UCAN Philippines Catholic Church News
Sacred Space

INDIA – Misionaris Cinta Kasih Terus Berdoa untuk Misi Cina

30/03/2009

KOLKATA, India (UCAN) – Superior Jenderal Tarekat Misionaris Cinta Kasih (MC, Missionaries of Charity) yang baru terpilih mengatakan, tarekatnya masih menunggu tanda dari Allah untuk memenuhi impian yang belum terpenuhi dari pendirinya yaitu berkarya di Cina.

“Kami siap untuk pergi (ke Cina) sesegera mungkin,” kata Suster Mary Prema dalam sebuah konferensi pers pada 27 Maret, tiga hari setelah dia terpilih untuk memimpin tarekat religius yang didirikan oleh Beata Teresa dari Kolkata yang dimulai 62 tahun lalu itu. Sebelum wafatnya tahun 1997, Beata Teresa pernah mengatakan bahwa tidak bisa mengunjungi Cina merupakan penyesalannya yang terbesar.

Suster Prema mengatakan, para susternya “masih berdoa setiap hari kepada Allah” untuk membuka sebuah biara di Cina. “Allah akan melakukan itu pada waktu-Nya,” katanya. Tarekatnya, tambahnya, kini memiliki sekitar 4.950 suster yang ada di 766 biara di seluruh dunia, termasuk 246 di India.

Pada konferensi pers pertamanya, yang diadakan di pusat tarekat itu di Kolkata, India bagian timur, suster asal Jerman yang akan berusia 56 tahun pada 13 Mei itu menjawab sejumlah pertanyaan tentang isu-isu mulai dari aborsi hingga kekerasan terhadap umat Kristen di India. Dia juga berbicara tentang keluarganya dan panggilannya.

Suster Prema mengatakan “panggilan Yesus yang sangat jelas” mengilhaminya untuk bergabung dengan tarekat itu setelah dia mempelajari Ibu Teresa, sebagaimana menjadi acuan para suster MC, dalam “Something Beautiful for God,” biografi tentang Ibu Teresa yang ditulis oleh almarhum Malcolm Muggeridge, seorang penulis Inggris.

Suster Prema mengatakan, dia pertama kali bertemu dengan Ibu Teresa dalam sebuah pertemuan orang muda di Berlin tahun 1980 dan kemudian pada tahun itu juga terlibat dalam komunitas MC di Essen, Jerman. Dia mengatakan, dia sangat tertarik dengan cinta dan belas kasihan Ibu Teresa untuk berkarya bagi yang termiskin dari kaum papa.

Ketika ditanya bagaimana membawa visi Beata Teresa ke depan, Suster Prema mengatakan bahwa pemilihan dirinya merupakan “suatu kejutan besar” baginya. “Saya tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.”

Ibu Teresa, katanya, memimpin tarekat ini dengan semangat dan kharisma dari Allah, sementara Suster Nirmala Joshi, yang mengganti Ibu Teresa membangun tarekat ini selama 12 tahun dengan kreativitas dan kesucian. “Saya akan mengikuti mereka, dan Allah akan menunjukkan jalan dan kekuatan langkah demi langkah,” lanjutnya.

Suster Prema dilahirkan di Mechtilde Pierick di Reken, sebuah kota kecil di Westphalia, Jerman. Dia mengatakan bahwa orangtuanya adalah petani, dan kakak laki-laki dan saudari kembarnya telah menikah dan memiliki anak.

Tahun 1997, Suster Prema dipilih sebagai penasehat MC, dan pada bulan September tahun yang sama dia datang ke Kolkata untuk mengikuti pemakaman Ibu Teresa. Dia menjadi satu dari empat penasehat yang berkarya erat dengan Suster Nirmala selama 12 tahun dan menetap di India sejak tahun 2001.

Dalam sidang umum baru-baru ini, Suster Nirmala yang sudah dua kali menjabat sebagai pemimpin MC, menolak pemilihan untuk menduduki jabatan itu ketiga kalinya karena alasan kesehatan.

Pemilihan penggantinya dilakukan di depan Uskup Agung Calcutta Mgr Lucas Sircar pada 24 Maret. Suster Prema terpilih dalam pemilihan ketiga dengan jumlah suara dua pertiga mayoritas pada pemungutan suara pertama.

Pemimpin baru MC itu mengatakan bahwa dia menghabiskan hampir semua waktu di tahun-tahun awal dalam MC di Italia, tempat dia merawat orang-orang jalanan dan anak-anak buangan, membantu di dapur-dapur umum untuk menyediakan sup, dan melakukan tugas-tugas lain. Kemudian dia juga berkarya di Eropa barat daya dan Morocco.

Suster Prema mengatakan, yang pertama yang ingin dilakukannya sebagai superior jenderal adalah mempelajari tentang komunitas-komunitas MC dan karya mereka di berbagai tempat di India. Dia ingin mengunjungi sebanyak mungkin biara MC sedapatnya di negeri itu dalam masa tugasnya selama enam tahun.

