BANGLADESH – Kebudayaan Masyarakat Adat Menemukan Tempatnya dalam Gereja Katolik

23/03/2009

DHAKA (UCAN) — Kebudayaan suku dan agama Katolik mengembangkan suatu hubungan saling menghormati di Bangladesh.

Pesta-pesta Gereja dalam komunitas-komunitas suku telah mengakomodasi para pendahulu masyarakat adat, dan unsur-unsur kebudayaan suku tampak dalam wajah Yesus di salib, wajah Bunda Terberkati, dan ikon-ikon Katolik lainnya.

“Mereka merasa nyaman menyaksikan semua ini,” demikian Pastor Raphael Murmu, imam dari komunitas etnis Santal di wilayah barat laut negeri itu.

Imam yang menjadi pembantu rektor Seminari Peralihan St. Joseph di Dhaka itu menambahkan bahwa Gereja menghormati kebudayaan-kebudayaan dari komunitas-komunitas etnis yang kecil seperti etnis Santal, Khasi, dan banyak etnis lainnya “yang secara nasional diperlakukan sebagai komunitas-komunitas minoritas yang tersingkir.”

Dia menunjuk pada adaptasi Gereja terhadap Baha Porbo, suatu upacara keagamaan yang digunakan suku Santal untuk berdoa memohon kesehatan yang baik, untuk merayakan kelahiran, atau untuk bebas dari berbagai penyakit. “Kini upacara itu dikristenkan sebagai Paskah, yang membawa kehidupan baru bagi manusia berdosa di bumi ini. Fokus keyakinan itu dialihkan dari dewa dan dewi tradisional mereka kepada Kristus.”

Suku Garo merayakan festival panen, Wangala, jauh sebelum masuknya agama Kristen, lanjut Pastor Murmu. Kini festival itu dirayakan sebagai pesta Kristus Raja. Sejak Konsili Vatikan Kedua, banyak upacara dan pesta adat diadaptasi oleh Gereja Katolik, katanya.

Kepala Suku Garo, Saibal Sangma, yang berbicara setelah suatu perayaan kebudayaan adat diselenggarakan baru-baru ini di ibukota itu, mendukung pernyataan imam itu. “Gereja Katolik telah menerima hampir semua upacara adat kami. Kini, kami mempraktekkannya dalam Gereja,” katanya. Gereja-Gereja Protestan belum terbuka seperti Gereja Katolik ini, lanjutnya.

Serikat Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan (SEHD, Society for Environment and Human Development), sebuah LSM yang didirikan oleh mantan seminaris Philip Gain, menyelenggarakan festival 12-14 Maret itu. Dalam festival itu, para seniman dari 15 komunitas suku dilibatkan.

Dalam festival tiga hari itu, sedikitnya 1.000 pengunjung muncul setiap hari, kata Gain. Dia mencatat bahwa organisasinya sudah mengadakan acara seperti itu selama lima tahun dengan bantuan finansial dari Christian Aid. Agen internasional yang didukung oleh Gereja Protestan dan Gereja Ortodoks di Inggris dan Irlandia itu mendanai program itu guna melestarikan kebudayaan dan warisan dari “komunitas-komunitas yang rentan” ini.

Dalam berbagai kegiatan SEHD, salah satu fokusnya adalah hak dan kebudayaan warga suku.

Dalam festival yang diselenggarakan di Arts Academy itu, Subod Baskey, koordinator bidang kebudayaan dari LSM itu, menegaskan bahwa kebudayaan-kebudayaan suku tradisional “mulai hilang perlahan-lahan” karena tidak ada dukungan di tingkat nasional. “Banyak warga masyarakat Bangladesh tidak banyak tahu tentang kelompok-kelompok etnis di negara ini.”

Pastor Murmu mengatakan, selain memberi kesempatan kepada mayoritas warga Bangladesh untuk tahu tentang kebudayaan-kebudayaan suku, festival tahunan ini juga membantu masyarakat suku non-Kristen untuk tahu tentang sesama mereka yang beragama Kristen.

