HONG KONG (UCAN) – Uskup Zhengding Mgr Julius Jia Zhiguo, 74, diciduk dari kediamannya di Propinsi Hebei pada 30 Maret, hari Komisi Cina di Vatikan memulai sidangnya di Roma.
Sumber-sumber Gereja Cina mengatakan, lima polisi mengambil Uskup Jia, yang tidak berafiliasi dengan komunitas Gereja “terbuka” yang diakui pemerintah, dari Katedral Kristus Raja di Wuqiu, sebuah desa dekat Shijiazhuang, ibukota propinsi itu.
Komisi Vatikan itu mengadakan sidang pleno keduanya dari 30 Maret hingga 1 April di Roma. Paus Benediktus XVI membentuk komisi itu tahun 2007 untuk mempelajari isu-isu terkait dengan Gereja di Cina.
Sebuah sumber Katolik mengatakan, para pejabat pemerintah daerah di wilayah Shijiazhuang “ingin bertemu dengan Uskup Jia, dan prelatus tidak akan berada di kediamannya untuk beberapa hari.”
Beberapa sumber mengatakan, mereka yakin bahwa aksi itu terkait dengan sebuah langkah belakangan ini untuk rekonsiliasi antara komunitas Gereja “terbuka” dengan komunitas Gereja “bawah tanah” di keuskupan itu.
Tahun lalu, Uskup Shijiazhuang Mgr Paul Jiang Taoran, yang ditahbiskan sebagai uskup tanpa persetujuan paus, berekonsiliasi dengan Takhta Suci dan kini menerima kepemimpinan Uskup Jia sebagai pemimpin keuskupan itu.
Sumber-sumber mengatakan, pemerintah menolak “intervensi luar” dalam urusan Gereja Cina dan menegaskan bahwa persatuan dalam Gereja di Cina hendaknya dicapai melalui instruksi dan pedoman pemerintah.
Mereka menambahkan bahwa pemerintah berencana memperoleh seorang uskup baru dalam enam bulan ke depan dan mempensiunkan kedua uskup sekarang ini. Namun, Uskup Jia menegaskan bahwa hanya paus yang memiliki wewenang untuk mengangkat para uskup, kata mereka.
Sumber-sumber juga mengutip perkataan Uskup Jia bahwa dia dan 150.000 umat Katolik Keuskupan Zhengding akan terus mengikuti himbauan paus untuk persatuan antara komunitas Gereja terbuka dengan komunitas Gereja bawah tanah, sekalipun itu berarti bahwa Uskup Jia akan dipenjarakan dan kembali menderita penganiayaan.
Prelatus itu berikrar untuk mengikuti instruksi yang diberikan paus dalam suratnya tahun 2007 kepada segenap umat Katolik di Cina, kata mereka. Mereka mengutip perkataan uskup itu bahwa dia bersedia menderita “di penjara dan berkorban demi kebaikan Gereja Kristus, demi Keuskupan Zhengding, serta demi para klerus dan kawanan umatnya.”
Uskup Jia telah mengantisipasi bahwa dia akan diciduk kapan saja saat komisi Gereja Cina itu bersidang, kata sebuah sumber.
Tahun lalu, pemerintah menahan uskup lanjut usia itu dari 14 Agustus, hari penutupan Pertandingan Olimpiade Beijing 2008, hingga 18 September, sehari setelah berakhir Paralympics Games yang juga diselenggarakan di Beijing.
Setelah dilepaskan, keketatan pengamatan terhadap dirinya berkurang untuk beberapa saat, namun diperketat kembali sejak awal Maret, kata sumber-sumber Gereja.
Uskup itu ditahan beberapa kali di masa lampau.
Sementara itu, vikjen dan sejumlah imam Keuskupan Zhengding berada dalam pengamatan 24 jam sejak Uskup Jia di ciduk, kata mereka.