KOLKATA, India (UCAN) – Orang-orang yang bekerja sama dengan tarekat Misionaris Cinta Kasih (MC, Missionaries of Charity) menyambut baik terpilihnya Suster Mary Prema sebagai pemimpin baru tarekat yang dimulai oleh Beata Teresa dari Kolkata itu.
Suster Prema adalah “pilihan terbaik … untuk memberi visi dan arah,” kata Bruder Jesudas Mannuparambil, yang pernah menjadi superior jenderal Bruder-Bruder MC tahun 1998-2004.
Suster Prema itu “penuh pengertian, to the point, tidak banyak kompromi, dan sering lebih senang tidak dikenal,” katanya.
Biarawati asal Jerman berusia 57 tahun itu terpilih menjadi superior jenderal tarekat itu di akhir sebuah sidang umum pada 24 Maret. Dia menggantikan Suster Nirmala Joshi, yang mengganti Ibu Teresa tahun 1997.
Bruder Mannuparambil melukiskan Suster Nirmala sebagai “pribadi yang mempersatukan” bagi tarekat, tetapi Suster Prema adalah pribadi yang mampu “memajukan tarekat.”
“Suster Prema mengetahui tarekat itu dengan baik,” kata bruder itu.
Bruder itu menambahkan bahwa biarawati asal Jerman itu melakukan tugasnya dengan baik ketika menjadi superior regional di Eropa dan ketika menjadi direktur tertian di Kolkata, kota di India bagian timur tempat pusat tarekat itu. Tertianship adalah periode resmi terakhir dari pembinaan religius.
Suster Prema juga pernah menjadi penasehat MC yang berkarya bersama Suster Nirmala.
Pastor Albert Huart SJ, yang dulu pernah menjadi bapa pengakuan di pusat MC, mengatakan bahwa terpilihnya Suster Prema itu “baik dan harus” karena kesehatan Suster Nirmala memang kurang baik.
Suster Nirmala terpilih untuk ketiga kalinya dalam sidang umum itu, namun dia menolaknya karena masalah kesehatan. Untuk menjabat sebagai pemimpin tarekat itu untuk ketiga kalinya juga membutuhkan persetujuan paus karena konstitusi tarekat itu hanya membolehkan seseorang menjadi pemimpinnya selama dua periode masing-masing enam tahun.
Kontraktor bangunan Krishnendu Ghosh mengatakan, Suster Prema itu “bekerja keras dan berbicara lembut.” Dia menambahkan bahwa “Suster Prema hanya berbicara satu dua kata, dan akan melakukan tugasnya dengan tenang.”
Ghosh telah merenovasi sebuah rumah MC tempat Suster Prema menjadi superior tertian. “Suster Prema ini lembut sekaligus tegas,” katanya. “Dia sabar mendengarkan orang lain.”
Pastor Sunil Rozario, editor surat kabar mingguan Keuskupan Agung “The Herald,” mengatakan bahwa Suster Prema itu sangat tulus pada “kharisma yang diikutinya.”
Imam itu mewawancarai Suster Prema sehari setelah dia terpilih. “Dia rendah hati dan tidak berprasangka, tetapi menunjukkan kekuatan Allah,” katanya.
Pastor Rozario bercerita bagaimana Suster Prema mencari waktu luang untuk melayani ibu imam itu yang sudah tua ketika imam itu membawa ibunya untuk mengunjungi makam Beata Teresa di pusat MC. Imam itu mengatakan, dia sangat terkesan dengan “perhatian Suster Prema bagi orang yang sudah tua dan menderita.”