Menurut Gain, 55-60 persen dari sekitar 500.000-600.000 umat Kristen di Bangladesh itu adalah warga suku, dan mayoritas dari mereka itu adalah Katolik. Dalam Buku Petunjuk Gereja Katolik 2007, umat Katolik di negeri itu berjumlah sekitar 310.000 jiwa.

Dalam festival itu, Zakarias Dumri, seorang Katolik dan pemimpin Organisasi Pengembangan Sosial Ekonomi dari Suku (Adivasi) Mahale, menunjukkan keranjang-keranjang dari bambu. Dia mengatakan, “Suku Mahale mengantungkan hidupnya pada ini.” Menurut perkiraannya ada 30.000 warga suku Mahale di Keuskupan Dinajpur dan Keuskupan Rajshahi, dan hampir semua dari mereka itu Katolik. Kedua keuskupan itu mencakup Bangladesh bagian barat laut.

Pastor Dilip Costa, rektor Seminari Menengah St. Joseph, yang berasal dari Rajshahi, memperkirakan di dalam Gereja Katolik terdapat 40-50 imam dan 70-80 suster yang berasal dari warga suku.

Sumber-sumber pemerintah mengidentifikasi 27 kelompok suku di Bangladesh, tetapi menurut perhitungan para peneliti ada 45 kelompok suku.

Gereja Katolik menjangkau hampir semua kelompok suku ini, kata Pastor Subroto Gomes, sekretaris Konferensi Waligereja Bangladesh.




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Penghargaan ‘Cross Of Honor’ untuk umat Katolik Bangladesh
  2. In memoriam Romo Paul Henricus Janssen, CM
  3. Ini anggaran Pemprov Papua untuk membangun patung Yesus
  4. Keserakahan manusia menjadi penyebab utama kerusakan alam
  5. Misionaris lansia di India terancam dideportasi
  6. Uskup Korea bandingkan janji kampanye presiden dengan ajaran Gereja
  7. Pendeta asal Taiwan ditangkap karena nyanyikan lagu kebaktian
  8. Renungan Minggu Paskah III, 30 April 2017
  9. Cina melarang bayi Muslim menggunakan nama-nama berikut
  10. Pemimpin Muslim berusaha agar pejuang Abu Sayyaf menyerahkan diri
  1. Menurut saya, idenya sih boleh boleh saja tapi agak berlebihan. Duit sebanyak i...
    Said Grace on 2017-04-25 15:08:34
  2. Wajar saja kalau timbul kekhawatiran di kalangan minoritas karena kelompok radik...
    Said Aan Monterado on 2017-04-21 12:14:35
  3. Salut tuk kerja keras tim, tapi kritik utk peran pastor/suster, tetep aja yg kat...
    Said andreas jacob on 2017-04-17 14:16:16
  4. Menurut saya jika kita melihat dengan kondisi bangsa saat ini lebih bagus waktu ...
    Said Nick on 2017-04-15 10:04:04
  5. Saya harap juga setiap gereja di Jakarta dipersiapkan keamanannya.....
    Said Jenny Marisa on 2017-04-12 13:14:03
  6. Artikel ini bisa membantu para mahasiswa/i yang sedang membuat tugas....
    Said Natalino de Araujo Salsinha on 2017-04-11 15:21:13
  7. Kami salut dengan prinsip gereja yang dipertahankan oleh para Uskup di Filipina,...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-04-10 16:48:31
  8. salam saja...
    Said njlajahweb on 2017-04-10 00:17:06
  9. Sangat membanggkan akhirnya ada pulah Perhatian Pemerintah yang sangat besar bag...
    Said Beby on 2017-04-08 20:13:11
  10. Luar biasa n profisiat Mgr. Agust Agus Pr. untuk keputusan ini. Terima kasih bua...
    Said Bius Galmin on 2017-04-07 19:22:15
UCAN India Books Online