Ketika ditanya tentang panggilan, Suster Prema mengatakan bahwa banyak perempuan masih ingin menjadi suster MC, namun tidak sebanyak seperti sebelumnya. Jumlahnya menurun mungkin karena jumlah anggota keluarga sekarang ini semakin kecil, katanya. Namun, MC masih memiliki jumlah panggilan yang baik dari Afrika, Filipina, dan Amerika Serikat.

Ketika ditanya tentang sikapnya mengenai aborsi, Suster Prema mengatakan: “Gereja belum berubah. … Kita mesti berkarya untuk menyelamatkan kehidupan dan martabat kehidupan.”

Ketika ditanya soal perpindahan agama, dia menegaskan bahwa setiap manusia memiliki hak untuk mempercayai apa yang diinginkannya dan dipahaminya sebagai kebenaran. Jika muncul panggilan untuk mengubah keyakinan, maka itu karya Allah, tegasnya.

Ketika diminta untuk mengomentari kekerasan terhadap umat Kristen di Negara Bagian Orissa di India, dia mengatakan, “Kita menderita karena apa yang dirasakan orang lain, kita berdoa dan memihak mereka yang dianiaya.” Tetapi ketika ditanya apakah dia akan mengikuti teladan Suster Nirmala dalam menghimbau perdamaian di wilayah-wilayah yang bermasalah di India, Suster Prema menjawab, “Allah harus sebelumnya mengilhami kita pada waktu yang tepat.”

Menjawab pertanyaan tentang apa yang dilakukan Suster Nirmala sekarang, Suster Prema mengatakan: “Dia akan selalu akan senantiasa menjadi senior dan terus membimbing dan menasehati kami, inspirasi yang sangat agung bagi kami semua.”

Suster Prema juga mengataklan bahwa Pastor Brian Kolodiejchuk MC, postulator untuk kanonisasi Beata Teresa, telah mengatakan kepadanya bahwa mujizat-mujizat yang terjadi dengan perantaraan pendiri MC sedang diselidiki. “Allah telah menetapkan waktu yang tepat untuk kanonisasi,” lanjutnya.

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. 1,6 juta anak Indonesia kekurangan gizi
  2. Anak yatim-piatu temukan rasa kekeluargaan
  3. Penutupan 17 gereja di Aceh dilaporkan ke Komnas HAM
  4. Presiden: Ciptakan kehidupan berbangsa tanpa kekerasan
  5. Ketegangan menyusul kekerasan
  6. Ziarah Santa Maria Fatima
  7. Peziarah Lourdes asal Indonesia alami kecelakaan, seorang meninggal
  8. Relawan muda bangun rumah untuk korban banjir
  9. Bangun masjid sebagai solusi terbaik kasus GKI Yasmin
  10. Dokumen tunjukkan bukti Yesus pernah ke Jepang
  1. Jemaat HKBP Filadelfia dilempari air got dan urine
  2. Ketegangan menyusul kekerasan
  3. Ribuan umat Kristiani berdoa bagi perdamaian
  4. Presiden: Ciptakan kehidupan berbangsa tanpa kekerasan
  5. Relawan muda bangun rumah untuk korban banjir
  6. Korban Sukhoi didoakan umat Katolik pada Hari Kenaikan
  7. Istri Bill Gates, seorang Katolik, dukung pengendalian kelahiran
  8. Ketua MPR bertemu pimpinan KWI dan PGI
  9. Ziarah Santa Maria Fatima
  10. Pemrotes anti-nuklir akhiri mogok makan
  1. Mungkin gedung sebaiknya dijual untuk klinik, apotik dll.   lalu cari tempat lai...
    Said Jenny Marisa on 2012-05-18 22:54:00
  2. Semoga Tuhan mengampuni mereka yang melakukan kekerasan.  ...
    Said Andreas Darmadi on 2012-05-18 15:00:00
  3. Dasar islam:( ga mampu bangun mesjid. Akhirnya merampok dgn terang2an, dgn memin...
    Said rampok atas nama agama (islam) on 2012-05-18 09:25:00
  4. Kementrian Agama takut di demo. titik...
    Said Yantosaputrayo on 2012-05-18 05:40:00
  5. Beribadah merupakan hak paling asasi karena itulah cara manusia berkomunikasi da...
    Said Johnynatu on 2012-05-18 05:33:00
  6. Ah, Percuma itu komnas HAM. Hanya macan ompong....
    Said Omar Sarif on 2012-05-17 21:28:00
  7. medan aceh deket bungg.... hati2 ...
    Said Gos_ban on 2012-05-17 19:36:00
  8. Biarkanlah semua yang dilakukan oleh manusia, Tuhan Yesus yang mempunyai kuasa a...
    Said Agus Howay on 2012-05-17 18:20:00
  9. Konflik Maluku tahun 2002-2004 dibuat oleh alat keamanan. Orang Maluku yang ahli...
    Said M Kusumahadi on 2012-05-17 09:27:00
  10. Sulit berkomentar jika ada kelompok2 yang mau benarnya sendiri, mau menangnya se...
    Said M Kusumahadi on 2012-05-17 09:21:00