JAKARTA (UCAN) – Umat Katolik yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya mulai menggalang bantuan hanya beberapa jam setelah banjir dahyat akibat jebolnya tanggul penahan air dekat kota itu, yang menewaskan sekitar 100 orang.
Di pagi subuh 27 Maret, tanggul Situ Gintung, sebuah danau seluas 21 hektare di Cirendeu, Ciputat, barat Jakarta, jebol setelah enam jam hujan lebat. Banjir bercampur lumpur itu menyapu 300 rumah, mengakibatkan lebih dari 1.000 orang kehilangan tempat tinggal dan ratusan lain luka-luka, serta lebih dari 100 orang masih hilang.
Anastasia Sri Sugesti dari Paroki St. Nikodemus, keuskupan agung Jakarta, yang melayani daerah yang dihantam oleh bencana itu, memberikan rumahnya sebagai posko bantuan sejak 27 Maret pagi beberapa jam setelah banjir itu.
“Posko itu dibuka atas insiatif saya dan sejumlah ibu di lingkungan ini, dan didukung oleh pastor paroki. Kini tempat ini dijadikan posko paroki,” kata wanita itu, kepada UCA News 29 Maret.
Sugesti mengatakan bahwa hanya satu keluarga Katolik yang rumahnya rusak diterjang banjir, dan keluarganya telah menyelamatkan diri sebelum banjir itu datang.
Posko bantuan itu melibatkan relawan lain termasuk warga Muslim. Mereka membagikan sembako, pakaian, selimut, odol, sikat gigi, obat-obatan, handuk, air bersih, sandal, tenda, sepatu boot untuk para relawan, dan kain kavan. ”Setiap hari kami mendistribusikan nasi dan lauk 400-500 bungkus terutama diberikan kepada para relawan yang bekerja membersihkan sampah dan mencari mayat,” katanya.
Wanita itu menambahkan bahwa keuskupan agung Jakarta, paroki-paroki, Wanita Katolik Republik Indonesia, dan individu-individu menyalurkan bantuan.
Neneng, seorang wanita Muslim yang selamat, berbagi pengalaman keluarganya akibat bencana itu. “Tidak lama orang berteriak, tanggul jebol, tanggul jebol, banjir, banjir! Lalu saya bangunkan suami, anak, dan menggendong cucu perempuanku berusia 2 tahun. Kami lari ke belakang rumahku karena tempatnya tinggi,” katanya. “Tidak lama saya melihat rumahku sudah tertutup banjir dan lumpur, dengan ketinggian sekitar 10 meter.”
“Meski hati saya sedih dan masih trauma namun Allah masih menyelamatkan saya dan keluargaku,” kata Neneng, yang rumahnya hanya 500 meter dari danau itu.
Sejak 28 Maret, sebuah tim delapan orang yang terdiri dari dokter, perawat dan bidan dari Rumah Sakit Sint Carolus bekerja sama dengan Lembaga Daya Dharma keuskupan agung Jakarta memberikan pengobatan gratis. Seorang tokoh Muslim setempat memberikan rumahnya untuk tim itu sebagai tempat pelayanan mereka.
Seorang staf dari Pusat Krisis dan Rekonsiliasi Konferensi Waligereja Indonesia mengatakan pusat itu menyalurkan kasur dan selimut kepada warga yang kehilangan rumah mereka.
Pastor Alfonsus Setya Gunawan, kepala Paroki St. Nikodemus, memuji umat parokinya atas usaha mereka membantu para korban banjir itu. “Ini mencerminkan fondasi iman umat sangat kuat sehingga mereka segera membantu tanpa melihat latar belakang,” katanya. Imam itu juga memuji orang muda Muslim dan Katolik yang bekerja sama membantu para korban.
Posko bantuan Gereja itu adalah satu dari puluhan posko yang dibangun, yang kebanyakan dari organisasi Islam dan partai politik.
Pastor Gunawan mengatakan bahwa semua orang perlu memikirkan tentang program jangka panjang untuk membantu para korban yang rumahnya hancur. Ke depan yang mereka butuhkan adalah “membangun kembali rumah mereka dan memulihkan kembali mereka dari pengalaman yang traumatis,” katanya.
Warga yang kehilangan rumah kini sedang mengungsi di berbagai tempat termasuk sekolah-sekolah dan kompleks perumahan.
Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan Menteri Pekerjaan Umum untuk merelokasi warga yang kehilangan tempat tinggal dan memperbaiki tanggul itu, yang dibangun tahun 1930-an oleh pemerintahan kolonial Belanda.