DENPASAR, Bali (UCAN) – Uskup baru Denpasar, yang keuskupannya meliputi propinsi yang mayoritas Hindu dan Muslim, berharap untuk memperkuat kerja sama dengan kelompok-kelompok lain dan meningkatkan pertumbuhan spiritual di Gereja lokal.
“Saya mengharapkan agar semangat dialog dengan pihak lain tetap harus dinyalakan, sambil semangat solidaritas dalam Kelompok Basis Gereja (KBG) hendaknya dihayati dalam hidup harian,” kata Uskup Silvester San Tungga.
Prelatus baru itu berbicara setelah upacara tahbisan uskup pada 19 Februari di Gereja Katedral Roh Kudus di Denpasar, ibukota Propinsi Bali. Ia menggantikan Uskup Benyamin Yosef Bria yang meninggal pada September 2007.
Uskup San mengatakan tantangan utama yang dihadapi Gereja lokal adalah “minoritas yang beranekaragam.” Untuk mengatasi ini, dialog dengan kelompok lain dalam masyarakat harus dipelihara dan ini harus dimulai dari Komunitas Basis Gereja, katanya.
Keuskupan Denpasar mencakup Propinsi Bali yang mayoritas Hindu dan Propinsi Nusa Tenggara Barat yang mayoritas Muslim.
Menurut analisa Gereja Katolik lokal tahun 2006, kebanyakan umat Hindu di Bali terbuka untuk agama lain. Namun, banyak umat Islam yang tinggal di Sumbawa Besar dan Bima di Nusa Tenggara Barat, misalnya, curiga terhadap umat Katolik dan melarang mereka bernyanyi dalam doa bersama di rumah-rumah mereka.
Uskup San, seorang etnis Cina, mengakui bahwa ia menghadapi tantangan itu. “Saya menyadari sebagai manusia yang rapuh, tidak sanggup dan tidak layak dengan pengangkatan ini, apalagi meninggalkan Pulau Flores yang sangat saya cintai. Di samping itu saya tidak mengenal situasi Keuskupan Denpasar,” katanya.
Uskup San mengatakan ia melihat kenyataan pluralisme di keuskupannya sebagai suatu yang positif. “Namun kenyataan seperti ini akan tercipta aneka kompetisi, yang kalau tidak dilaksanakan dalam semangat kristiani akan menjurus ke konflik dan perpecahan,” katanya.
Uskup baru juga meminta para imam dan biarawan-biarawati supaya membantunya melayani keuskupan itu dengan saling bekerjasama. Namun, ia juga menyatakan bahwa “kita hendaknya mengandalkan kekuatan Tuhan dan bukan kekuatan manusiawi kita.” Motto uskup prelatus itu adalah Deus Incrementum Dedit (Allah yang Memberikan Pertumbuhan, 1 Kor. 3:7).
Pulau dewata Bali mengalami ledakan bom tahun 2002 oleh Islam militan, yang menewaskan 202 orang, yang kebanyakkan warga asing. Serangan ini, dan yang lainnya tahun 2005, berdampak pada pariwisata, yang menjadi tumpuan ekonomi pulau itu.
END