di Siam setelah mereka tiba di Ayuthaya. [Catatan editor: MEP mendirikan College General sebagai seminari regional di Ayuthaya tahun 1665. Tahun 1807, seminari itu dipindahkan ke Penang, Malaysia.]
Apa yang menjadi karya utama MEP di Thailand?
MEP aktif di semua bidang, mulai dari karya penginjilan hingga pembentukan keuskupan-keuskupan seperti yang diinstruksikan paus. Kami berhasil dalam misi ini, dan inilah yang kemudian berkembang menjadi sejumlah serikat misioner serupa.
Tahun pertama tibanya para misionaris MEP di Siam, kami turut mengembangkan pendidikan dan Gereja lokal. Kami mengajak kelompok-kelompok Katolik lain dari negara-negara asing untuk membantu dalam banyak bidang yang tidak bisa ditangani langsung oleh para misionaris MEP.
Semua 10 keuskupan yang ada, para imam paroki, dan umat lokal di seluruh negeri itu merupakan [buah dari] karya yang diprakarsai MEP. [Uskup de la Motte] mendirikan Pecinta Salib Suci (Lovers of the Cross), sebuah kongregasi religius wanita. Tentu saja, selama tahun-tahun yang panjang ini, kami juga menghadapi banyak kesulitan.
MEP di Thailand saat ini memiliki 23 imam, kebanyakan sudah lanjut usia. Hanya lima atau enam masih aktif dalam tugas-tugas mereka. Namun kami imam-imam tua ini masih membantu dan mendorong imam pribumi dalam menjalankan tugas-tugas mereka di bidang evangelisasi, pendidikan, dan karya pengembangan sosial.
Ceritakan sedikit tentang keterlibatan MEP dalam pendidikan di sini?
Sejak awal, MEP telah mendirikan lembaga pendidikan, sekolah-sekolah dan kolese-kolese.
Pastor Amil Colombet dari MEP mendirikan pendidikan modern di Bangkok. Ia mendirikan Kolese Assumpta tahun 1885. Karena karya pendidikan berkembang demikian cepat, ia kemudian mengajak Yayasan St. Gabriel untuk mengelola Kolese Assumpta.
Kini, Kolese Assumpta memiliki lebih dari 50.000 mahasiswa. Kolese itu kini menjadi salah satu lembaga pendidikan unggulan di Thailand.
Karya sosial dan pengembangan apa yang dimulai oleh MEP?
Banyak rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan dibangun di Thailand untuk menolong orang miskin. Namun sesungguhnya, kami hanya melakukan karya bantuan. Selama gelombang pengungsian warga Indocina ke Thailand tahun 1975, kami membantu pemerintah Thailand untuk menolong orang-orang ini dan mengupayakan penempatan baru bagi mereka di Prancis dan di negara-negara dunia ketiga lainnya.
Kini, tiga imam muda MEP dalam usia mereka yang ke 40-an tahun masih melakukan karya pengembangan, bantuan, dan sosial di Propinsi Tak di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar. Mereka adalah Pastor Olivier Prodhomme, Pastor Alain Bourdery, dan Pastor Nicolas Lefebure.
Bagaimana masa depan MEP di Thailand?
Kami menganggap misi kami ditugaskan paus itu sangat berhasil dan kami akan melanjutkan karya kami. Dalam 350 tahun terakhir, kami menghadapi banyak masalah — penyiksaan, kesedihan, dan kegembiraan.
Kebanyakan imam MEP kami, umumnya lanjut usia, masih memberi pelayanan pastoral, sering sebagai pembantu untuk para pastor paroki setempat di berbagai keuskupan. Kini, MEP memiliki sebuah gereja kecil berbahasa Prancis dengan lebih dari 100 umat. Gereja itu terletak di kompleks pusat MEP di Silom Road di Bangkok.
END