BRISBANE, Australia (UCAN) – Kebanyakan orang Kristen berdoa untuk keluarga dan kerabat mereka di awal tahun baru, namun apakah mereka masih berdoa untuk Gereja mereka?
Karena sejumlah orang Kristen menganggap komunitas umat beriman kurang sentral ketimbang kehidupan mereka, maka saya bertanya kepada 60 orang awam di 17 negara Asia apakah mereka berdoa untuk Gereja mereka di tahun 2009.
Tanggapan pertama tertahap email saya masuk beberapa jam dari seorang awam di India yang doanya untuk tahun 2009 meringkas aspirasi-aspirasi penting dari sejumlah responden. Ia mengatakan ia berdoa semoga Gereja akan menyadari realitas-realitas baru di Asia, terbuka pada kepakaran para profesional awam, dan menerima kaum perempuan — baik awam maupun religius — sebagai partner yang setara dalam misi Gereja.
Doa serupa juga datang dari seorang Korea, yang berdoa agar Gereja mengijinkan kaum awam yang senantiasa melakukan discerment untuk membuat terobosan dalam bidang misi. Mungkin batasan 50 kata untuk intensi itu tidak memungkinkannya untuk memberi perincian tentang suatu misi yang baru sesuai jaman dapat diadakan atau bahwa klerus melakukan pelayanan-pelayanan tradisional. Suatu peran yang lebih aktif bagi kaum awam diartikulasi dalam doa seorang Malaysia, dan seorang Bangladesh mengatakan bahwa dia berdoa semoga klerus dan religius memperlihatkan suatu kehidupan iman yang lebih baik. Seorang pekerja sosial asal Sri Lanka berdoa semoga kaum awam, klerus dan religius bersatu memberi kesaksian dalam tindakan. Sementara seorang perempuan Filipina yang ikut suatu kelompok injili ketika bekerja di luar negeri mengatakan dia berdoa bagi penyembuhan kecenderungan yang memecah-belah yang melemahkan kesaksian akan pesan Yesus.
Sentimen serupa juga terungkap dalam tanggapan dari seorang pemuda Pakistan, yang doanya seperti biasa memohon agar dalam kehidupan semua umat Kristen ada kasih, kedamaian, dan kegembiraan. Seorang pemuda Singapura mengatakan, dia berharap semoga Gereja lebih sepenuhnya dan lebih manusiawi dalam merangkul semua orang, seperti Yesus menjadi manusia.
Seorang perempuan Cina yang tinggal di luar Cina Daratan mengatakan ia berdoa semoga suatu lompatan besar terjadi dalam Gereja di tanah airnya di tahun 2009, namun lompatan itu tidak menimbulkan sikap acuh-tak-acuh dalam penghayatan dan pengamalan iman mereka.
Terkait dengan itu, seorang perempuan Singapura berdoa semoga Gereja cukup berani menyingkapkan semua pelecehan hidup manusia dan mempertahankan hak janin yang belum dilahirkan. Gereja, katanya, hendaknya menyuarakan keluarga dan nilai-nilai perkawinan sebagai Sakramen antara pria dan wanita.
Dua anggota dari gerakan orang muda Gereja Asia mengatakan, mereka berdoa semoga semangat keadilan sosial menjamah hati para pemimpin agama yang pada gilirannya mengilhami para anggota Gereja untuk menjadi alat keadilan. Pemuda-pemuda itu juga berdoa semoga politik dan standar ganda slogan Gereja yang bertentangan dengan kesaksian Gereja dapat berakhir.
Seorang pemimpin orang muda mengatakan ia berdoa semoga para pastor lebih dekat dengan yang paling menderita dari kaum papa, sementara seorang pemuda Indonesia mengatakan bahwa ia berdoa semoga Gereja konsisten memihak isu-isu keadilan dan hak asasi manusia.
Survei doa itu menargetkan 60 orang awam berusia 25 hingga 75, namun hanya 34 responden yang memberi tanggapan akurat. Belasan lainnya memberi tanggapan dengan doa pribadi untuk tahun 2009, sementara lebih dari belasan lain tidak menanggapi.
Kebanyakan yang memilih tidak menjawab itu berusia sekitar 50 hingga 75 tahun. Ironisnya, banyak dari mereka dikenal sebagai pemimpin awam senior dan termasuk profesional media Gereja. Meskipun jaminan identitas mereka disembunyikan, kegagalan mereka untuk menanggapi survei sederhana ini membuat saya merasa heran apakah rasa ketidaknyamanan pribadi menghambat mereka. Atau apakah mereka tidak lagi berdoa untuk Gereja mereka? Sedih, jika benar …
Juga, selain menunjukkan bagaimana dengan penuh semangat sejumlah orang awam mendoakan Gereja, hasil survei yang terbatas ini mencerminkan tanda-tanda yang sehat bagi masa depan Gereja. Hampir 80 persen dari 46 responden itu berusia di bawah 50 tahun, dan beberapa mengatakan bahwa mereka tidak keberatan kalau namanya disebut. Ada tanda-tanda harapan serta keberanian, terutama di kalangan orang muda untuk mempertahankan apa yang mereka yakini.
Namun kelihatannya tidak semua berada pada arus gelombang yang sama. Beberapa responden agaknya berlandaskan pada rasa tertentu untuk mendoakan Gereja di luar sana, bukan karena suatu komunitas iman inklusif yang menjadi bagian integral kaum awam berada. Demikian juga doa pribadiku untuk Gereja di tahun 2009 disesuaikan dari sebuah doa yang didengar kali ini tahun ini dalam Pekan Persatuan Gereja. Semoga kita bersatu, satu komunitas dalam iman dan tanggung jawab bersama.
——
Hector Welgampola, Jurnalis Sri Lanka, adalah Eksekutif Editor UCA News dari 1987 hingga pensiun pada Desember 2001.
END