KOLKATA, India (UCAN) – Pemimpin tarekat Misionaris Cinta Kasih (MC, Missionaries of Charity) yang baru terpilih, Suster Mary Prema, mengatakan bahwa dia akan meneruskan karya pendiri mereka, Beata Teresa dari Kolkata, untuk menunjukkan belas kasih Allah bagi “manusia yang remuk redam.”
Biarawati kelahiran Jerman yang terpilih 24 Maret untuk memimpin tarekat itu mengatakan, dia merasa “merasa tidak pantas untuk jabatan itu” yang sebelumnya dijabat oleh Suster Nirmala Joshi selama 12 tahun menggantikan Beata Teresa.
Ketika diwawancarai sehari setelah pemilihannya, Suster Prema mengatakan, dia merasa tidak pantas memimpin misi pelayanan dari tarekatnya untuk melayani “orang termiskin dari yang miskin.”
“Dengan kekuatan Allah, saya akan melaksanakan karya ini dan menjadi bagian dari misi ini,” katanya.
Suster itu terpilih di akhir sidang umum tarekat itu. Sidang itu dimulai 1 Februari. Sidang itu, menurut laporan, lebih dahulu memilih Suster Nirmala untuk ketiga kalinya, namun Suster Nirmala menolaknya karena kesehatannya yang buruk. Menjadi pemimpin tarekat itu untuk ketiga kalinya juga membutuhkan persetujuan paus karena konstitusi tarekat itu hanya membolehkan dua kali menjabat masing-masing selama enam tahun.
Sidang umum yang dihadiri 163 delegasi dari seluruh dunia itu kemudian memilih Suster Prema, yang selama enam tahun lalu menjadi anggota tim penasehat Suster Nirmala. Sidang itu merupakan pertemuan wajib para suster setiap enam tahun untuk membahas karya dan masa depan tarekat itu.
Pemimpin baru itu mengatakan, para anggota MC “dipercayakan dengan suatu tanggung jawab yang besar untuk membawa manusia yang remuk redam kepada Yesus.”
“Jeritan kaum miskin harus ditanggapi setiap hari karena kita harus memberi belas kasih Allah kepada semua orang,” katanya.
Para suster dipanggil untuk berkarya “bagi persatuan di semua tingkat dan membuat Gereja hadir di dunia kita dewasa ini, melalui sarana-sarana sederhana dan karya-karya kasih,” katanya.
Suster Prema mengatakan, dia “sangat sadar akan panggilan Yesus” sejak masih sebagai seorang perempuan muda, untuk berkarya bagi kaum papa. Buku “Something Beautiful for God” karya Malcolm Muggeridge tahun 1971 tentang karya Ibu Teresa membuatnya sadar akan tarekat Misionaris Cinta Kasih.
Dia pertama kali bertemu dengan Ibu Teresa tahun 1980 di Berlin, Jerman. Ketika mereka bertemu lagi, perempuan Jerman yang masih muda itu mengungkapkan kerinduannya untuk bergabung dengan tarekat itu.
Menurut seorang imam yang dekat dengan tarekat itu, Suster Prema adalah seorang administrator yang handal.
Uskup Agung Calcutta Mgr Lucas Sircar, yang memimpin pemilihan tertutup di biara MC, 30 kilometer dari Kolkata, mengatakan bahwa Suster Prema terpilih dalam pemungutan suara pertama dengan dua pertiga mayoritas suara.”
Beata Teresa mendirikan tarekat itu tahun 1950 dan memulai karyanya di kalangan kaum miskin di kota itu, yang sebelumnya dikenal dengan nama Calcutta. Dia wafat tahun 1997 dan dimakamkan di rumah induk MC di Kolakata.
Para delegasi sidang umum itu kembali ke rumah induk pada 25 Maret dan merayakan Misa syukur di makam Beata Teresa. Suara tepukan tangan, nyanyian gembira, dan ucapan selamat dapat didengar di luar tembok, yang dekat dengan para pengunjung.
Sebuah pesan tulisan tangan yang mengatakan “tidak terima tamu” dipasang di pintu masuk. Seorang suster di pintu itu menjelaskan bahwa biara itu tidak punya cukup ruang untuk pengunjung karena para suster “telah berdatangan dari seluruh dunia.”
Para suster yang menghadiri sidang umum itu sudah mulai kembali ke misi-misi mereka yang tersebar di seluruh penjuru dunia.