KOTA VATIKAN (UCAN) – Paus Benediktus XVI mengungkapkan “kesedihan mendalam” ketika tahu tentang kematian Paul Joseph Kardinal Pham Dinh Tung, mantan uskup agung Ha Noi. Paus juga memujinya karena pelayanannya terhadap Gereja “dengan keberanian luar biasa” dalam “situasi-situasi sulit.”
Dalam sebuah telegram dalam bahasa Prancis kepada Uskup Agung Ha Noi Mgr Joseph Ngo Quang Kiet, Paus menyampaikan perasaan turut berdukacita. Vatikan menyampaikan isi telegram itu kepada pers internasional pada 23 Februari.
Paus mengatakan, dia bersatu “dalam doa” dengan semua uskup Vietnam, dan umat Katolik di Keuskupan Agung Ha Noi dan di seluruh Vietnam, serta dengan sanak-saudara dari kardinal yang wafat itu dan semua yang merasa kehilangan.
“Saya memohon kepada Allah Bapa, sumber belas kasihan, untuk menerima gembala yang luar biasa ini ke dalam terang dan kedamaian-Nya. Dalam situasi-situasi sulit, gembala ini mampu melayani Gereja dengan penuh keberanian dan kesetiaan kepada Takhta Santo Petrus, dengan mengabdikan dirinya untuk mewartakan Injil tanpa kenal lelah,” kata Paus.
Sebagai penutup, Paus memberi berkatnya bagi semua yang ikut dalam Misa pemakaman pada 26 Februari.
Kardinal Tung wafat di kediaman uskup agung di Ha Noi pada 22 Februari di usia 89 tahun.
Berita kematiannya dan berbagai komentar tentang kepemimpinannya atas umat Katolik Vietnam dalam masa-masa sulit dilansir oleh Radio Vatikan dan L’Osservatore Romano,” harian Vatikan, serta oleh pers Katolik di Italia, Amerika Serikat, Prancis, dan negara-negara lain.
Mendiang kardinal itu “jelas adalah salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Gereja di negaranya belakangan ini,” tulis harian Vatikan dalam sebuah artikel khusus di edisi 23-24 Februari.
Media itu memaparkan betapa kardinal itu “digerakkan oleh suatu kekuatan spiritual yang luar biasa,” dan “dia melayani Tuhannya secara rahasia, dengan mengungkapkan karya cinta kasihnya yang mendalam bagi semua orang yang datang kepadanya.”
Mengacu ke periode penindasan agama di Vietnam, Koran Vatikan itu berbicara tentang “penderitaan mendalam” yang dijalani kardinal itu hampir selama 30 tahun, sejak Paus Paulus VI mengangkatnya sebagai pemimpin Keuskupan Bac Ninh tahun 1963 hingga Paus Yohanes Paulus II menjadikannya Administrator Apostolik Keuskupan Agung Ha Noi tahun 1990, setelah kematian Joseph Marie Kardinal Trinh Van Can.
Selama periode itu, “dia dipaksa untuk tinggal di rumah dan tidak diperbolehkan mengadakan kunjungan-kunjungan pastoral ke lebih dari seratus paroki di keuskupannya.” Saat itu hanya ada tiga imam di keuskupannya.
Namun, dia mampu menciptakan “berbagai dewan kaum awan” di paroki-paroki yang berada di bawah yurisdiksinya dan memberi mereka wewenang untuk menangani kehidupan keagamaan komunitas-komunitas lokal. Dewan-dewan ini menjadi “sangat penting” bukan saja untuk menjaga iman, tetapi juga untuk menolong umat mempersiapkan pernikahan.
Dia juga mendirikan sebuah institut sekular untuk melatih kaum awam yang ingin menjadi katekis, dan hasilnya sangat mencengangkan, demikian penekanan harian Vatikan itu.
Paus Yohanes Paulus II menjadikannya uskup agung pada bulan Maret 1994, dan pada bulan November diangkat menjadi kardinal.
Di Ha Noi, dia memberi perhatian khusus bagi para imam di keuskupan agungnya, yang waktu itu kurang dari 30 orang, dan kebanyakan sudah sangat sepuh. Dia juga memberi perhatian bagi kaum awam.
Namun yang terutama, Kardinal Tung terkenal karena memperhatikan jeritan kaum miskin. Beberapa hari menjelang diangkat menjadi kardinal, dia meminta izin dari pemerintah untuk membuat suatu seruan internasional untuk memberi bantuan kemanusiaan bagi para korban banjir di Vietnam. Ini merupakan yang pertama kali pemerintah Vietnam mengijinkan orang Gereja Vietnam untuk membuat seruan seperti itu, dan tanggapan internasional sangat luar biasa.
Kardinal Tung pensiun sebagai uskup agung Ha Noi tahun 2005.
END