UCAN Philippines Catholic Church News
Sacred Space

FILIPINA – Imam Lefebvre Melihat Perlunya Perubahan Perilaku dalam Gereja Lokal

30/01/2009

QUEZON CITY, Filipina (UCAN) –  Pemimpin lokal Serikat St. Pius X (SSPX, Society of St. Pius X) mengatakan, umat Katolik harus mengubah perilaku mereka sebelum kelompoknya berintegrasi sepenuhnya ke dalam Gereja lokal.

Pastor Adam Purdy berbicara dengan UCA News pada 28 Januari dalam kaitan dengan dekrit Paus Benediktus XVI tertanggal 21 Januari yang mencabut ekskomunikasi para uskup serikat itu.

“Banyak imam dan uskup berpikir tentang kami sebagai sebuah serikat skismatik dan tidak memberi izin untuk memasuki gereja-gereja mereka,” katanya di Paroki Bunda Kemenangan, gereja SSPX di Quezon City, timur laut Manila.

Imam berusia 31 tahun itu tetap bersikeras bahwa situasi ini berlangsung terus sekalipun serikatnya dan para anggota serikatnya “tidak pernah terpisah dengan paus kita.”

Imam asal Amerika itu menyebut deklarasi kesetiaan yang dibuat oleh pemimpin SSPX, Uskup Bernard Fellay, kepada Gereja Katolik Roma. Deklarasi itu dikutip dalam dekrit Vatikan itu.

Dalam dekrit itu, uskup itu dikutip ketika mengatakan bahwa serikatnya berada “dalam pelayanan Gereja Tuhan Kita Yesus Kristus, yang adalah Gereja Katolik Roma,” dan bahwa para anggotanya “menerima ajaran Gereja dalam semangat ke-putra-an” dan “dengan teguh percaya akan Primasi Petrus dan hak prerogatifnya.”

Mendiang Uskup Agung Marcel Lefebvre mendirikan SSPX tahun 1970 untuk mendidik para imam sesuai doktrin, moral dan ibadat yang tidak dicemari oleh perubahan-perubahan dari Konsili Vatikan II (1962-1965). Sebuah krisis muncul ketika ia menahbiskan empat uskup — Bernard Fellay, Richard Williamson, Bernard Tissier de Mallerais, Alfonso de Galarreta – bahkan setelah Vatikan mengingatkannya agar ia tidak boleh melakukan hal itu tanpa mandat paus.

Tahun 1988 Vatikan menyatakan semua lima uskup itu diekskomunikasi.

Pastor Purdy mengatakan wakil-wakil SSPX yang berdialog dengan Vatikan telah membuat restorasi keabsahan Misa Latin dan pencabutan ekskomunikasi sebagai syarat-syarat kembali menuntaskan pembicaraan-pembicaraan.

Tindakan paus tentang dua hal itu mengizinkan “pembahasan serius tentang perbedaan,” katanya.

Dalam Summorum Pontificum, sebuah surat apostolik yang dikeluarkan Paus Benediktus atas inisiatifnya sendiri (motu proprio)  tahun 2007, paus secara resmi mendeklarasikan Misa Latin yang digunakan sebelum Konsili Vatikan II, yang sering disebut Misa Tridentin, sebuah “ritus universal yang bersifat luar biasa,” dan Misa bahasa pribumi, sebuah “ritus universal yang bersifat biasa.”

Untuk sementara, kata Pastor Purdy, para imam SSPX ”masih banyak menderita atau lebih dari itu para uskup kami [yang diekskomunikasi].”

Ia menyebut laporan dari seorang konfraternya bahwa dalam kunjungannya ke Keuskupan Bohol di Filipina tengah, ia diinformasikan untuk tidak lagi mengunjungi gereja-gereja di sana dalam ziarah-ziarah tahunan karena serikatnya itu “skismatik.”

Uskup Tagbilaran, Bohol, Mgr Leonardo Medroso, ketua Komisi Hukum Kanonik Konferensi Waligereja Filipina, menjelaskan: “Saya mendengar tentang penolakan terhadap mereka, tetapi bukan saya yang melarang mereka [memasuki gereja].”

Uskup itu mengatakan, ia masih harus meninjau kembali dekrit yang dikeluarkan belakangan ini “untuk melihat sejauhmana hal ini mempengaruhi posisi serikat itu di sini di negeri ini.”

Uskup Agung Lingayen-Dagupan Mgr Oscar Cruz, seorang pakar hukum kanonik, mengatakan bahwa sekalipun ekskomunikasi para uskup itu dicabut, baik mereka maupun para imamnya tidak diberikan ijin untuk menggunakan kemampuan imamat mereka. Ia mengatakan paus harus mengumumkan kalau hal semua ini dipulihkan dan kapan dipulihkan.

Pastor Purdy mengakui, “Perubahan sikap itu butuh waktu lama.” Dia menyebut “cara para uskup lokal mengimplementasikan” motu proprio itu, dengan mengklaim bahwa mereka ”justru mengabaikannya, dan di banyak keuskupan mereka bahkan tidak mengizinkan para imam mempersembahkan Misa Latin.

Namun, ia juga mengatakan bahwa beberapa uskup telah terbuka, dengan bercerita bahwa mantan uskup dari Keuskupan Bacolod, Filipina tengah, mempercayakan sebuah paroki kepada serikatnya. Seorang uskup lain dari wilayah yang sama menandatangi surat-surat untuk pembaruan visa seorang imam asing mereka. Uskup ketiga lain dari wilayah Manila meminta mereka 36 CD untuk para imamnya tentang cara mempersembahkan Misa Latin.

Pastor Purdy mengatakan pencabutan ekskomunikasi itu bisa memiliki sejumlah dampak praktis termasuk kemungkinan peningkatan panggilan untuk SSPX, lebih banyak minat di kalangan para imam Filipina untuk mempersembahkan Misa Latin dan lebih banyak umat menghadiri Misa Latin.

“Ketika saya sedang dalam pesawat minggu lalu,” katanya bercerita, seorang pemuda mendekati saya dan mengatakan bahwa ia ingin bergabung dengan seminari kami di Australia namun tidak bisa karena kami diekskomunikasi.”

SSPX, yang berpusat di Swiss, menurut laporan, memiliki 454 imam di 55 negara. Serikat ini memiliki pusat-pusat Misa di 11 negara di Asia, demikian salah satu dari website-nya.

END

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. 1,6 juta anak Indonesia kekurangan gizi
  2. Anak yatim-piatu temukan rasa kekeluargaan
  3. Penutupan 17 gereja di Aceh dilaporkan ke Komnas HAM
  4. Presiden: Ciptakan kehidupan berbangsa tanpa kekerasan
  5. Ketegangan menyusul kekerasan
  6. Ziarah Santa Maria Fatima
  7. Peziarah Lourdes asal Indonesia alami kecelakaan, seorang meninggal
  8. Relawan muda bangun rumah untuk korban banjir
  9. Bangun masjid sebagai solusi terbaik kasus GKI Yasmin
  10. Dokumen tunjukkan bukti Yesus pernah ke Jepang
  1. Jemaat HKBP Filadelfia dilempari air got dan urine
  2. Ketegangan menyusul kekerasan
  3. Ribuan umat Kristiani berdoa bagi perdamaian
  4. Presiden: Ciptakan kehidupan berbangsa tanpa kekerasan
  5. Relawan muda bangun rumah untuk korban banjir
  6. Korban Sukhoi didoakan umat Katolik pada Hari Kenaikan
  7. Istri Bill Gates, seorang Katolik, dukung pengendalian kelahiran
  8. Ketua MPR bertemu pimpinan KWI dan PGI
  9. Ziarah Santa Maria Fatima
  10. Pemrotes anti-nuklir akhiri mogok makan
  1. Mungkin gedung sebaiknya dijual untuk klinik, apotik dll.   lalu cari tempat lai...
    Said Jenny Marisa on 2012-05-18 22:54:00
  2. Semoga Tuhan mengampuni mereka yang melakukan kekerasan.  ...
    Said Andreas Darmadi on 2012-05-18 15:00:00
  3. Dasar islam:( ga mampu bangun mesjid. Akhirnya merampok dgn terang2an, dgn memin...
    Said rampok atas nama agama (islam) on 2012-05-18 09:25:00
  4. Kementrian Agama takut di demo. titik...
    Said Yantosaputrayo on 2012-05-18 05:40:00
  5. Beribadah merupakan hak paling asasi karena itulah cara manusia berkomunikasi da...
    Said Johnynatu on 2012-05-18 05:33:00
  6. Ah, Percuma itu komnas HAM. Hanya macan ompong....
    Said Omar Sarif on 2012-05-17 21:28:00
  7. medan aceh deket bungg.... hati2 ...
    Said Gos_ban on 2012-05-17 19:36:00
  8. Biarkanlah semua yang dilakukan oleh manusia, Tuhan Yesus yang mempunyai kuasa a...
    Said Agus Howay on 2012-05-17 18:20:00
  9. Konflik Maluku tahun 2002-2004 dibuat oleh alat keamanan. Orang Maluku yang ahli...
    Said M Kusumahadi on 2012-05-17 09:27:00
  10. Sulit berkomentar jika ada kelompok2 yang mau benarnya sendiri, mau menangnya se...
    Said M Kusumahadi on 2012-05-17 09:21:00